Peraturan Dibuat Untuk…

Standard

DILANGGAR!!

Seandainya dulu kalian menjalani kehidupan SMA circa 1990-2000 an, pasti sering mendengar itu. Belum lagi kalau ada yang ngomong, “Nyontek itu nggak apa-apa yang penting jangan ketauan”. Ditambah lagi kalau ada yang bilang, “Yang penting naik kelas”.

Meskipun saya bukan salah satu pelaku (bukan nyombong yah, tapi catatan akademis saya bersih dari contek mencontek), saya masih bisa ikut tertawa dengan teman-teman saya yang mengatakan hal tersebut. Tapi entah kenapa saya sekarang tidak bisa tertawa lagi mendengar hal semacam itu, karena buat saya itu sekarang terdengar mengenaskan. Bagaimana tidak mengenaskan?

Bayangkan saja, kalau generasi SMA saja sudah bisa ‘kreatif’ dengan cara seperti itu, mau jadi apa saat mereka mendapat tanggung jawab ‘memimpin’?

Saya percaya bahwa karakter itu dibentuk sejak seseorang masih muda. Dibentuk melalui kebiasaan-kebiasaan yang ditanamkan sejak mereka masih kecil. Kesalahan institusi pendidikan kita dulu adalah sistem yang membuat siswa menjadi ‘goal oriented’ sehingga menghalalkan segala cara. Itu sebabnya akhirnya sekolah-sekolah tersebut mencetak siswa dengan karakter yang ‘goal oriented’ pula.

Bayangkan, apabila sejak kecil (dengan asumsi, kini anak SMP dan SD juga menerapkan pola pikir yang sama, karena anak-anak sekarang kan memang berkembang terlalu cepat) mereka sudah berpikir bahwa mencontek itu tidak apa-apa kalau tidak ketahuan. Bayangkan kalau mereka sudah ‘mempercayai’ bahwa peraturan itu ada untuk dilanggar. Bayangkan kalau mereka meyakini bahwa untuk suatu tujuan, maka segala cara boleh dihalalkan.

Saya sudah ketakutan duluan, karena saya membayangkan suatu hari saat mereka dewasa dan memiliki kedudukan di masyarakat mereka akan mengatakan bahwa, “Undang-undang kan memang dibuat untuk dilanggar”. Atau mungkin mereka akan dengan santainya mengatakan, “Lho… korupsi itu nggak apa-apa kok… yang penting jangan sampai ketauan”. Atau tiba-tiba mereka berkata, “yah, namanya juga usaha. Kalau perlu nyogok sana sini lah yang penting proyeknya bisa goal”.

Saya tidak tahu siapa yang seharusnya disalahkan kalau misalnya terbentuk mentalitas bangsa yang seperti itu. Bukannya saya tiba-tiba sok nasionalis, karena saya memang nasionalis dari sananya. Itu semua gara-gara saya mangpir ke salah satu blog yang mengatakan bahwa mencontek itu adalah salah satu bentuk kreatifitas. KREATIVITAS GUNDULMU.

Jangan dikira perbuatan kecil semasa SMA tidak akan mempengaruhi sifat dan karakteristik seseorang di masa yang akan datang. Bahkan kebiasaan kecil yang dilakukan anak SD saja bisa mempengaruhi kelakuannya di saat mereka dewasa nanti.

Saya miris melihat anak ini mengatakan hal tersebut seolah bangga menjadi bangsa yang ‘kreatif’. Di saat semua orang di dunia memulai dengan adu intelegensi, yang ini… dan ‘katanya’ teman-temannya, akan beradu ‘kreatifitas’ untuk mencari tahu yang mana yang lebih berbakat jadi calon kriminal masa depan.

Katakanlah saya lebay.

Katakanlah saya sedang melebih-lebihkan.

Kalian boleh tidak percaya bahwa “kebiasaan mencontek saat SMA” bisa membentuk “Koruptor di masa depan”. Tapi satu yang saya tahu, semua kebiasaan buruk dimulai dari ‘usaha kecil-kecilan’ yang sukses dilakukan. Dan itulah sebabnya orang tua saya selalu mengajarkan pada saya untuk tidak pernah memulai melakukan hal buruk. Karena sekali berhasil, maka tidak mudah untuk menghentikannya.

Bagi orang tua saya, lebih baik saya tidak naik kelas kalau saya memang tidak mampu untuk naik kelas, daripada saya naik kelas dengan nyontek kanan kiri dan nyogok guru wali kelas. Bagi orang tua saya lebih baik kerja banting tulang dan kena typhus daripada nyolong atau jual diri. Tidak ada alasan untuk membenarkan sesuatu yang salah.

Saya memang tidak percaya Tuhan dan tidak percaya dosa, bagi saya pemahaman ini sangat mudah, tanpa harus dicampuradukkan dengan agama. Kalau ada di antara kalian yang ingin memasukkan nilai-nilai itu untuk diri kalian sendiri ya tidak apa-apa, saya tidak melarang. Tapi inilah pemikiran sederhana seorang Bybyq: “Manusia diberikan kemampuan untuk membedakan benar dan salah, maka tidak perlu mencari pembenaran untuk sebuah kesalahan.”

Advertisements

11 responses

  1. Fed up with getting low amounts of useless visitors for your site? Well i wish to inform you of a brand new underground tactic that produces myself $900 on a daily basis on 100% AUTOPILOT. I really could be here all day and going into detail but why dont you just check their site out? There is really a excellent video that explains everything. So if your serious about making effortless hard cash this is the site for you. Auto Traffic Avalanche

    Like

  2. aduh… gimana yah?? gw beneran generasi penyontek nih :))
    tapi gw berasa gw sukses2 aje, gw berhasil2 aje bersaing, malah gw selalu nya berpikir lebih pinter dari bulek2 sok pinter HIHIHI

    jadi… nyontek itu gak se-simple urusan, copy mengcopy dan itu hukum nya potong tangan nya HIHIHI
    menurut gw, gw cukup netral di urusan contek menyontek, gak murni suci2 amat…. karena kadang2 gw kesel, gw tau logic nya, tapi lupa formula/rumus nya doang, masa gw harus gak lulus gara2 sok2 pegang prinsip, otak gw walaupun 5 tetep aje kebanyakan memproses tokai2 gak jelas :))))
    sering nya lagi, abis gw nyontek, alias gw ingat kembali formula nya abis tanya kiri kanan, lalu, gw selesaikan kertas gw, lalu gw bagi2kan lah hasil itung2an gw HIHIHI… jadi mutualisme duong 😛

    intinya sih yah… apa motivasi org nyontek, kalo org yg beneran non motivated, alias hidupnya kepengen nya bergantung sama org lain aje, yah kalo dia laki2, suruh dia operasi jadi perempuan aje, biar bisa jadi ibu rumah tangga, kalo perempuan yah timbang suruh dia kawin di kampung, jadi murni bergantung sama suami wae :)))

    gw sering nyontek, sering juga memberikan contekan, tapi gw jenius2 aje tuh HAHAHA…
    dan seriously, sampe detik ini gak ada sekalipun gw berasa berdosa sama perbuatan menyontek gw, sapa suruh pendidik indo itu suka gilak dan reseh, di luar negeri, gak ada tau guru yg suruh hapal formula, di sd aje gak ada guru yg suruh hapal perkalian, tapi diajarin logika perkalian dan logika bagaimana rumus itu di turunkan, jadi nya gak usah main hapalan, tapi main logika penurunan, makanya gw nyontek, sapa suruh tuh guru suruh gw hapal, gw kan malas hapal2 gak penting, wong gw belajar nya sistem kebut semalam, itu plus kadang2 sistem kebut 1 jam di sekolah/kampus sebelum test di mulai, gw cuman pelajarin logika nya, rumus nya sih timbang di kaligrafi di meja tulis, kadang2 suruh pindah posisi duduk, meja gw, gw bawa dong… udah cape2 gw kaligrafi HAHAHAHA….

    tapi kan gw gak bergantung 100% pada nyontek, gw cuman kaligrafi yg gak perlu di hapal doang HIHIHI…. misalkan pelajaran sejarah, ato hapal kapan si teuku umar menyerang diponegoro (gak nyambung)…. haduh… mending tanya gw kapan kakek dan nenek gw married-an, gw aje gak tau itu kapan HIHIHI….

    jadi gw mendukung menyontek, kalo pelajaran nya menjijaekan seperti pancasila, sejarah, ppkn, moral bangsa (jiah.. bangsa bermoral kayak apa yah??)
    karna pelajaran itu hanya bikin penuh prosesor dan gak perlu bangettttttttttttttttttttttttt di sekolah kannnnnnnnnnnnnnn

    Like

    • Kalo sistem pendidikan-nya salah, gwe juga udah tau. Lalu kalo sistemnya yang salah, bukan berarti yang salah jadi bener.

      Two wrongs don’t make a right. Gwe yakin dengan kemampuan logika dan analisa Suhu Epen yang tajam dan terpercaya, pasti bisa dong ngerti kata-kata itu. Kalo ga bisa, boleh NYONTEK google…

      “nyontek” nggak salah apa-apa sama gwe, tapi gwe berhutang banyak sama “pendidikan”, jadi gwe lakukan apa yang harus gwe lakukan, kenapa nggak?

      Lagipula entah kenapa yang diangkat cuma soal contek menyontek, farrel dan Soe jelas melihatnya dari sisi yang lain. Mosok suhu Epen nggak bisa lihat ini lebih dari sekedar urusan contek mencontek?

      Like

  3. see…. kek yg say bilang di “menciptakan generasi penipu”. Pra sekolah belajar cara menipu bersama ortu. SMU belajar menghalal kan segala cara bersama sistem pendidikan. Kuliah belajar cara efektif menjadi multitasking bersama dosen yang nyambi proyek-an sehingga jarang masuk kelas. Masuk dunia kerja……siap menjalan kan aliran gayuism dengan efektif. OK ok ok… gw cuma sekedar lebay-pesimist-sinis

    Like

  4. peraturan dibuat untuk dilanggar… hmmmhhh… gw jg ga setuju dengan pendapat itu. mungkin yg lebih tepat adalah: “karena ada peraturan, maka ada pelanggaran”. gw juga termasuk yg anti mencontek. betul kata bybyq: semua kembali kepada hati nurani dan mentalitas seseorang. kejujuran itu dimulai dr hal kecil. kl hal-hal kecil aja sudah ga bisa jujur, apalagi dalam hal-hal yang besar? kalo pada awalnya menganggap remeh mencontek, ga mengherankan juga kalo kelak dewasa menjadi plagiator, koruptor, main kotor dll.

    Like

    • Nah itu tuh… plagiator juga salah satu contoh… “copy paste ga papa, asal ga ketauan, ganti aja font nya…” sering banget gwe denger di kampus. Ga heran banyak lagu2 indonesia mirip2 sama lagu di luar… kreativitasnya dipake buat “mengubah”, bukan “menggubah”.
      Thanks Farrel… a really good insight

      Like

  5. Anak2 yg smasa sekolah tidak membudayakan mencotek, umumnya dpt meraih cita2 yg dia inginkan, karna dia sanggup berkompetensi di bidang tsb.
    Tulisan yg bgs byq. Yujin likes this!!

    Like

    • Nah! Itulah yang gwe maksud, Jin!
      Anak-anak sekarang tuh suka membuat pembenaran-pembenaran. Dikira kalau pinter bikin alesan, bisa membelokkan yang salah jadi bener.

      Like