Peraturan Dibuat Untuk… (2)

Standard

Waiiit…

Saya harap tidak ada yang tiba-tiba melihat saya sebagai orang suci karena entry saya sebelumnya. Apalagi, ada yang menganggap saya ngesok membuat tulisan semacam itu. Sori ye… sebelom yang berasa cuap-cuap, saya bikin dulu tulisan lanjutan, berhubung yang kemarin masih berakhir menggantung. (menggantung karena sebenarnya saya masih ingin menulis banyak, cuman udah ngantuk kemarin…)

Kesalahan itu manusiawi. Tidak ada gading yang tak retak, semua orang pasti juga pernah melakukan kesalahan. Termasuk ya si Bybyq ini.

Saya mengerti bahwa human error itu tidak bisa dihindari, dan bahwa kadang kala kelalaian kecil bisa terjadi (manusia itu makhluk yang kompleks, toh?). Saya juga memahami adanya technical error, di mana beberapa kecelakaan terjadi di luar kendali manusia. Tapi ada satu faktor yang membedakan antara kecelakaan-kecelakaan ini dengan apa yang saya bahas sebelumnya.

Faktor “Niat”.

Yang membedakan kesalahan yang disengaja dan kesalahan yang tidak disengaja tentu adalah niatnya.

Peraturan dibuat untuk melindungi beberapa pihak merasa dirugikan. Peraturan dibuat agar mereka yang memimpin dapat berlaku adil kepada pengikutnya, dan pengikutnya dapat dengan mudah melaksanakan apa yang menjadi tugas-tugas mereka. Saya bukan ahli tata negara, saya tidak akan menyinggung apa pun yang menyentuh ranah undang-undang. Saya hanya menyimpulkan sendiri, dengan logika saya yang terbatas tentunya…

Peraturan dibuat untuk menciptakan order. Apabila terjadi pelanggaran terhadap suatu peraturan, maka terjadi non-order. Apa yang terjadi bila lebih banyak orang melakukan pelanggaran daripada mereka yang mematuhi peraturan? Chaos.

Setiap satu pelanggaran terjadi, maka sedikitnya ada satu orang di pihak lain yang dirugikan. Mungkin bahkan pada contoh sederhana, yang tidak kita sadari sedikitpun.

Kegiatan contek mencontek. Siapa yang dirugikan? Yang pertama yang rugi pasti yang memberikan contekan, belajar susah-susah, orang lain yang menikmati hasilnya. Yang kedua tentu saja yang mencontek, sekolah bayar mahal-mahal tidak dapat ilmu apapun. Tapi yang tidak disadari, ada pihak di luar mereka yang juga rugi, kesempatan yang lain untuk dapat melakukan kompetensi yang sehat pun dirampas dengan kecurangan semacam ini.

Apa lagi?

Saya percaya banyak yang mendebat kata-kata saya tadi, beberapa debat kritis yang masih bisa saya terima, namun saya yakin akan banyak debat kusir anak SMA yang tidak berdasar, dan mengatakan:

1. Mencontek. Siapa bilang sekolah mahal-mahal ga dapet ilmu apa-apa? Tuh buktinya dapet ilmu kreatif.

Jawban saya: Yea yea yea. Sak karepmu nduk. Bodoh kok ngajak-ngajak…

2. Mencontek. Itu kan simbiosis mutualisme.

Jawaban saya: (sekali lagi) Kalau mau bodoh, nggak usah ngajak orang lain… Bodoh aja sendiri.

Saya tidak pernah setuju dengan tindakan pelanggaran dengan sengaja seperti itu. Bukannya saya tidak pernah melakukan juga. Saya juga pernah ‘berdamai’ dengan pak polisi. Saya juga masih beli DVD bajakan. Saya juga masih download lagu gratisan. Saya juga tahu ada yang dirugikan dengan tindakan saya itu  kok, dan saya mendapatkan keuntungan juga dari situ. Tapi setidaknya, sekarang selama saya masih berusaha untuk memperbaiki, setidaknya saya sudah tahu di mana salahnya saya.

I don’t want to be judgmental.

Karena memang pada awalnya tujuan saya menulis ini bukan untuk menghakimi siapapun, kecuali mereka yang geer dan merasa sedang dibicarakan. Bagi saya menulis hal-hal kontemplatif semacam ini adalah salah satu cara untuk saya untuk bercermin sendiri (ref: teori looking glass self) melalui fenomena-fenomena yang ada di luaran sana.

Saya yakin pembaca-pembaca saya yang berintelegensia tinggi, dan merupakan pemikir-pemikir kritis ini tidak akan berlaku seperti abege labil yang kebingungan arah hanya karena tulisan singkat saya ini. Sekali lagi, tidak ada pembenaran yang bisa membuat “salah” menjadi “benar”.

Advertisements

6 responses

  1. ah… cape2 bikin part.2 tetep aje urusan nyontek… dosa apa sih sih contek sama elo???
    gw dukung penyontek… HIDUP CONTEKKKKK!!!!!!!!! karena dari awal nya udah salah, kenapa juga maksa2 org hapal sejarah gak penting, kapan si anu di serang si ano, ih… emang gw pikirin?? nenek moyang situ mau brantem2an, gw kagak mau tauuuuuuu…. gw mau tau nya… kapan duit gw di bank bertambah dgn cepatzzzz….

    dan you know… hanya scholar2 miskin macam kita aje yg suka mikirin peraturan, soale konglomerat2 seperti si rambut singa trump, mana pake2 peraturan, dia akan hire ratusan lawyer buat bend a single rule just for himself, karena dia punya duit, duit = kuasa, kuasa = kebal hukum, kebal hukum = i can do what i want and rules are just for loser…. geto eneng……

    hidup bukan cuman black and white, makanya sering2 deh main2 ke taman yg banyak bunga nya, jgan cuman mainan internet, tar jadi buta warna loh :)….
    mana mainan internet baca nya yg bikin diri sendiri esmoci melulu, baca blog gw aje, tar kan ketawa2 dan gilak gak jelas HIHIHIHI…..

    jadi eneng… konteksnya benar…. approach nya salah :))
    membuat org ssadar hukum ato gak nyontek, prinsipnya sederhana…. buat dulu mereka mengerti hukum itu untuk melindungi mereka juga, hukum itu untuk kebaikan mereka juga, kalo rampok gak di hukum, yah semua org bakal merampok bukan???? tapi kalo semua org merampok, gw tetep gak mau merampok ah… gw takut sama hukum karma (jiah… jijik banget gak bahasa gw HAHAHAHA)

    kalo motivasi nya bisa di benerin, otomatis kelakuan nya berubah sendiri,
    (seperti gw contohnya, semua org merampok gw tetep gak mau merampok, karena gw tau merampok gak cocok dgn hukum karma… apaaannnn seeeyyy hihihi)

    gak usah pake cape cuap2 dgn plus marah2 org juga berubah sendiri, makanya approach menasehati nya itu di tuker geto… jangan marah2 ah… gaya2 sok2 ibu guru geto…… ih… gw benci ibu guru, suka jahattttttttttttttttttttttt

    Like

    • eh komennya sama di sini… “contek” ga dosa apa-apa sama gwe tapi gwe punya utang sama “pendidikan”

      dan iyah, suatu hari gwe akan jadi guru, atau mungkin dosen… intinya kalo bisa one day gwe akan kerja di dunia pendidikan, why not?

      by the way, kalo mau duit di rekening bank cepet banyak ada beberapa saran:
      1. jadi pegawai kantor pajak (lihat: Gayus)
      2. jadi politisi (btw, kayanya situ punya bakat)

      Like

  2. sadar atau enggak kita secara langsung emang terimbas oleh budaya bangsa kita byq..
    bajakan,lagugratisan itu karena kita semua orang Indonesia yang bangga dengan semboyan Indonesia adalah negara agraris, bukan hanya sawah yang dibajak, semua dibajak!!
    Mencontek juga begitu, hanya anak kls 5SD ke bawah yang masih bisa dibilang murni dalam ujian, klas 6-klas1 smp, mereka baru tau namanya nyontek n mulai nyoba2, klas 2-3SMP mereka mulai mengembangkan trik nyontek itu, SMA -Kuliah mereka anggap sebagai hal yang udah biasa, makin banyak triknya..
    bener katamu setidaknya kita sekarang masih berusaha memperbaiki

    #EHGUENGEBLOGAPAKOMENSEEEEEH
    sorry kepanjangan

    Like

    • panjang? Lihat dong komen di bawahmu… dua kali lipat panjang komenmu lho…

      Hahahah…

      Monggo silaken, komen di superbyq boleh superpanjang kok

      Like

  3. kalo boleh gw simpulkan: kenapa orang mencontek? karena mereka lebih suka jalan pintas, suka cara” mudah, tidak bikin lelah, dan tidak bikin susah… padahal tujuan terpenting dari sekolah bukanlah NILAI, tapi PROSES pencapaian nilai itu sendiri, yaitu BELAJAR.

    Like

    • exactly…
      itu kenapa banyak yang mau jd politician, untuk mencapai sesuatu, maka segala cara dihalalkan, karena bukan prosesnya yang mereka cari…

      Like