Monthly Archives: August 2010

Killing Porn

Standard

Sudah beberapa hari nggak nulis blog (setelah beberapa hari pake scheduled blog), akhirnya saya berkesempatan untuk menulis lagi. Tentu saja, saya tidak tiba-tiba saja kesambet pengen nulis seperti Stu kesambet treadmill, tapi karena saya habis liat berita tentang Ariel-Cut Tari.

Again??!

Sejak kapan seorang Bybyq mengurusi masalah-masalah keduniawian seperti skandal seks artis?

Tentu saja, saya tidak mengurusi skandal-skandal semacam itu. Biarlah itu menjadi tanggung jawab infotainment untuk mengulas, menyebarkan dan memblow upnya. Saya hanya mengurusi masalah sosial yang muncul dari skandal-skandal semacam itu di masyarakat. Kenapa saya kepo? Karena tentunya, saya masih bagian dari masyarakat toh?

Read the rest of this entry

Serang! Tutup! Hancurkan!

Standard

Perlukah?

Menjelang Ramadan, banyak usaha yang bergerak di bidang hiburan malam mengalami nasib buruk. Bukan cuma buruk, tapi juga apes! Banyak warung remang-remang, ditutup, bahkan dibongkar dan dihancurkan oleh Satpol PP. Pertanyaan saya hanya satu. Perlukah?

Bukannya saya tidak memahami tujuan baik dari tindakan ini, yaitu untuk menghormati bulan Ramadan, dan juga untuk menjaga kekhusyukan mereka yang menjalankan ibadah puasa. Tapi entah mengapa, alasan ini memunculkan dua pertanyaan yang mengganjal pada diri saya.

1. Perlukah mengorbankan orang kecil?

Di layar kaca saya melihat seorang ibu-ibu pemilik warung remang-remang pingsan saat melihat warungnya dibongkar dan dibakar. Warung itu terbuat dari dinding anyam dan bahkan dipan-nya pun terbuat dari anyaman bambu. Pastinya, ibu itu bukan orang kaya. Untuk membangun warungnya saja mungkin dia sudah menginvestasikan seluruh uang yang dimilikinya. Dan mungkin, warungnya itu adalah satu-satunya sumber penghasilannya.

Perlukah, membuat seseorang kehilangan seluruh penghidupannya? Mau menyalahkan ibu itu karena mencari uang dengan cara asusila? Siapa yang akan membiayai kehidupannya nanti? Bagaimana kalau ibu itu punya anak yang harus diberi makan dan disekolahkan?

Perlukah penertiban ini mengorbankan kehidupan seseorang seperti itu?

Kok saya merasa hal seperti ini tidak adil buat si ibu ini. Bagaimana bulan ini bisa menjadi bulan yang penuh berkah kalau awalannya saja sudah dimulai dengan kekerasan kepada seorang perempuan seperti ini?

Salahkah saya berpikir demikian?

2. Perlukah penertiban seperti ini?

Katakanlah ini hanyalah persepsi saya tentang berpuasa. Saya dengar dari teman-teman yang melakukan puasa, bahwa puasa itu sebenarnya adalah tindakan menahan diri. Melakukan kontrol kepada diri sendiri, ditunjukkan pada kemampuan mengontrol lahir dan batin. Benar tidak sih?

Kalau memang benar masa puasa adalah masa menahan diri, maka bukankah itu semestinya menjadi tanggung jawab pribadi untuk menahan diri? Saya yakin bahwa mereka yang berpuasa dengan benar tidak akan terpengaruh meskipun masuk ke rumah bordil sekalipun, karena mereka mampu menahan dirinya. Saya percaya mereka yang berpuasa dengan benar tidak akan kepengen sedikitpun meskipun ditawari makanan enak di hadapan mata.

Benar tidak sih?

Kalau benar begitu, perlukah pemerintah ikut campur dalam urusan pribadi manusia dan Tuhannya dengan cara melakukan penertiban di luar sana? Bukankah penertiban yang dilakukan itu sama saja memandang rendah mereka yang menjalankan puasa, karena menganggap mereka tidak mampu menahan diri kalau disodori hal-hal duniawi begitu.

Ataukah logika saya yang salah?

Saya minta maaf kalau misalnya entry kali ini membuat beberapa pihak menjadi tersinggung. Saya tidak sedang berusaha menyerang siapapun, karena tidak ada ruginya juga bagi saya penutupan-penutupan itu. Saya juga tidak sedang menyebarkan propaganda, karena tidak ada untungnya juga bagi saya memikirkan ini. Mungkin saya hanya ingin bertanya. Karena logika saya tergelitik.

Mungkin ada yang bersedia menjawab dengan analisa?

A Golden Cage

Standard

Beberapa hari terakhir di kampus memang lain dari biasanya. Yang biasanya penuh dengan mahasiswa, sekarang berhubung hari libur, penuh dengan calon mahasiswa dan ibu-ibu.

Memang ada sedikit hal yang berbeda di kampus ini dibandingkan di kampus yang lain. Kalau di kampus lain, mungkin kebanyakan mahasiswanya datang secara mandiri kekampus, atau pergi berombongan dengan teman-temannya, tapi di kampus saya ini semua dilakukan oleh ibunya. Bisa jadi hal ini disebabkan banyaknya mahasiswa pendatang dari luar Jakarta, membuat si Ibu menjadi khawatir melepaskan anaknya. Saya masih sedikit bisa memaklumi bahwa mahasiswa baru membutuhkan kehadiran sang Ibu.

Saya jadi ingat…

Read the rest of this entry

Kebijakan Kampus, Kebijaksanaan Dosen

Standard

Ealah Byq… Byq…

Udahl ama nggak posting, sekalinya muncul kok mengeluh wae. Harap maklum adanya, namanya juga mahasiswa ‘hampir’ lulus dan masih dikejar revisi. Tapi kali ini, saya berharap entry ini tidak hanya menjadi keluh kesah seorang mahasiswa saja, tapi juga masukan buat pembaca yang kebetulan berprofesi sebagai pengajar, atau bekerja di lingkungan pendidikan.

Mari?

Yuuk…

Read the rest of this entry

Tante Ga Bisa Antri, Pepita Jadi Korban Kekerasan

Standard

Well, saya tidak tahu bagaimana cara membuat headline yang bisa membuat berita ini ter-blow up, tapi saya berharap berita yang membuat saya mau tidak mau menulis blog dengan jempol ini dapat membuka mata hati saudara-saudara sekalian. Hari ini pepita mengalami kecelakaan, dan menderita luka-luka ringan di sekujur tubuhnya. Saya berencana untuk sesegera mungkin membawa yang bersangkutan ke rumah sakit terdekat, supaya pepita dapat segera pulih seperti semula.

Sangat disesalkan, sifat plegmatis saya membuat saya malas memperpanjang masalah ini. Seandainya saya mau, saya yakin saya bisa membuat masalah ini berlarut-larut karena saya yakin ini bukan salah saya. Intinya, ini salah tante-tante yang tidak sabar mengantri hingga mobilnya menyerempet pepita, beberapa menit yang lalu.

Read the rest of this entry