Kebijakan Kampus, Kebijaksanaan Dosen

Standard

Ealah Byq… Byq…

Udahl ama nggak posting, sekalinya muncul kok mengeluh wae. Harap maklum adanya, namanya juga mahasiswa ‘hampir’ lulus dan masih dikejar revisi. Tapi kali ini, saya berharap entry ini tidak hanya menjadi keluh kesah seorang mahasiswa saja, tapi juga masukan buat pembaca yang kebetulan berprofesi sebagai pengajar, atau bekerja di lingkungan pendidikan.

Mari?

Yuuk…

Semua bermula dari keputusan penguji di ruang sidang, bahwa saya diputuskan LULUS skripsi. *menerima ucapan selamat dari semua orang* *berterimakasih dengan sungguh-sungguh* Dan, dimulailah minggu neraka di mana saya harus menyelesaikan revisi, dari seorang dosen yang menurut AK adalah dosen yang bisa mengubah iman seseorang dengan tingkat kenyolotan yang tinggi. Baiklah, saya mengakui bahwa dosen ini agak berlebihan…

Saya tidak mengerti kenapa ada orang yang berusaha sebegitu keras untuk dibenci, padahal mungkin aslinya dia nggak semenyebalkan itu.

Tapi kemudian, drama sesungguhnya dimulai saat AK disuruh mengubah teori yang dia gunakan di skripsinya (mari berharap, saya tidak perlu mengalami drama yang sama) dari dosen tersebut. Katakanlah namanya adalah Bu Priti (bukan nama sesungguhnya), menyuruh AK mengubah teori yang sudah dia gunakan selama masa bimbingan. Dan alhasil, dosen pembimbing AK, Pak Prata (juga bukan nama sesungguhnya) menolak untuk menandatangani skripsi hasil revisian tersebut.

Drama pun berlanjut. Kasus penolakan itu dibawa sampai ke meja Kepala Jurusan, sebut saja Bu Kajur. Oleh Pak Prata, AK disuruh menghadap Bu Kajur untuk menyatakan keberatannya. Oleh Bu Kajur, AK disuruh meyakinkan Pak Prata agar menyetujui revisi tersebut, tanpa mengatakan bahwa hal tersebut adalah perintah dari Bu Kajur. Bu Kajur juga mengatakan bahwa dia mencurigai adanya masalah pribadi antara Pak Prata dan Bu Priti.

AK? AK sendiri terjepit di tengah-tengah, hanya dengan satu harapan, drama ini akan segera berakhir.

Bagi saya, tindakan ketiga dosen tersebut sangat tidak bijaksana. Bukannya saya tidak setuju dengan revisinya, atau kerepotan yang dialami mahasiswa dalam menyelesaikan revisinya, tapi bagaimana mereka melibatkan urusan pribadi dan pride, dan membawa-bawa mahasiswa ke dalam masalah mereka. Apalagi tindakan Bu Kajur yang melarang AK menggunakan nama beliau untuk meyakinkan Pak Prata bahwa revisi tersebut perlu dilakukan.

Saya mengerti bahwa Bu Priti hanya ingin membuat skripsi AK menjadi lebih baik. Tapi saya juga mengerti maksud Pak Prata menolak revisi tersebut karena menurutnya mengganti teori itu terlalu berlebihan. Tapi bahwa kemudian Bu Priti yang melangkahi Pak Prata sebagai pembimbing, dan Pak Prata yang mendahuukan pridenya sebagai pembimbing. Dan Bu Kajur yang tidak ingin terlihat keberpihakannya sehingga menyuruh AK ‘memanipulasi’ pembicaraan dengan Pak Prata adalah tindakan yang tidak bijaksana.

BK: “Saya tidak menyarankan kamu bilang ke Pak Prata, kata Bu Priti begini, kata Bu Priti begitu. Menurut saya, itu tidak akan membantu siapapun. You’re digging your own grave.” (wait! Is that a threat?)

Seandainya ini ditangani oleh eks-Kajur saya, pastilah Bu Eks-Kajur akan langsung memanggil kedua dosen dan mengadakan rapat tertutup tentang hal ini. Mahasiswa tidak perlu tahu ada gonjang-ganjing, dan ada ‘perang dingin’ antar dosen. Dan saya tidak perlu menyebarkan hal tersebut di blog saya ini, bukan? Tapi mereka, bukan hanya memperlama proses revisi AK, tapi juga membuat ‘permusuhan’ mereka menjadi kelihatan nyata. Bagaimana mereka bisa mempertahankan wibawa mereka nantinya, kalau masalah seperti ini saja tidak bisa mereka selesaikan secara internal?

Untunglah drama ini sudah berakhir, meskipun mungkin dengan tidak menyenangkan. Kata AK, semua diakhiri dengan Pak Prata yang mengatakan, “Ya sudah, pakai saja revisinya. Tapi nanti jadi tanggunganmu sendiri kalau isi skripsimu tidak sesua” or something like that. WHAT FOR? Tidak bisakah bapak menerima itu dengan lapang? Like an adult? Like an educator?

Sekarang tinggal skripsi saya yang masih diperiksa revisinya oleh Bu Priti. Mari sekali lagi berharap saya tidak perlu mengalami drama yang sama seperti apa yang dialami AK. Sedramatis apapun Bu Priti, semoga Mr. Paul bisa menghadapi ibu yang satu ini.

Advertisements

6 responses

  1. Makanya kadang mending menempeleng dosen drpd lulus wisuda. Kepuasannya beda .. jauh lebih lega.

    Jadi inget masa SMP SMA … ada sepeda motor guru dikasih pasir tangki olinya, yang sombong bawa mobil, dibaret sekeliling.

    Legaa ….

    Goorme misses you Byq! 😛

    Like

  2. jadi inget waktu saya hampir ke DO gara2 system administrasi kampus saya manual abissss. Sudah tahu yng salah system admin nya, sudah juga saya benerin di dekanat…..jurusan saya ga mau revisi. udah saya balik ke dekanat lagi, mohon di BANTU, gimana coba nasib mahasiswa ini?? Eeeh… malah di bilangin pu-dek “Bilang dong, gini-gitu, kajur ga bs semena-mena, kamu sbg mahasiswa berhak menuntut. Masak mhs ga berani??” What the hell?? Si pu-dek asked me to dig my own grave! Dia enak, ka-jur saya kan ga akan ngapa-ngapain si pu-dek?? Duuuhhhhh!! Campus live sometimes sooo damn depressing!
    @cornelia. Sudah lah jeung, kayak kata mu, yg penting keluar ijazah, tauk lah!!

    Like

  3. SETUJU!!!

    Udah kaya gini, mereka semua (yes, SEMUA) bilang ini salahKU. Coba ya, aku ini VICTIM. KORBAN TAK BERDOSA dalam sebuah power struggle gak berguna. Dan akhirnya? Mereka semua nganggep semua itu salahku. Salahku karena cuma ngikutin orang. Salahku karena gak lapor disuru ganti teori. Salahku karena ngadu domba orang. Padahal mereka yg bikin masalah sendiri.

    I’m just a pawn! Either way, I can’t win.

    Terserah deh, sekarang aku happy-happy aja terima semua blame itu. Yang penting ujung2nya aku dapet ijazah. Habis itu, mau kubakar semua revisian itu dan melupakan dosen2 bodoh ini selamanya. Bodo amat mereka mau pikir apa tentang aku, aku akan tetap melanjutkan hidup dengan tenang.

    Maaf jadi curhat.

    Like