A Golden Cage

Standard

Beberapa hari terakhir di kampus memang lain dari biasanya. Yang biasanya penuh dengan mahasiswa, sekarang berhubung hari libur, penuh dengan calon mahasiswa dan ibu-ibu.

Memang ada sedikit hal yang berbeda di kampus ini dibandingkan di kampus yang lain. Kalau di kampus lain, mungkin kebanyakan mahasiswanya datang secara mandiri kekampus, atau pergi berombongan dengan teman-temannya, tapi di kampus saya ini semua dilakukan oleh ibunya. Bisa jadi hal ini disebabkan banyaknya mahasiswa pendatang dari luar Jakarta, membuat si Ibu menjadi khawatir melepaskan anaknya. Saya masih sedikit bisa memaklumi bahwa mahasiswa baru membutuhkan kehadiran sang Ibu.

Saya jadi ingat…

Saat saya lulus SMP, atau SMA… lupa… udah lama… *udah tua*, tema perpisahaan saat itu adalah “Terbanglah Merpatiku”. Artinya, menurut si Bapak Panitia yang berpidato perpisahan saat itu (Yup! Saya mendengarkan pidato perpisahannya sampai selesai), saat lulus dari sana, kita sudah dianggap dewasa dan diharapkan untuk bisa ‘terbang’ setinggi langit biru. (yes! Dramatis!)

Siswa yang lulus diharapkan supaya bisa mencapai cita-cita setinggi langit, bahwa sudah saatnya bebas dan mencari kehidupan yang diinginkan. Sedangkan, arti lain bagi orang tua murid yang hadir saat itu adalah untuk memahami, dari apa yang mereka lihat, bahwa anak-anak mereka sudah beranjak dewasa. Orang tua murid harus bisa memahami bahwa anak-anak mereka bukan lagi anak kecil yang berjalan saja harus dituntun, dan makan saja harus disuapi.

Orang tua diajari bahwa hari itu adalah saatnya mereka mulai belajar untuk melepaskan anak mereka untuk menjadi mandiri.

Mungkin si Bapak Panitia itu harus membuat pidato-pidato yang sama di setiap sekolah saat perpisahan supaya semua ibu itu bisa mendengar. Ada saatnya melepaskan anak yang sudah dewasa, supaya anak itu bisa mandiri, dan mulai belajar mengambil keputusan sendiri.

Saya selalu percaya, bahwa orang tua yang tidak cukup percaya diri untuk melepaskan anaknya mandiri dan bebas di dunia luar, maka tidak cukup percaya pada hasil didikannya sendiri. Seandainya mereka percaya bahwa mereka sudah berhasil menjalankan tugasnya sebagai orang tua, mereka bisa percaya kepada anak yang sudah mereka didik dari kecil hingga dewasa. Kenapa orang tua begitu takut anaknya berubah karena lingkungan? Toh mereka sudah membekali dengan ‘pribadi’ dan ‘karakter’ yang mendasar.

Dengan alasan ‘melindung’ si anak, orang tua melupakan bahwa si anak sudah menjadi manusia dewasa. Sering kali sudah lulus kuliah pun masih diatur harus ini dan harus itu. Idealisme dipadamkan begitu saja, dan disuruh mengikuti jalan yang sudah mereka sediakan.

Saya ingat, di Solo, tanah kelahiran saya. Puluhan hingga ratusan siswa merantau ke luar daerah, untuk mendapatkan gelar sarjana dan pendidikan. Orang tua membayar mahal agar anaknya bisa bersekolah dan mendapatkan gelar di universitas yang favorit. Namun apa yang terjadi setelah S1 diselesaikan? Mereka kembali ditarik pulang dan meneruskan usaha keluarga, tidak peduli pendidikan apa yang sudah mereka lalui sebelumnya.

Tidak heran banyak arsitek berakhir sebagai pedagang di toko keluarga, sarjana hukum berakhir menjaga rumah makan keluarga. Sarjana teknik mengurusi pembukuan di toko keluarga. Intinya, orang tua hanya ingin si anak mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dan tidak kekurangan sedikitpun. Meskipun dengan cara mematikan mimpi dan cita-cita yang sudah mereka bangun selama mereka berkuliah.

Saya percaya ini tidak terjadi di setiap keluarga. Bagi saya, ini mungkin karena pengaruh perubahan generasi. Kalau generasi kakek saya menginginkan adanya perubahan, generasi ayah saya lebih suka dengan stabilitas yang sudah mereka dapatkan dari perubahan yang dilakukan generasi kakek saya. Dengan pemikiran singkat bahwa kehidupan akan baik-baik saja selama uang masih dihasilkan, idealisme adalah kebutuhan terakhir yang perlu dicukupi. Memastikan bahwa anak-anak mereka akan tetap bisa menikmati hidup yang baik dan tercukupi segala sesuatunya dengan tetap menjaga mereka di dalam lingkungan mereka, dan membuat mereka melakukan apa yang dilakukan keluarga dalam mencukupi kebutuhan hidup dari generasi ke generasi.

Saya tahu banyak teman-teman saya yang sampai sekarang masih berada dalam sangkar emas orang tua mereka. Beberapa menyadari hal itu, dan ingin mulai melepaskan diri, tapi tidak tahu bagaimana melakukannya tanpa menyakiti hati orang tua mereka. Beberapa sudah pasrah dengan keadaan dan menjalani saja tanpa melakukan usaha lain yang berarti. Beberapa tidak sadar dan terjebak dalam usaha dari generasi ke generasi dan berpikir bahwa itu memang hal yang seharusnya dilakukan. Sangkar emas ini adalah comfort zone yang dibuat oleh orang tua, untuk memastikan si anak akan hidup layak.

What’s the moral of the story?

Saya hanya berharap seandainya saya nanti menjadi orang tua, saya tidak akan terdorong untuk menjerumuskan anak saya melakukan hal yang tidak mereka sukai. Dan saya berharap, teman-teman yang masih ada di dalam sangkar emas, coba pikirkan lagi… inikah yang kalian inginkan? Inikah yang kaian mau? Inikah masa depan yang ada dalam benak kalian waktu kalian kecil dulu?

Let’s contemplate

Advertisements

Comments are closed.