Serang! Tutup! Hancurkan!

Standard

Perlukah?

Menjelang Ramadan, banyak usaha yang bergerak di bidang hiburan malam mengalami nasib buruk. Bukan cuma buruk, tapi juga apes! Banyak warung remang-remang, ditutup, bahkan dibongkar dan dihancurkan oleh Satpol PP. Pertanyaan saya hanya satu. Perlukah?

Bukannya saya tidak memahami tujuan baik dari tindakan ini, yaitu untuk menghormati bulan Ramadan, dan juga untuk menjaga kekhusyukan mereka yang menjalankan ibadah puasa. Tapi entah mengapa, alasan ini memunculkan dua pertanyaan yang mengganjal pada diri saya.

1. Perlukah mengorbankan orang kecil?

Di layar kaca saya melihat seorang ibu-ibu pemilik warung remang-remang pingsan saat melihat warungnya dibongkar dan dibakar. Warung itu terbuat dari dinding anyam dan bahkan dipan-nya pun terbuat dari anyaman bambu. Pastinya, ibu itu bukan orang kaya. Untuk membangun warungnya saja mungkin dia sudah menginvestasikan seluruh uang yang dimilikinya. Dan mungkin, warungnya itu adalah satu-satunya sumber penghasilannya.

Perlukah, membuat seseorang kehilangan seluruh penghidupannya? Mau menyalahkan ibu itu karena mencari uang dengan cara asusila? Siapa yang akan membiayai kehidupannya nanti? Bagaimana kalau ibu itu punya anak yang harus diberi makan dan disekolahkan?

Perlukah penertiban ini mengorbankan kehidupan seseorang seperti itu?

Kok saya merasa hal seperti ini tidak adil buat si ibu ini. Bagaimana bulan ini bisa menjadi bulan yang penuh berkah kalau awalannya saja sudah dimulai dengan kekerasan kepada seorang perempuan seperti ini?

Salahkah saya berpikir demikian?

2. Perlukah penertiban seperti ini?

Katakanlah ini hanyalah persepsi saya tentang berpuasa. Saya dengar dari teman-teman yang melakukan puasa, bahwa puasa itu sebenarnya adalah tindakan menahan diri. Melakukan kontrol kepada diri sendiri, ditunjukkan pada kemampuan mengontrol lahir dan batin. Benar tidak sih?

Kalau memang benar masa puasa adalah masa menahan diri, maka bukankah itu semestinya menjadi tanggung jawab pribadi untuk menahan diri? Saya yakin bahwa mereka yang berpuasa dengan benar tidak akan terpengaruh meskipun masuk ke rumah bordil sekalipun, karena mereka mampu menahan dirinya. Saya percaya mereka yang berpuasa dengan benar tidak akan kepengen sedikitpun meskipun ditawari makanan enak di hadapan mata.

Benar tidak sih?

Kalau benar begitu, perlukah pemerintah ikut campur dalam urusan pribadi manusia dan Tuhannya dengan cara melakukan penertiban di luar sana? Bukankah penertiban yang dilakukan itu sama saja memandang rendah mereka yang menjalankan puasa, karena menganggap mereka tidak mampu menahan diri kalau disodori hal-hal duniawi begitu.

Ataukah logika saya yang salah?

Saya minta maaf kalau misalnya entry kali ini membuat beberapa pihak menjadi tersinggung. Saya tidak sedang berusaha menyerang siapapun, karena tidak ada ruginya juga bagi saya penutupan-penutupan itu. Saya juga tidak sedang menyebarkan propaganda, karena tidak ada untungnya juga bagi saya memikirkan ini. Mungkin saya hanya ingin bertanya. Karena logika saya tergelitik.

Mungkin ada yang bersedia menjawab dengan analisa?

Advertisements

7 responses

  1. Mungkin masalahnya ada pada ekonomi dan ‘kesiapan’, ya Byq?
    Inilah analisaku… (Iye, tuh paragrap terakhir minta dianalisa kan?).

    Ekonomi (Baca:kemiskinan) memang kejam – inilah alasan utama orang melanggar aturan. dan kesiapan mematuhi aturan itu sulit dan harus dibiasakan, bahkan bertahun-tahun. Dan malangnya hidup dalam sebuah komunitas itu selalu ada aturan-aturan yang harus ditaati.
    Kenapa ada aturan? karena tidak semua orang berotak cerdas, karena tidak semua orang adalah baik. Jadi aturan dipakai untuk mengatur orang-orang nakal itu.
    Aku nggak tau pasti bagaimana kronologi pembongkaran warung milik ibu miskin itu, apakah karena untuk menertibkan bulan Ramadan (Ramadan itu sebenarnya bulan untuk latihan lho, agar dibulan-bulan lain tetap disiplin. Namanya juga latihan, banyak yang gagal, ada juga yang berhasil), atau mungkin juga analisa Ibu Eugene tentang pembongkaran itu benar.

    Kalau aturannya seperti itu, kenapa berani melanggar? ya tentu saja ada sanksinya dong. Kalau mau hidup di tempat yang mayoritas membernya adalah muslim, ya hormati dong, begitu juga bagi yang hidup pada mayoritas kristen, atau lainnya.

    Lihatlah Bali yang sudah siap dengan aturannya tentang Nyepi.

    Atau lihatlah Jerman dengan aturannya tentang Silent Night: pada malam natal (Silent Night) aturannya sama kayak gitu, semua urusan sahwat dan senang-senang dan remang-remang itu harus tutup, jadi disko dll tutup, kalau buka-pun nggak ada yg datang karena orang sudah siap dengan aturan. Bahkan angkutan umum kayak kereta dan bis juga harus berhenti mulai jam 8 malam. Taksi juga.

    Jadi, meskipun ada orang Bali maupun orang Jerman yang keberatan dengan aturan itu, mereka sudah siap karena mereka hidup dibawah mayoritas dengan aturannya, akhirnya tertib.
    Jadi… belanja dulu sebelum saat-saat aturan itu harus diterapkan… atau melacur dulu sebelumnya….

    Tapi… Kalau bulan puasa kan kelamaan ya bok… masak sebulan harus tutup? Mungkin harus diganti dikit: semalam menjelang puasa dan semalam akhir puasa harus tutup. Pasti semua jadi nurut.

    Aturan memang menjengkelkan tapi aturan itu perlu karena tidak semua orang punya otak yang sama.

    Like

  2. Jawaban ini sepengetahuan gw ya byq, tanpa ada maksud menggurui.
    Stau gw, para pemilik usaha “malam” ntah itu warung/cafe remang2, lokalisasi sudah mendapat surat edaran mengenai jam operasional mereka slama bulan Ramadhan.
    Itu diatur dlm Perda, artinya ada sanksi yg mengikat para pelanggar ketentuan.
    Tp tentu saja bukan dgn tindakan anarkis seperti yg lo ceritain di atas. Biasanya sanksi berupa pencabutan izin usaha. Smacam itulah.
    Menurut analisa gw yg ga nonton berita itu, kemungkinan warung yg lo critain di atas dibongkar bukan karna itu warung remang2, tetapi warung itu berada di atas lahan yg ilegal. CMIIW ya byq.
    Tp klo semisalnya emang tu warung dibongkar karna diduga warung remang2, kemungkinan tu warung ga ada izin usaha -> kaitannya ke retribusi daerah. Karna Pemda menerima pemasukan dr tempat2 hiburan. Klo ga ada izin, ga dpt duit donk.
    Biasanya bbrp hr sblm eksekusi, para pemilik warung dpt surat edaran/peringatan untuk menutup/membongkar dgn sukarela warung tsb.
    Klo sampai aparat udah turun ke lapangan, konsekwensi terburuk ya tu bangunan hrs dibongkar ->mengacu kpd Perda. Ga peduli apakah itu org kecil, pengusaha besar, laki2/perempuan, peraturan perundang2an ya hrs ditegakkan (wlo qt smua jg tau untuk byk kasus org kecil yg slalu jd korban)
    Gw melihat persoalan ini dr segi perundangan2.
    Tp klo scara pribadi gw menentang tindakan anarkis yg dilakukan aparat atau golongan yg mengatasnamakan agama itu.
    Logika berpikir lo ga salah kok byq =)

    Like

    • Kalo begitu, perundang2an itu yang gwe kejar. Perlukah membuat perundangan semacam itu? Apakah pemerintah kita ini begitu mengecilkan kemampuan umat Muslim untuk bisa menahan diri selama puasa?

      Kalau… kalau masalahnya adalah bangunan yang dibongkar tersebut alasannya adalah karena bangunan tersebut tidak berijin… Kenapa harus dibongkar hanya pas menjelang Ramadan? Kalau masalah menertibkan bangunan tak berijin, harusnya konsisten dilakukan setiap waktu. Kenapa hanya pas menjelang Ramadan?

      Btw… selamat puasa, Yujin

      Like

      • Mnrt gw UU nya seh ga salah, cm terkadang penerapannya itu yg ga jelas.
        Jd aneh jg seh knp sgala aksi memberantas “kemaksiatan” dilakuin pas jelang Ramadhan. Mengatasnamakan “menghormati umat muslim yg berpuasa”. Gw jg ga setuju. Kok jadinya seolah2 umat muslim gila hormat.
        Kebijakan untuk sapu bersih jelang Ramadhan itu yg harus dievaluasi, bukan UU nya. Seperti yg lo blg, hrs konsisten dilakukan setiap wktu, bukan hanya pas jelang Ramadhan.
        Hehehe..tq ya byq =))
        Doooh..kpn niy qt konfrens lg, ada Jek tuh =)

        Like