Killing Porn

Standard

Sudah beberapa hari nggak nulis blog (setelah beberapa hari pake scheduled blog), akhirnya saya berkesempatan untuk menulis lagi. Tentu saja, saya tidak tiba-tiba saja kesambet pengen nulis seperti Stu kesambet treadmill, tapi karena saya habis liat berita tentang Ariel-Cut Tari.

Again??!

Sejak kapan seorang Bybyq mengurusi masalah-masalah keduniawian seperti skandal seks artis?

Tentu saja, saya tidak mengurusi skandal-skandal semacam itu. Biarlah itu menjadi tanggung jawab infotainment untuk mengulas, menyebarkan dan memblow upnya. Saya hanya mengurusi masalah sosial yang muncul dari skandal-skandal semacam itu di masyarakat. Kenapa saya kepo? Karena tentunya, saya masih bagian dari masyarakat toh?

Beberapa hari ini, banyak situs porno sudah diblokir oleh pemerintah. Bagi saya, sebuah tindakan yang sangat tidak efektif, mengingat pemblokiran situs porno ini seperti mencoba membersihkan rumput liar di taman, tapi tidak mencabut sampai ke akarnya. Kenapa bisa begitu?

Yang pertama, porn site yang saya tahu ternyata masih bisa dibuka tuh. Tapi saya nggak mau kasih tahu link-nya, soalnya saya nggak mau hiburan saya kena blokir juga. Saya kan nggak puasa, kenapa saya harus ikutan nggak boleh menikmati apa yang ingin saya nikmati?

Yang kedua, meskipun sudah diblokir, masih banyak software dan lain-lain yang bisa mem-bypass dan membongkar blokir semacam itu sehingga bagaimana pun juga, kalau sudah niat situs porno itu akan tetap bisa dibuka. Tapi saya nggak mau memberitahukan bagaimana caranya, karena saya juga ga mau blog saya kena blokir nyasar seperti yang terjadi pada beberapa situs tidak porno, tapi tetep kena blokir.

Yang ketiga, masalahnya bukan pada situs itu. Sehingga memblokir situs itu bukanlah solusi. Memang sengaja aja issue ini dicetuskan supaya mempermulus jalan untuk RPM konten nanti.

Porn.

Saya pernah bertanya suatu ketika di sebuah forum yang tidak pernah mengaku sebagai forum terbesar di Indonesia, tapi adalah forum terbaik pilihan saya. Saya ingin tahu, mana yang lebih dulu muncul, perversion atau porn? Kalau perversion muncul lebih dulu, maka semestinya orang-orang tidak boleh menyalahkan porn kalau ada orang yang melakukan penyimpangan seksual. Dan kalau porn yang dianggap muncul terlebih dahulu… well… siapa yang bikin? Pervert? Then perversion came first….

Masalah pornografi, memang terlalu dangkal kalau hanya dilihat dari sisi ‘efek positif’ dan ‘efek negatif’ saja. Sebagian orang menggunakan pornografi sebagai objek pelampiasan (baca: pervert). Sebagian menggunakan pornografi sebagai hiburan saja (baca: saya), dan yang lain? Siapa yang lain itu?

Setiap kali saya masuk ke sebuah situs porno (tidak bisa dikatakan sering, tapi cukup untuk bisa menarik kesimpulan semacam ini), saya melihat ada peringatan bahwa itu ditujukan untuk pengguna dewasa. Tentu saja, pihak pengelola situs tersebut tidak bisa mengatur siapa saja yang bisa masuk dan mengakses situs tersebut, apalagi kalau situs itu merupakan situs gratisan. Tapi jelas, pornografi ini adalah hiburan untuk mereka yang sudah dewasa, bukan hiburan untuk anak-anak tentunya.

Jadi, kalau anak-anak sampai bisa mengakses situs semacam ini, salah siapa?

Daripada menyalahkan pengelola situs porno itu, mengapa tidak dikembalikan lagi kepada keluarga?

Negara tidak mengurusi hal-hal yang merupakan urusan individu. Begitulah yang saya percayai.

Urusan moral anak di masa depan… mereka punya orang tua yang seharusnya memiliki kesadaran untuk menginstall cyber-nanny di komputer masing-masing. Banyak software-software yang bisa ‘menyaring informasi’ yang bisa diakses di personal computer di rumah, dan saya rasa itu jauh lebih efektif daripada memblokir jutaan situs dan membuang tenaga dan biaya semacam itu.

Yang pasti, orang tuanya tetep bisa menikmati porn untuk lanjutan program KB.

Dan yang pasti, nggak akan kejadian blokir nyasar seperti kemarin…

Dan yang jelas… saya tidak perlu nulis semacam ini, bukan?

Advertisements

3 responses