Monthly Archives: September 2010

Excuse Me. Do I Owe You Something?

Standard

Dalam sebuah film karya Joko Anwar yang berjudul “Pintu Terlarang”, saya mendapati sebuah statement yang lumayan fenomenal (bagi saya). Saya tidak tahu apakah di novel karya Sekar Ayu Asmara, yang juga berjudul sama, ada kalimat ini atau tidak. Saya rasa yang sudah menonton film “Pintu Terlarang” pasti tahu:

“Tidak ada seorang anak pun yang ingin dilahirkan ke dunia ini”

Sebenarnya, beberapa tahun sebelum saya menonton film ini, saya pernah mendengar pernyataan yang isinya kurang lebih sama dari seorang teman. Teman yang saya kenal di sebuah forum ini (sekali lagi, saya tidak main ke forum TERBESAR se Indonesia, melainkan bagi saya, secara subjektif, forum yang saya kunjungi ini adalah forum terbaik se-Indonesia) mengatakan bahwa:

“Merawat anak, dan membesarkannya sampai dewasa adalah KEWAJIBAN orang tua dan bukan hutang anak kepada orang tuanya”

Atau kira-kira semacam itu.

Read the rest of this entry

Advertisements

According To Byq

Standard

Saya dan si Monyed punya pendapat masing-masing tentang bagaimana seharusnya liburan yang menyenangkan itu. Jujur saja, pandangan kami tentang bagaimana menghabiskan liburan itu sungguh-sunggung nggak mirip satu dengan yang lain. Pastinya tidak ada yang menyangka kalau kami bisa menghabiskan liburan tanpa berantem.

Dan memang tidak. Pasti kalau mau liburan ada berantemnya. Tapi entah kenapa, setiap kali liburan bersama si Monyed, selalu berujung menyenangkan.

Cukup aneh juga menurut saya, mengingat selera liburan saya dan si Monyed yang begitu bertolak belakang. Kalau si Monyed lebih suka jalan-jalan yang tergolong high class, dan mewah ke tempat-tempat eksklusif dan lain dari pada yang lain, saya lebih suka perjalanan budaya mengunjungi tempat-tempat dengan nilai sejarah dan memiliki cerita tersendiri. Kalau si Monyed suka berbelanja oleh-oleh, buat saya oleh-oleh terbaik adalah cerita yang tidak bisa ditukarkan oleh benda apa pun.

Read the rest of this entry

Dog Isn’t A Toy. Please Treat Them Kindly

Standard

Saya benci anak-anak yang dibiarkan melanglang bebas tanpa pengawasan yang proper dari orang tuanya. Serius. Saya pernah jadi pembenci anak kecil, dan si Onyed berhasil mengubah pandangan saya. Akan tetapi saya tidak akan ragu-ragu untuk mengubah kembali pendapat saya, kalau saya lebih lama lagi melihat anak-anak liar itu berulah di sekitar saya.

Saya ragu kalau anak-anak itu tidak bisa membaca perintah “Dilarang mengetuk kaca” dan keterangan di bawahnya “dapat menyebabkan hewan menjadi stres”. Tetapi seandainya pun begundal-begundal kecil itu buta huruf atau buta betulanpun, orang tua yang membawa mereka ke kebun binatang itu harusnya bisa mengajari. Atau haruskan mulai dibuat peraturan bahwa kebun binatang hanya boleh dikunjungi oleh orang yang cukup dewasa untuk menaati peraturan-peraturan dalam kebun binatang.

Read the rest of this entry

3 GPS 1 Tujuan

Standard

Liburan kali ini terasa lain. Bukan cuma lain karena kali ini kami sekeluarga nampaknya lagi malas pergi-pergi. Tapi juga lain karena liburan kali ini digunakan Papa sebagai ajang pembuktian keakuratan GPS navigator yang baru saja dibelinya.

Dengan menggunakan sistem GPS, maka Papa bersikeras untuk menggunakan alat itu daripada nanya jalan sama orang. Bayangkan bagaimana sengsaranya saya yang sudah kelaparan di dalam mobil sambil memangku Berry, menunggu sampainya kami ke restoran… Dan nggak nyampe-nyampe karena Papa sedang sibuk mengurusi GPS nya itu. Dan saya pun mengutuki siapapun yang menciptakan benda kotak itu, dan salesman yang menjual benda itu ke Papa.

Read the rest of this entry

Ground Zero

Standard

Sudah saya duga, keputusan untuk mengijinkan pembangunan masjid di area ground zero menuai kebencian berkepanjangan. Meskipun caranya salah, namun saya rasa ini merupakan salah satu cara mereka yang merasa disakiti menunjukkan perasaan mereka. Apakah saya membela satu golongan tertentu? Anda yang sudah lebih lama mengenal saya tentu tahu saya tidak seperti itu.

Ground zero, adalah sebutan untuk area bekas peledakan gedung WTC di New York, pada insiden 11 September 2001. Beberapa waktu lalu ada ide dari beberapa kaum Muslim di Amerika Serikat untuk membangun Masjid di area tersebut. Tentu saja wacana ini menjadi sebuah kontroversi yang membuat beberapa pihak merasa marah.

Meskipun hal ini ditentang oleh banyak pihak, akan tetapi pemerintah NY tetap mengeluarkan ijin untuk pembangunan Masjid di ground zero. Alasannya pada saat itu adalah untuk mempererat hubungan antar umat beragama. Alasan yang menurut saya benar-benar tidak masuk akal. Bagaimanapun saya mencoba membolak balik logika saya, saya tidak pernah bisa cukup gila untuk mengerti kebijakan yang dikeluarkan pemerintah NY tersebut.

Read the rest of this entry

Jadi Bintang Bersama Caca dan Berry

Standard

Laporan langsung dari Bali.

Liburan yang nggak biasanya karena keluarga saya memutuskan untuk mengajak Caca dan Berry ikut ke Bali. Dan karena Berry dan Caca nggak bisa naik pesawat, maka keluarga saya memutuskan untuk melakukan perjalanan darat selama 15 jam dari Solo.

Tentu saja saya nggak ikutan perjalanan yang melelahkan itu. Saya naik pesawat selama 1 jam saja dari Jakarta. Saya nggak sekurang kerjaan itu.

Read the rest of this entry

Hey! Bybyq Is In Bali

Standard

Sebelumnya, saya mau mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan.

Saya juga mengucapkan selamat berlebaran dan berliburan bagi yang berlibur. Dan saya juga mengucapkan selamat bekerja bagi yang tidak liburan bagi yang tidak berlibur *plak*. Serta mengucapkan selamat bekerja keras bagi mereka yang memutuskan untuk tetap di rumah dan ditinggal mudik pembantunya sehingga harus nyuci, ngepel dan masak sendiri *dibunuh*.

Read the rest of this entry

Indonesia VS Malaysia di Mata Bybyq

Standard

Beberapa hari lamanya saya dan adik saya si Mon itu terlibat di pembicaraan mengenai Indonesia versus Malaysia. Dan sebagai warga negara yang baik (yang meskipun sering dianak tirikan dan sering tidak dianggap oleh warga negara yang lain) saya merasa tersinggung dengan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia.

Saya dan Mon berandai-andai, apa yang akan kami lakukan seandainya kami ini adalah pemerintah republik Indonesia. Apa yang akan kami lakukan terhadap Malaysia?

Memutuskan hubungan diplomatik sepertinya merupakan satu langkah strategis. Saya tidak mengerti apa yang ditakutkan oleh pemerintah kita sampai menarik diplomat kita dari sana saja tidak bisa. TKI yang ada di sana, juga bisa ditarik pulang, toh masih banyak negara-negara lain yang mau memakai TKI dan saya yakin sebenarnya pemerintah bisa memberikan lapangan pekerjaan. Kalau mau. Tapi sayangnya saya tidak melihat niatan tersebut dari Pemerintah Republik Indonesia.

Read the rest of this entry

Missing My Updates?

Standard

Ya kan? Ya kan?

Baiklah, mumpung saya lagi kepingin untuk mengupdate, sebaiknya kalian siap-siap karena ini akan menjadi satu entry yang panjang dan lama. Sedikit menyedihkan dan menyakitkan bagi saya yang menulisnya, tapi saya harap akan worth the time 😀

Pertama-tama saya harus mengucapkan “fuck google”!

Salah satu google account saya dihapus oleh google entah apa sebabnya. Yang pasti sekarang account tersebut, yang sengaja saya buat untuk segala macam pekerjaan sekarang hilang ditelan bumi. Dan, oh! Itu juga termasuk semua blog yang saya punya. So, kalau kalian tiba-tiba kangen sama MWWYT dan mau nengok ke sana, kalian ga kaan bisa lagi melihatnya.

Read the rest of this entry