3 GPS 1 Tujuan

Standard

Liburan kali ini terasa lain. Bukan cuma lain karena kali ini kami sekeluarga nampaknya lagi malas pergi-pergi. Tapi juga lain karena liburan kali ini digunakan Papa sebagai ajang pembuktian keakuratan GPS navigator yang baru saja dibelinya.

Dengan menggunakan sistem GPS, maka Papa bersikeras untuk menggunakan alat itu daripada nanya jalan sama orang. Bayangkan bagaimana sengsaranya saya yang sudah kelaparan di dalam mobil sambil memangku Berry, menunggu sampainya kami ke restoran… Dan nggak nyampe-nyampe karena Papa sedang sibuk mengurusi GPS nya itu. Dan saya pun mengutuki siapapun yang menciptakan benda kotak itu, dan salesman yang menjual benda itu ke Papa.

Hari ini kami berencana untuk mampir ke Bali Bird Park. Berhubung belum pernah ada satupun dari kami yang pernah bermobil ke sana (dan Papa kekeh ga mau nanya jalan), maka GPS menjadi pilihan utama. Masalahnya, ternyata mesin canggih itu databasenya nggak lengkap. Alhasil, Papa ga bisa menemukan di mana Bali Bird Park tersebut.

Saya dan Mon masih bertahan dengan GPS model lama. Yaitu menggunakan HP kami sebagai penunjuk jalan.

Saya mohon jangan bertampang menghina begitu. Kami tidak melakukan hal bodoh dengan henpon henpon itu kok. Suer. Di HP kami memang ada aplikasi google map.

Saya dan mon memakai google map kami dan Papa bersikukuh memakai GPS nya. 3 GPS dalam satu mobil, untuk satu tujuan. Terdengar terlalu berlebihan, tidak? Untungnya kami nggak pakai nyasar…

Bali Bird Park ini lokasinya tidak terlalu mudah ditemukan, nggak ada papan petunjuk lokasi, nggak ada tulisan besar-besar yang menunjukkan ada tempat wisata di sana. Tapi hebatnya, puluhan mobil berjajar di sana dan banyak orang sudah lebih dulu memadati Bali Bird Park yang juga berlokasi sama dengan Reptile Park.

Biaya masuk ke kedua tempat ini lebih mahal daripada biaya masuk ke tempat pariwisata di Indonesia pada umumnya. Tapi menurut saya harga segitu worth it dengan apa yang saya dapatkan di dalamnya. Bahkan menurut saya seharusnya tempat-tempat wisata di Indonesia yang lain juga harusnya dinaikin harganya (tentu dengan pengecualian buat pelajar atau rombongan sekolah). Harga yang mahal itu kan dipakai lagi buat melengkapi koleksi binatang, buat pemeliharaan dan perluasan area. Menarik biaya murah malah membuat binatang yang dipelihara menjadi tidak terawat.

Apakah perlu saya laporkan ke WWF? Bukan World Wrestling Foundation, tapi World Wildlife Foundation…

Ah bosan ah… See you guys next time..

Advertisements