Dog Isn’t A Toy. Please Treat Them Kindly

Standard

Saya benci anak-anak yang dibiarkan melanglang bebas tanpa pengawasan yang proper dari orang tuanya. Serius. Saya pernah jadi pembenci anak kecil, dan si Onyed berhasil mengubah pandangan saya. Akan tetapi saya tidak akan ragu-ragu untuk mengubah kembali pendapat saya, kalau saya lebih lama lagi melihat anak-anak liar itu berulah di sekitar saya.

Saya ragu kalau anak-anak itu tidak bisa membaca perintah “Dilarang mengetuk kaca” dan keterangan di bawahnya “dapat menyebabkan hewan menjadi stres”. Tetapi seandainya pun begundal-begundal kecil itu buta huruf atau buta betulanpun, orang tua yang membawa mereka ke kebun binatang itu harusnya bisa mengajari. Atau haruskan mulai dibuat peraturan bahwa kebun binatang hanya boleh dikunjungi oleh orang yang cukup dewasa untuk menaati peraturan-peraturan dalam kebun binatang.

Saya memang bukan anggota WWF, tapi saya paling males kalau harus berhadapan dengan anak-anak penyiksa binatang semacam itu. Saya nggak lebay. Menurut yang saya baca di “Life of Pi”, sebagian besar kasus kematian binatang-binatang di kebun binatang (selain karena kurangnya perhatian dari pengurus kebun binatang) adalah disebabkan kelakuan manusia yang tidak mematuhi peraturan yang dibuat kebun binatang tersebut.

Misalnya peraturan untuk TIDAK memberi makan binatang, atau TIDAK menyentuh binatang, atau TIDAK melemparkan sampah ke kandang binatang… Atau yang sederhana, dengan TIDAK mengetuk-ngetuk kaca karena bisa membuat hewan di dalam kandang menjadi stres. Sederhana saja, kita diminta untuk TIDAK melakukan sesuatu, karena kita di kebun binatang untuk menikmati dan mengapresiasi, dan menyerahkan tanggung jawab untuk menyentuh dan memberi makan kepada mereka yang ahli di hal perbinatangan.

Satu lagi, ya… Binatang itu bukan mainan. Meskipun anjing-anjing saya berjenis TOY DOG, tapi mereka bukan boneka. Mereka tidak untuk dicubit, dijewer, ditariki-tarik atau dijambak-jambak. Mereka akan kesakitan kalau digendong dengan cara yang salah dan terganggu kalau dipenyet-penyet kepalanya. Dan anak-anak keparat itu memang mencolak-colek Caca dan Berry dengan peri-keanjingan yang luar biasa rendah.

Sialan ibunya. Sialan bapaknya.

Sejak kecil saya diajari oleh orang tua saya untuk TIDAK memelihara binatang apabila tidak bisa merawatnya. Pertanyaan pertama yang mereka lontarkan kalau kami ingin memelihara anjing adalah: “bisa peliharanya, nggak?”, dan bukan “mau pelihara? Mau jenis apa?”.

Kalau saya tidak diajari untuk mengasihi sesama manusia, mungkin sudah saya lempar anak-anak yang mencolek kepala Berry dengan sembarangan itu. Kasar bukan kepalang, dan orang tuanya bangga berpikir bahwa mereka memiliki anak yang pemberani. Pemberani mbelgedes! Anak-anak kasar dan tidak tahu aturan itu, bahkan nggak minta ijin permisi sebelum menyentuk anjing-anjing kami. Properti kami.

Dan yang paling menyebalkan adalah, kalau kami mengomeli anak itu, si ibu atau si bapak akan balik mengomeli kami. Brengsek! Mereka yang ga becus ngurus anak, kami yang harus menanggung repotnya anjing kami jadi trauma dan ga nafsu makan. Serius… Saya nggak becanda.

Caca gemetaran sepanjang perjalanan pulang, dan Berry yang biasanya punya nafsu makan yang baik tidak menyentuh baik makanan maupun minumannya sepanjang jalan. Dan itu nggak lucu.

Advertisements

Comments are closed.