According To Byq

Standard

Saya dan si Monyed punya pendapat masing-masing tentang bagaimana seharusnya liburan yang menyenangkan itu. Jujur saja, pandangan kami tentang bagaimana menghabiskan liburan itu sungguh-sunggung nggak mirip satu dengan yang lain. Pastinya tidak ada yang menyangka kalau kami bisa menghabiskan liburan tanpa berantem.

Dan memang tidak. Pasti kalau mau liburan ada berantemnya. Tapi entah kenapa, setiap kali liburan bersama si Monyed, selalu berujung menyenangkan.

Cukup aneh juga menurut saya, mengingat selera liburan saya dan si Monyed yang begitu bertolak belakang. Kalau si Monyed lebih suka jalan-jalan yang tergolong high class, dan mewah ke tempat-tempat eksklusif dan lain dari pada yang lain, saya lebih suka perjalanan budaya mengunjungi tempat-tempat dengan nilai sejarah dan memiliki cerita tersendiri. Kalau si Monyed suka berbelanja oleh-oleh, buat saya oleh-oleh terbaik adalah cerita yang tidak bisa ditukarkan oleh benda apa pun.

Begitu juga dalam hal pengaturan waktu dan penggunaan budget. Sementara si Monyed suka tinggal di hotel yang bagus, pesawat yang bagus juga (tidak harus yang paling bagus, sih… tapi dia susah kalau harus masuk ke hotel kelas melati, atau ikut budget flight), saya merasa lebih baik duit saya dipakai untuk tinggal lebih lama di kota tersebut daripada dihabiskan untuk tidur sehari di hotel bintang lima.

Kalau si Monyed suka menghabiskan waktu bersantai menikmati pemandangan atau berleha-leha di sebuah kafe dengan makanan yang super lezat. Saya lebih suka menghabiskan hari dan memenuhi kebutuhan batin saya dengan berjalan-jalan ke museum yang aneh atau kebun binatang. Meskipun kalau saya ingin melihat monyet, saya hanya perlu menyuruh si Monyed bergaya di depan saya…

Mama saya mempunyai cara berlibur yang berbeda. Mama saya suka berbelanja dan berburu barang-barang aneh. Nyeni. Aneh. Buat Mama itu nyeni, tapi buat saya itu aneh. Ternyata memang seni itu sesuatu yang sifatnya sangat subjektif. Dan dengan cara belibur ala Mama, maka saya menghabiskan liburan kemarin dengan cara yang lebih tidak saya sukai, yaitu berlibur dengan berburu barang dari pasar ke pasar.

Saya tidak suka mengunjungi toko pusat oleh-oleh. Buat saya sangat tidak ada seninya berkunjung ke pusat oleh-oleh semacam itu. Lagipula, saya tidak suka dengan bentuknya yang seperti gudang penyimpanan, yang kotor dan berdebu. Apalagi saya alergi debu, saya bisa mati sesak di dalamnya. Saya lebih baik mengabiskan waktu di luar seharian menemani Berry dan Caca daripada bergumul dengan barang-barang di toko pusat oleh-oleh yang menurut saya nggak ada spesial-spesialnya itu.

Toh saya tidak merasa kesal gimana. Tentu saja saya sebenarnya mengharapkan liburan yang lebih menghibur.

Pada akhirnya saya pulang kembali ke Jakarta toh dengan perasaan yang senang dan tenang. Toh akhirnya saya kembali ke Jakarta dengan perasaan yang jauh lebih baik daripada ketika saya menuju ke Bali kemarin. Ternyata menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang yang kita sayang membuat segala sesuatu menjadi berbeda. Membuat cara kita memandang berbagai macam permasalahan dengan cara yang berbeda.

Mungkin benar, saya dan Mama, dan juga si Monyed punya cara menghabiskan liburan masing-masing. Tapi mungkin akan berbeda rasanya kalau kita menghabiskan liburan yang tidak terlalu menyenangkan dengan orang yang akan membuat kita merasa senang bahkan ketika hal terburuk datang.

Advertisements