Excuse Me. Do I Owe You Something?

Standard

Dalam sebuah film karya Joko Anwar yang berjudul “Pintu Terlarang”, saya mendapati sebuah statement yang lumayan fenomenal (bagi saya). Saya tidak tahu apakah di novel karya Sekar Ayu Asmara, yang juga berjudul sama, ada kalimat ini atau tidak. Saya rasa yang sudah menonton film “Pintu Terlarang” pasti tahu:

“Tidak ada seorang anak pun yang ingin dilahirkan ke dunia ini”

Sebenarnya, beberapa tahun sebelum saya menonton film ini, saya pernah mendengar pernyataan yang isinya kurang lebih sama dari seorang teman. Teman yang saya kenal di sebuah forum ini (sekali lagi, saya tidak main ke forum TERBESAR se Indonesia, melainkan bagi saya, secara subjektif, forum yang saya kunjungi ini adalah forum terbaik se-Indonesia) mengatakan bahwa:

“Merawat anak, dan membesarkannya sampai dewasa adalah KEWAJIBAN orang tua dan bukan hutang anak kepada orang tuanya”

Atau kira-kira semacam itu.

Saya potong di sini dulu ya. Meskipun saya sering merasa Mama dan Papa suka agak lebay gitu, tapi secara keseluruhan saya bukan tipe anak broken home yang tidak betah tinggal di rumah. Saya tidak bermasalah dengan kedua orang tua saya, dan bahkan hubungan saya dengan mereka dapat dibilang baik-baik saja. Saya tidak punya masalah dengan keluarga, dan saya dekat dengan adik-adik perempuan saya. Dan, tentu saja, saya tidak sedang denial.

Hal ini sepenuhnya karena saya selalu tertarik dengan hal-hal yang bersifat kontradiktif semacam ini. Diskusi-diskusi yang saya lakukan dengan teman saya tersebut membuat saya berpikir lebih lama dari biasanya, bukan karena saya lemot tiba-tiba, tapi karena saya merasa ada poin penting dalam statement yang diberikan oleh teman saya, dan statement dalam film tersebut. Hal yang meskipun pada saat saya mendengarnya tidak saya mengerti sepenuhnya, tetapi sedikit banyak saya melihat kebenaran di dalamnya.

Ngerti nggak?

Dalam film Soe Hok Gie… (saya juga belom baca bukunya), ceritanya beliau mengatakan bahwa yang paling beruntung adalah mereka yang tidak pernah dilahirkan. Salah seorang teman blogger juga pernah membuat pernyataan yang sama, akan tetapi saya lupa, dia mengatakannya di sini atau di blognya dia sendiri. Tapi pernyataan tersebut, bukankan secara tidak langsung mengatakan bahwa dengan melahirkan kita, orang tua kita malah membuat kita sial, atau paling tidak mengurangi keberuntungan kita?

Karena orang tua kita bersalah dengan membuat kita lahir dan harus mengalami suka duka di dunia ini, bukankah itu berarti mereka berhutang kepada kita, dan bukan sebaliknya? Bukankah keputusan orang tua untuk melahirkan anaknya adalah keputusan individual mereka, tanpa bertanya kepada kita apakah kita ingin dilahirkan atau tidak? Bukankah mereka mendapatkan kepuasan tersendiri dengan memiliki kita sebagai anak? Dan bukankah proses membikin anak itu juga kepuasan mereka sendiri?

Saya yakin beberapa dari kalian sudah mulai ngangguk-ngangguk. Tetapi bukankah itu malah bertentangan dengan apa yang saya dapatkan selama ini, baik melalui masyarakat, budaya dan juga pendidikan, bahwa kitalah yang harusnya membalas budi kepada orang tua kita? Didukung dengan pernyataan bahwa “orang tua tidak wajib memelihara kita”, dan “kita bisa saja dibuang di jalanan begitu dilahirkan, atau diserahkan kepada orang lain untuk diadopsi”?

Saya tinggalkan diskusi ini menggantung.

Saya tidak sedang menyemangati orang-orang untuk mulai bersatu padu melawan orang tua, tapi saya ingin membuat orang-orang yang membaca blog ini membuat diskusi dengan dirinya sendiri. Bagaimana menurut kalian?

Advertisements

3 responses

  1. salam kenal, sebagai manusia yang berkutat di solo..
    setuju pada poin bukan kita berhutang pada orang tua, tapi orang tua memang mempunyai kewajiban memelihara kita, termasuk memenuhi kebutuhan kita baik itu primer maupun sekunder (jika mampu, tersier juga).
    tentang mengurangi keberuntungan kita karena telah dilahirkan, itu saya punya pendapat lain (untuk didiskusikan, bukan diperdebatkan), kita beruntung bisa menghirup udara dunia, di mana kita bisa belajar, berkarya, ketemu pacar, beli ini itu, main main ke sana ke mari, makan ini makan itu, minum ini minum itu, ngisep rokok ini dan itu. kalo kita ga dilahirkan, apa bisa kita merasakan nikmatnya esteh dan soto lamongan dan ditutup oleh rokok menthol?? kalo kita ga dilahirkan apa kita bisa tau bagaimana rasanya jatuh cinta, ciuman pertama, bahkan memiliki anak..
    jadi, kalo kata saya, kita beruntung sempat ada di dunia ini..
    kalo di duia ‘sana’ belum tentu ada yang namanya koneksi internet kan..

    Like

    • Hahaha… Senangnya ada teman diskusi dari solo… Salam kenal juga Rossy 🙂
      Beruntung atau tidak ternyata relatif yah, soalnya kalo menurutku kalo ga lahir ya ga butuh disenang2in. Kesenangkan hidup kan kompensasi atas kesusahannya :d
      Nice to meet you *cipikacipiki*

      Like

  2. menurutku, karena kita belum pernah benar-benar menjadi orang tua sih Byq, jadi berpendapat begitu, kita nggak ngrasa utang

    tapi empet juga kalau orang tua nuntut macem-macem, yang nggak sesuai ama dengan kemampuan kita..

    Intinya mari kita lebih mencintai orang tua kita 🙂

    Like