Jalan

Standard

Beberapa hari yang lalu saya bertengkar dengan orang tua saya. Lucunya, saya bertengkar dengan orang tua saya setelah saya menulis entry saya yang sebelumnya. Mungkin saja Mama saya membaca  entry saya tersebut, mungkin saja beliau sedang PMS. Intinya pada saat itu saya sedang mengalami hubungan yang tidak menyenangkan dengan orang tua saya.

Mungkin sampai sekarang masih begitu, tapi saya tidak ingin membahas tentang bagaimana hubungan saya dengan orang tua saya, karena buat saya itu bukan urusan orang lain 😀

Beberapa bulan lalu, saya, dua orang adik saya dan juga si Monyed melakukan sebuah perjalanan pulang kampung ke Solo melalui jalur darat. Yap, empat orang cewek, dalam satu mobil dengan perjalanan 12 jam melalui jalur Pantura. Memang melelahkan, tapi pengalaman dan kesenangan yang kami dapatkan di jalan tidak bisa ditukar dengan hal-hal lain di muka bumi ini.

Orang tua saya, tentu saja pada awalnya melarang. Dan ketika kami nekat setengah mati, akhirnya mereka membarikan ijin setengah hati sambil terus ribut selama perjalanan kami sampai akhirnya kami bisa membuktikan bahwa kami bisa selamat sampai di rumah. Sanak keluarga yang lain juga tidak kalah rese, mereka terus menerus membicarakan tentang jalur mana yang SEHARUSNYA kami tempuh. Bahkan ada yang usul kami menggunakan jasa sopir sepanjang perjalanan ke Solo. Dan, toh pada akhirnya kami tidak mendengarkan satu pun dari mereka dan lebih percaya pada papan penunjuk jalan dan juga GPS.

Orang tua saya, tentu saja lebih suka saya naik pesawat terbang  ke Solo. Lebih cepat, dan tentunya menurut mereka, lebih aman.

Itulah masalahnya.

Orang tua, dan orang lain, selalu merasa mereka sudah memilihkan jalan yang terbaik buat kita. Mereka, tentu saja, dengan uang yang mereka miliki bisa menyiapkan berbagai macam jenis perjalanan yang MEREKA inginkan. MEREKA ingin suruh kita naik pesawat kelas ekonomi, atau bisnis, atau mereka mau menyuruh kita pergi dengan menggunakan kereta api. MEREKA bisa menyiapkan jalan, tapi mereka tidak menjalaninya.

SAYA yang menjalaninya. SAYA yang seharusnya diberi kebebasan untuk memilih jalan apa yang saya inginkan.

Dan, yang menyebalkan adalah, beberapa orang tua tidak hanya menentukan jalan yang harus ditempuh untuk pulang kampung saja, tapi merecoki jalan hidup untuk anaknya. Kemudian, setelah bertahun-tahun mengalami bentrokan, perang mulut, perang dingin, dan masih banyak lagi keributan orang tua dan anak, mereka masih tetap mengatakan, “Kami sudah menyiapkan jalan”

Sepertinya itu mudah.

Seperti mengatakan, “Kami sudah membelikan tiket pulang” tanpa bertanya kami ingin pulang atau tidak, atau kami ingin pulang naik apa. Seperti mengatakan, “Kami sudah membelikan kamu nasi goreng” tanpa bertanya kami ingin makan apa atau bahkan mungkin pada saat itu kami tidak lapar.

Seolah-olah kalimat, “Kami sudah menyiapkan jalan” adalah kalimat yang sangat bijaksana, dan memang sudah benar. Buat saya, kalimat tersebut adalah kalimat paling egois yang pernah saya dengar. Selama lebih dari duapuluh tahun hidup saya, saya tidak pernah senang dengan jalan manapun yang mereka pilihkan. Saya tidak pernah senang dengan jalan yang mereka carikan, dan sialnya, saya baru belajar untuk berani mengatakan itu setelah saya kenal dengan si Monyed.

Mungkin…

Mungkin saya harus berpikir ulang untuk menjadi seorang ibu. Saya tidak ingin menjadi orang tua yang payah, dan egois, yang berpikir saya bisa menyiapkan jalan untuk anak saya. Karena setahu saya, saya hanya bisa menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya, sehingga tidak peduli jalan manapun yang ingin ditempuh oleh anak saya, dia tidak akan mengalami kesulitan. Mngkin saya harus berpikir ulang tentang ide memiliki anak, karena saya tidak ingin jadi orang tua yang keukeuh mengatakan bahwa saya bisa memberikan JALAN…

Jalan yang bahkan anak saya tidak pernah minta

Sok tau…

Advertisements

2 responses

  1. gw tidak memilih jalan yg dipilihkan bokap -> perang dingin bertahun2 =D
    bedanya gw sudah brani menyatakan ketidaksenangan di usia yg blm genap 20.
    smg hbgn lo dgn bonyok lekas membaik ya byq.

    Like