Surprises

Standard

Si Monyed selalu bingung kenapa saya tidak suka dengan kejutan.

Mungkin beberapa bisa mulai menganggap saya sebagai tipe orang yang tidak romantis, meskipun saya tidak akan mengakuinya. Menurut saya, saya cukup romantis kok, tanpa harus disertai dengan kejutan apapun. Tetapi seandainya ketidak sukaan saya terhadap kejutan kemudian membuat saya harus digolongkan ke dalam kategori manusia tidak romantis, saya tidak akan menolak. Karena, saya lebih rela disebut sebagai manusia tidak romantis, daripada saya harus belajar menyukai kejutan.

Ketidak sukaan saya terhadap kejutan, tentunya bukan tanpa alasan. Karena saya adalah manusia yang penuh alasan, tentunya. Tapi saya yakin alasan saya ini dapat dinalar.

Pada dasarnya saya percaya bahwa kejutan adalah sebuah perwujudan dari niat baik seseorang untuk memberikan… uhm… kejutan. Intinya, seseorang yang merancang sebuah kejutan untuk orang lain, pada dasarnya memiliki good deeds yang melandasi tindakannya tersebut. Misalnya: membuat perayaan ulang tahun menjadi tidak terlupakan, membuat pesta anniversary menjadi lebih berkesan… dan sebagainya dan sebagainya.

Saya juga pernah mendengar bahwa banyak orang suka kejutan. Bahkan statement tanpa dasar itu digunakan sebagai teori untuk menjawab “mengapa orang harus membungkus kadonya”.

Melenceng dari topik sebentar. Sebenarnya ini tidak ada dalam rencana saya menulis hari ini, tapi pertanyaan “mengapa orang membungkus kado yang mereka berikan sebagai hadiah” ini menarik buat saya. Meskipun nantinya akan ada pertentangan, tapi saya percaya bahwa efek “surprise” bukanlah alasan yang memulai tradisi membungkus kado.

Etiketnya seseorang memberi sesuatu tidak perlu diketahui oleh orang lain. Hal ini selain menghindari perasaan rendah diri kepada yang memberikan kado murahan, juga menghindari “awkward moment” yang akan terjadi ketika ternyata seseorang memberikan hadiah yang “tidak semestinya”. Apalagi kalau sampai kejadian dua orang memberikan hadiah yang sama persis.

Dalam kebudayaan yang lain, ada yang disebut dengan re-gifting. Ini dilakukan untuk menghemat pengeluaran untuk kegiatan saling memberikan hadiah pada perayaan-perayaan tertentu. Re-gifting ini adalah proses di mana seseorang memberikan kado yang diterimanya kepada orang lain yang membutuhkan kado juga, karena (1) dia tidak membutuhkannya (2) ada hadiah lain yang sama persis dengan hadiah yang diterimanya. Lalu, apa jadinya kalau ada acara buka kado, atau kado yang diberikan tidak dibungkus? Tentunya akan sangat tidak menyenangkan kalau kita tahu bahwa hadiah dari kita di-re-gifting kan ke orang lain.

Untuk mengembalikan wacana ke topik semula, maka saya bisa menarik sebuah hipotesis bahwa pemberian kado yang dibungkus BELUM TENTU BERHUBUNGAN dengan efek kejutan itu.

Saya tidak menyukai kejutan.

Oh. Okay.

Saya bukannya tidak menghargai kejutan, dan mereka yang berusah payah melakukannya untuk saya. Tapi saya lebih menghargai kalau mereka tidak usah bersusah payah untuk saya karena reaksi saya tidak akan seperti yang mereka harapkan. Jujur saja.

Ulang tahun saya, tahun lalu. Si Monyed mengajak seorang teman dan Lala ke tempat kos saya untuk merayakan ulang tahun. Padahal saya hanya ingin melewatkan malam itu dengan tidur karena saya habis main game seharian. Dan saya lebih suka merayakan ulang tahun dengan minum dalam kesunyian daripada makan ramai-ramai. Oh ya… saya mungkin AKAN punya masalah dengan alkohol.

So, tanpa mengurangi rasa hormat, yang saya inginkan hanyalah mereka segera angkat kaki dari kamar kos saya, supaya saya bisa menenggak satu atau lima shot tequila dan tidur dengan tenang.

Beberapa orang mungkin akan menuduh saya punya masalah kejiwaan. Saya tidak keberatan dikatai seperti itu, karena menurut saya, memang saya punya sedikit masalah dengan kontrol. Saya suka mengontrol. Kejutan, adalah sesuatu yang tidak bisa saya kontrol. Kejutan adalah unexpected events yang tidak bisa saya antisipasi, dan tidak bisa saya cegah dan saya tidak suka itu.

Kalau beberapa orang tidak mengerti “TIDAK SUKA”, mungkin saya bisa memperjelas dengan satu kata yang lebih spesifik, saya BENCI kejutan.

Saya tidak akan menghina mereka yang suka denga kejutan, dan mengatakan, “oh so sweet” dengan surprise yang mereka dapatkan. Tapi secara pribadi, kalau tidak mengingat bahwa mereka yang melakukan kejutan itu sebenarnya memiliki ‘niat baik’, ungkapan yang tepat untuk menggambarkan apa yang saya ingin katakan saat ada seseorang membuat kejutan untuk saya adalah: “WHY THE HELL DO YOU DO THAT?”

Advertisements

Comments are closed.