Home

Standard

Home is where the heart is.

Itu membuat saya berpikir kapan terakhir kali saya menganggap rumah orang tua saya di Solo sebagai Rumah (dengan huruf “R” kapital). Saya berpikir kalau saya mengatakan “Pulang kampung”, atau “Pulang ke Solo”, apakah itu berarti saya “Pulang ke Rumah”, atau hanya sekedar, “Berkunjung ke kampung halaman, dan menengok orang tua” saja? Saya berpikir, apakah saya ingin berada di sana karena saya ingin ada di sana atau karena saya merasa berkewajiban untuk ada di sana pada saat-saat tertentu?

Lalu, ketika pertanyaan tersebut menjadi sulit dijawab, saya mencoba pendekatan lain. Sayapun membuat pertanyaan lain yang lebih open-end, “Seandainya saya tidak menganggap rumah orang tua saya di Solo sebagai Rumah, maka di manakah Rumah saya?”

Home is where the heart is. So where is my heart?

Saya dulu tinggal di sebuah tempat kos yang agak lebih sederhana dibandingkan tempat kos saya yang terakhir. Saya tinggal di sana bersama dengan Si Monyed. Setiap malam, kita makan bersama, dan tidur sempit-sempitan di satu ranjang yang sama. Kadang kala Si Monyed pulang kerja terlalu malam, dan saya ngambek nggak mau bikinin mi instan (tapi akhirnya saya bikinin juga soalnya kasihan dia kelaparan pulang kerja). Pada saat itu, setiap kali kami mengatakan “Pulang”, maka tempat kos itulah yang kami tuju.

That’s where the heart was.

Dan bagaimana kalau someone who holds your heart, ga pulang-pulang?

Itulah yang terjadi kemarin.

So, ceritanya si Mon berencana untuk pergi naik gunung dengan teman-temannya. Kemarin, seharusnya dia sudah sampai ke rumah sebelum atau kalau terlambat setelah makan malam. Atau paling telat tengah malam deh.

Tapi kemudian saya mendapat kabar kalau bus nya rusak di tengah hutan. DI TENGAH HUTAN. Malam-malam. Dan dekat dengan jurang. Dan bahkan waktu saya menawarkan diri untuk menjemput, dia malah bilang kalau dia berada di antah berantah, dan segala usaha untuk menjemputnya akan berakhir dengan malapetaka (baca: nyasar). Lebay emang.

Hasilnya?

Saya tidak tidur sepanjang malam.

Di TV acaranya sudah re-run beberapa kali. Rajutan saya sudah bertambah 10 cm. Saya sudah sit up beberapa kali. Makan semangkok mi instan. Menghabiskan kerupuk dalam toples. Dan saya tetap tidak bisa tidur, menunggu si Mon pulang turun gunung. Intinya, saya hanya mau mengatakan bahwa saya adalah kakak yang sangat baik dan perhatian.

Anyway, duabelas jam ber lalu, dan jam 7 pagi tadi, Mon memberi kabar kalau dia sudah bisa jalan, dan saya pun akhirnya bisa tidur.

Kucrut memang. But, well… Home is where the heart is. Maybe a home feels a little less homey when your heart isn’t there.

Advertisements

4 responses

  1. Pingback: Home | SuperByq