Monthly Archives: November 2010

TROY: The Gods Must Be Crazy

Standard

Saya adalah penggemar film bergenre war-epic. Apalagi film-film dengan sentuhan sejarah/legenda seperti ancient Chinese, ancient Greek/Roman, ancient… Apapun yang ancient, karena biasanya banyak budaya yang terlibat di dalamnya. Dan salah satu film kesukaan saya adalah Troy.

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, jauh sebelum saya menonton Troy, saya sudah membaca ceritanya di salah satu buku ensiklopedia Mitos dan Legenda yang saya punya di rumah. Troy yang merupakan remake dari film Helen of Troy, diangkat dari salah karya sastra dunia oleh Homer, sastrawan Yunani, Illiad. (Tapi saya belum pernah baca… Sayangnya)

Dalam film itu, tidak diceritakan bagian yang mengawali kisah bagaimana Helen dan Paris bisa bertemu. Diceritakan bahwa di sebuah pesta di Olympus, salah seorang dewa yang merasa tidak suka dengan pesta itu memutuskan untuk membuat kekacauan. Di tengah pesta dia melemparkan sebuah apel emas, dengan pesan: “untuk yang tercantik”.

Tentu saja dewi-dewi di sana tidak ada yang mau kalah cantik dibanding dewi yang lain, tapi tentunya ada tiga orang dewi yang paling kuat pengaruhnya, hingga akhirnya muncul tiga kandidat utama. Hera, istri sah Zeus (mengingat Zeus punya banyak selir di luar, baik yang dewi, manusia, atau setengah-setengah). Athena, dewi kebijaksanaan. Dan, Aphrodite, dewi cinta.

Karena para dewa tahu bahwa siapapun yang dipilih bakalan membuat dua dewi yang lain ngambek, dan itu akan membuat kekacauan di Olympus, maka mereka memutuskan untuk menyerahkan tanggung jawab ini pada manusia. Manusia yang beruntung (atau sial?) ini adalah Paris, yang disebut-sebut sebagai manusia yang paling ganteng pada saat itu (para dewa ga keberatan, karena mau seganteng apapun dia tetap saja cuma manusia).

Saat Paris diperintahkan untuk memilih, para dewi itu berusaha menyogok Paris untuk menyerahkan apel itu kepada mereka. Hera menawarkan power melebihi kekuatan manusia-manusia lain. Athena, tentu saja, menawarkan kebijaksanaan para dewa. Aphrodite, menjanjikan Paris untuk bisa mendapatkan manusia perempuan tercantik yang ada saat itu.

Namanya juga laki-laki, yah? Paris memilih tawaran Aphrodite dan memilihnya untuk mendapatkan apel emas itu. Tentu saja dua dewi yang lain tidak senang, dan berencana menghancurkan Troy, negaranya si Paris ini (karena Zeus sudah memberikan perlindungan bagi Paris, sehingga dia bisa memilih siapapun tanpa takut tiba-tiba mati dibunuh oleh para dewa).

Sampailah saatnya janji Aphrodite ditepati, dan Paris bertemu dengan Helen of Sparta, si perempuan tercantik di muka bumi yang ternyata juga istri dari Menelaus. Dan… Selanjutnya kalian tahu sendiri, atau tonton aja film Troy.

Inilah yang selalu saya pikirkan tentang free-will. Sama seperti para dewa itu memberikan free-will pada Paris, dan menjanjikan yang baik-baik kalau dia menggunakan free-will nya untuk memilih mereka, tapi in the end ngambek juga kalau kemudian tidak dipilih. Those Gods must be crazy!

Beberapa bulan yang lalu, saya pernah menulis sesuatu yang mirip dengan ini. Tapi saya tidak ingat, saya publish di sini atau di blog satunya (yang hilang itu). Analoginya seperti ketika kamu disuruh memilih sepatu atau tas. Kamu ingin sepatu, tapi mamamu ingin tas, dan memberikan hadiah ekstra kalau kamu membeli tas. Tapi kamu tetep memilih sepatu, karena kamu lebih suka itu… Dan mamamu memutuskan untuk memberikan sepatu sekaligus mengurungmu di kamar karena tidak memilih tas.

Aneh kan?

Emang.

Advertisements

Bybyq Sekolah Lagi

Standard

Beberapa minggu yang lalu, setelah saya berulang tahu, Mama menanyakan pada saya hadiah yang saya inginkan sebagai hadiah ulang tahun. Awalnya saya menolak, karena agak malu juga meminta hadiah ulang tahun di umur segini. Tetapi setelah Mama memaksa agak lama, saya berjanji akan memberi tahu hadiah ulang tahun apa yang benar-benar saya inginkan.

Sebelumnya saya sedang berburu beasiswa ke luar negeri, sehingga saya bisa mendaftar kuliah lagi untuk mendapatkan s2. Ternyata pengalaman skripsi yang penuh derita itu tidak membuat saya kapok. Tapi ternyata mendapat beasiswa itu tidak mudah.

Dan saya pun menemukan hadiah ulang tahun apa yang saya inginkan. Seandainya saya tidak bisa mendapatkan beasiswa, saya minta hadiah ulang tahun saya berupa “beasiswa” dari Mama. Mama senang bisa memberi saya sesuatu di hari ulang tahun saya, dan saya pun senang bisa mendapatkan sesuatu yang tidak akan pernah bisa habis.

Tentu saja, untuk bisa mendapatkan kesepakatan mengenai “beasiswa” yang akan saya dapatkan nanti, saya mesti banyak-banyak berkompromi. Saya dan orang tua saya punya cara pandang yang cukup berbeda mengenai pendidikan tinggi lanjutan. Menurut mereka, meraih gelar master tidak terlalu penting, dan mereka ingin saya lebih dulu kerja sebelum kuliah lagi.

Berbeda dengan nenek saya.

Nenek saya dulunya adalah pengajar.

Nenek saya mungkin adalah satu-satunya yang mendukung penuh niat saya untuk kuliah lagi. Dulu, waktu saya sempat mengajar bahasa inggris di salah satu bimbel dekat rumah, nenek saya semangat setengah mati dengan apa yang saya kerjakan. Berulang-ulang dia bertanya apakah saya mau mengajar lagi.

Tentu saja saya mau. Itu kenapa saya mau belajar lagi… Saya mau mengajar…

Dan begitu nenek saya mendengar bahwa saya mau jadi penjara juga, seketika itu mencerahkan harinya. Dia masak banyak sekali, dan merasa perlu membelikan saya banyak oleh-oleh sepulang dia pergi liburan nanti. Yang sebenarnya tidak perlu.

Jadi…

Bybyq mungkin akan sekolah lagi 😀 dan senang akan hal itu. Apakah semua senang? *hore*

He’s So Lucky To Have You… NOT

Standard

Once upon a time, when I was still blinded by a one-sided friendship…

Perempuan itu berkata pada saya tentang mantan pacarnya dan pacar barunya. Saya tidak pernah punya kebiasaan membandingan pacar dengan mantan, dan saya pikir itu memang tindakan yang sudah tepat. Tapi mungkin perempuan ini punya cara berpikir yang tidak sama dengan saya. Tidak bisa disalahkan.

Dia bilang, mantan pacarnya bodoh karena sudah melepaskan dia. Pacarnya sekarang, yang saat itu masih jadi calon pacarnya (saya tidak tega bilang kalau saat itu si cowok hanya digantungkan saja karena perempuan ini belom yakin akan sesuatu, misalnya: her own sexuality, his manliness, or maybe his financial security) mengatakan bahwa whoever yang jadian sama perempuan ini pasti adalah manusia beruntung.

Saya pun bertanya kenapa. Saya tahu kenapa orang yang jadian sama saya adalah orang yang beruntung, tapi saya tidak tahu kenapa orang yang jadian sama perempuan ini adalah orang yang beruntung. Seriously.

Perempuan ini, mengutip kata-kata si cowok yang hampir beruntung itu, berkata bahwa perempuan semacam dia itu langka ditemukan saat ini. Relatively pretty (hey, apa saya pernah bilang joke yang selalu dikatakan teman-teman cowok saya di Solo? They said: cantik itu relatif… Jelek itu mutlak…), relatively smart (sekali lagi… Pinter itu relatif, bego itu mutlak…), bisa masak dan suka bersih-bersih rumah. Si cowok yang selama ini sebatang kara di negeri orang, mendambakan pasangan yang bisa mengurus rumahnya (ahey! Kaya iklan kontak jodoh!)

Sekali waktu, saya berhasil keluar dari pertemanan itu dan meninjau ulang apa yang saya dengar, saya katakan, dan mungkin saya setujui saat itu. Kemudian saya merasa, seandainya saya harus menjumpai pernyataan yang sama seperti tadi, saya seharusnya tidak setuju.

What?

Apakah bisa masak dan suka bersih-bersih rumah adalah kriteria istri? Atau punya kemampuan menjaga anak menujukkan bahwa kamu punya kualitas menjadi ibu yang baik? Jangan bikin saya mati ketawa dengan pernyataan yang sudah terlambat beberapa abad ini.

Saya yakin semua orang beruntung kalau menemukan perempuan yang bisa masak dan suka beres-beres rumah… sebagai pembantu. Atau menemukan orang yang suka anak-anak dan bisa dipercaya mandiin dan nyuapin balita… sebagai baby sitter. Untuk apa cari istri yang cuma berperan sebagai pembantu dan baby sitter (plus plus)? Toh dengan cost yang lebih sedikit, siapapun bisa mendapatkan pembantu, baby sitter dan WTS expert yang bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan basic tadi dengan sempurna (dan tentunya dengan lebih banyak variasi).

Come on…

Seandainya saya mau cari istri, saya nggak mau dapet perempuan yang lebih tertarik dengan bagaimana menghabiskan apa yang saya hasilkan setiap bulannya untuk pengeluaran-pengeluaran di sektor hura-hura dan tidak pernah memikirkan tabungan dan investment. Saya tidak mau cari perempuan yang tidak tahu bagaimana caranya mengajarkan kepada anak, apa itu boundary dan dignity, atau tentang self respect.

Si mantan, menurut saya lebih tepat saat mengatakan bahwa perempuan ini harus bekerja. Bukan karena si mantan ga sanggup ngehidupin nih perempuan (meskipun saya tau, siapapun yang ngehidupin perempuan ini pasti empot-empotan memenuhi wishlist of branded stuff-nya), tapi membuat si perempuan ini lebih mengenal nilai uang, membuat perempuan ini mengenal dunia yang lain selain dunianya sekarang (dan toh kalau ternyata nantinya mau jadi ibu rumah tangga dan full time mother, tidak masalah).

No.

Ini tentang perbedaan cara pikir yang ekstrim antara saya dan perempuan ini.

Tapi bagi saya, apakah si pacar sekarang ini beruntung mendapatkan calon istri yang HANYA bisa masak dan bersih-bersih rumah? Hm…

Tidak.

Pikir Dulu Tujuh Kali

Standard

Saya mungkin tidak terlalu bersahabat dengan anak-anak kecil, tapi anak-anak kecil suka dengan saya. Bukannya nyombong, tapi begitulah kenyataanya. Terbukti waktu saya membantu persiapan pernikahan saudara sepupu saya hari ini, saya bertemu dengan keponakan saya yang masih berusia 2,5 tahun.

Beberapa tahun yang lalu saya sempat menjadi pengajar bahasa inggris di salah satu bimbingan belajar di dekat rumah. Anak-anak sangat suka dengan saya. Saya curiga ada beberapa alasan mereka suka saya ajar. Yang pertama karena saya memang kids magnet (meskipun harapan saya, saya bukan kids magnet tapi chick magnet). Yang kedua, karena muka saya seperti anak-anak maka mereka mengira saya teman mereka. Yang ketiga karena saya tidak suka sok galak sama mereka, jadi mereka ga takut sama saya.

Apapun itu alasannya, hari ini saya “dikerjai” oleh Alex, keponakan saya ini.

Serius deh.

Dari mana datangnya semua energi itu?

Anak itu disuruh makan susah, disuruh tidur juga susah. Saya tidak tahu dari mana sumber energinya sampai dia bisa heboh seharian, sedangkan saya tantenya yang cukup tidur dan kebanyakan makan ini tidak bisa mengimbangi energinya. Sempat terpikir bahwa semua anak-anak terlihat punya energi berlebih karena mereka menggunakan semua energinya untuk bergerak, tapi sedikit berpikir (mau mikirin apa juga gitu). Sedangkan, berpikir itu menghabiskan lebih banyak energi… Jadi… Begitulah… *malukarenamembuatpembenarandiri*

Melihat si ibu muda tunggang langgang dikerjai anaknya saat saya memutuskan untuk istirahat, nenek si bocah, yaitu tante saya berkata: “pikir dulu tujuh kali…”

For what?

Untuk menawarkan diri membantu sang mama yang sedang terbirit-birit mengejar anaknya yang tidak bisa diam? Atau untuk punya anak?

Jujur saja, saya memang bersenang-senang dengan Alex. Tapi, menjadi kids magnet dan sanggup bersenang-senang dengan seorang anak yang terlalu bersemangat tidak serta merta membuat saya sanggup menjadi orang tua. Saya hanya melihat senangnya bermain dengan Alex. Saya tidak mengalami kawatir seharian, panik saat anak itu tiba-tiba ngilang di balik meja, atau kejar-kejaran untuk menyuapi anak itu makan.

Beberapa hari yang lalu, saya melihat rerun acara Oprah, di mana Oprah mewawancarai seorang unemployed single mother dengan 14 anak, Nadya Suleman. Pada saat Nadya Suleman memutuskan untuk memiliki bayi kembar delapan, publik mulai membicarakan dan menentang. Saya termasuk satu yang menentang, btw, karena alasan yang dia berikan sangat tidak masuk akal. Tapi toh anak-anak itu dilahirkan juga…

Kemarin, si kembar delapan berusia delapan belas bulan saat Nadya diwawancara oleh Oprah. Dengan berbagai ungkapan baik yang lugas maupun diperhalus, Nadya Suleman mengatakan bahwa tindakannya untuk memaksakan diri mengasuh empatbelas orang anak adalah egois dan kekanakan. See? I was right… (As usual)

Punya anak pada saat tidak siap memilikinya adalah tindakan egois dan kekanakan. Nadya mengatakan bahwa dia memiliki banyak anak sebagai kompensasi karena dia dulunya anak tunggal. Dan, karena dia punya sel telur yang diawetkan yang sudah hampir habis masa pengawetannya… Dan sekarang dia mati-matian menghidupi anak-anaknya.

Pikir dulu tujuh kali, kata tante saya…

You’re Not My Friend Anymore

Standard

Tidak sering dalam kehidupan saya, saya memutuskan untuk tidak berteman lagi dengan seseorang. Bukan dalam artian saya memutuskan untuk tidak pergi dengan orang yang sama lagi, atau saya tidak mau bergaul dengan orang-orang tertentu lagi, tapi yang saya maksud di sini adalah saya benar-benar tidak mau berteman dengan orang ini lagi. Bukan hanya karena saya melihat sudah tidak ada gunanya lagi berteman dengan orang ini (karena pada dasarnya dalam berteman saya tidak terlalu melihat untung rugi) tapi lebih karena saya sudah tidak lagi melihat niat baik dari dia untuk menjadi teman saya.

Oke, mungkin saya juga punya andil dalam rusaknya hubungan pertemanan ini, tapi saya punya alasan yang jelas mengapa pada awalnya saya menjauhkan dia dari hidup saya. Yang pertama, karena dia terlalu jauh melakukan intervensi ke dalam hidup saya, dan yang kedua, saya tidak lagi cocok dengan gaya hidupnya. Saya tidak peduli apakah pacarnya sanggup membiayai hidup jor-jorannya di luar negeri atau membayari kuliahnya yang tidak selesa-selesai. Saya juga tidak akan mempermasalahkan kebiasaan ngomong besar dan pamer nya itu, karena saya memang tidak tertarik dengan apa yang dia bicarakan. Tapi saya melihat ke arah mana pertemanan ini nantinya, yang pasti bukan ke arah yang saya inginkan, maka saya memutuskan tidak berteman dengannya lagi.

Kemarin setelah saya mengganti status BB saya untuk mengabari orang-orang di sekitar saya bahwa Stu mati, orang tersebut menghubungi saya. Saya tahu maksudnya untuk berbela sungkawa, sehingga saya pun menanggapinya, dan sekaligus memberi tahu bahwa Bo juga baru saja mengalami hal yang sama. Oh… daripada saya dikira berbohong, saya akan copy paste persis seperti apa yang ada di BB saya.

(Nama orang ini saya singkat saja, karena selain suka ganti-ganti, saya sudah malas menulis namanya)

WN: Omg! Stu si ham ham kan????

Superbyq.com: Yup… He’s in peace

WN: 😦 singkat skali hidupnyaaaaa

WN: 😥

Superbyq.com: Kmrn Bo baru aja mati

Superbyq.com: Kayanya emang rentang hidup hamster segitu deh

WN: Oh yah? Rentang hidup hamster lo kali byq? Hahahaha

Superbyq.com: Funny win

Superbyq.com: Bye

Apakah kalian melihat ada yang salah dengan orang ini? Apakah kalian bisa melihat ada yang salah dengan kelakuannya? Apakah kalian bisa melihat ada yang salah dengan kata-katanya di sana?

Banyak di antara teman-teman saya di BBM yang tidak bereaksi terhadap kabar duka cita Stu, mungkin mereka menganggap itu nggak penting, tapi saya tidak kecewa. Pertama, mereka mungkin belum pernah melihat Stu, dua, mungkin mereka menganggap hamster itu nggak sepenting itu. Tapi mereka tidak perlu mengatakan itu di depan saya. And if you think you don’t care about it, just shut your mouth. Saya toh tidak akan menyuruh kalian mengirimkan ucapan duka cita yang mendalam atas matinya Stu.

Saya toh tidak mengharapkan Stu dikasihani. Captain Stu hidup dengan harga diri dan integritas sebagai hamster. Dia tidak ingin dikasihani, dan dia mati dengan bangga. So, apa gunanya dia harus pura-pura sedih kalau tidak benar-benar sedih? Buat saya kelakuannya layak membuat dia saya keluarkan dari friendlist.

Saya tidak merasa apa-apa, toh sebelumnya dia juga sudah jauh dari saya. I think I have done my best.

And message to my dear ex-friend:

All that glitter is not gold, keep digging, you’ll find none.

RIP Captain Stu

Standard

Mengagetkan memang, tidak lama setelah Monsigneur Bo kemarin mati, Captain Stu mati hanya dalam hitungan jam. Yang menyedihkan adalah, karena sudah berpengalaman dengan Bo, kita jadi ekstra hati-hati dengan Stu. Sampai pagi hari saat kami menonton TV, kami masih bisa mengomentari kelakuan Stu, dan malamnya, Stu sudah tidak bergerak lagi.

Tidak banyak yang bisa dilakukan seseorang saat menghadapi kehilangan seperti ini. Stu sudah dikuburkan dengan baik di bawah semak-semak yang bunganya paling bagus yang bisa saya temukan. Meskipun saya tidak bisa menggali terlalu dalam dengan menggunakan sendok plastik, tapi saya berharap saya sudah melakukan hal yang terbaik untuk Stu.

Farewell, Stu…

May you rest in peace