Pikir Dulu Tujuh Kali

Standard

Saya mungkin tidak terlalu bersahabat dengan anak-anak kecil, tapi anak-anak kecil suka dengan saya. Bukannya nyombong, tapi begitulah kenyataanya. Terbukti waktu saya membantu persiapan pernikahan saudara sepupu saya hari ini, saya bertemu dengan keponakan saya yang masih berusia 2,5 tahun.

Beberapa tahun yang lalu saya sempat menjadi pengajar bahasa inggris di salah satu bimbingan belajar di dekat rumah. Anak-anak sangat suka dengan saya. Saya curiga ada beberapa alasan mereka suka saya ajar. Yang pertama karena saya memang kids magnet (meskipun harapan saya, saya bukan kids magnet tapi chick magnet). Yang kedua, karena muka saya seperti anak-anak maka mereka mengira saya teman mereka. Yang ketiga karena saya tidak suka sok galak sama mereka, jadi mereka ga takut sama saya.

Apapun itu alasannya, hari ini saya “dikerjai” oleh Alex, keponakan saya ini.

Serius deh.

Dari mana datangnya semua energi itu?

Anak itu disuruh makan susah, disuruh tidur juga susah. Saya tidak tahu dari mana sumber energinya sampai dia bisa heboh seharian, sedangkan saya tantenya yang cukup tidur dan kebanyakan makan ini tidak bisa mengimbangi energinya. Sempat terpikir bahwa semua anak-anak terlihat punya energi berlebih karena mereka menggunakan semua energinya untuk bergerak, tapi sedikit berpikir (mau mikirin apa juga gitu). Sedangkan, berpikir itu menghabiskan lebih banyak energi… Jadi… Begitulah… *malukarenamembuatpembenarandiri*

Melihat si ibu muda tunggang langgang dikerjai anaknya saat saya memutuskan untuk istirahat, nenek si bocah, yaitu tante saya berkata: “pikir dulu tujuh kali…”

For what?

Untuk menawarkan diri membantu sang mama yang sedang terbirit-birit mengejar anaknya yang tidak bisa diam? Atau untuk punya anak?

Jujur saja, saya memang bersenang-senang dengan Alex. Tapi, menjadi kids magnet dan sanggup bersenang-senang dengan seorang anak yang terlalu bersemangat tidak serta merta membuat saya sanggup menjadi orang tua. Saya hanya melihat senangnya bermain dengan Alex. Saya tidak mengalami kawatir seharian, panik saat anak itu tiba-tiba ngilang di balik meja, atau kejar-kejaran untuk menyuapi anak itu makan.

Beberapa hari yang lalu, saya melihat rerun acara Oprah, di mana Oprah mewawancarai seorang unemployed single mother dengan 14 anak, Nadya Suleman. Pada saat Nadya Suleman memutuskan untuk memiliki bayi kembar delapan, publik mulai membicarakan dan menentang. Saya termasuk satu yang menentang, btw, karena alasan yang dia berikan sangat tidak masuk akal. Tapi toh anak-anak itu dilahirkan juga…

Kemarin, si kembar delapan berusia delapan belas bulan saat Nadya diwawancara oleh Oprah. Dengan berbagai ungkapan baik yang lugas maupun diperhalus, Nadya Suleman mengatakan bahwa tindakannya untuk memaksakan diri mengasuh empatbelas orang anak adalah egois dan kekanakan. See? I was right… (As usual)

Punya anak pada saat tidak siap memilikinya adalah tindakan egois dan kekanakan. Nadya mengatakan bahwa dia memiliki banyak anak sebagai kompensasi karena dia dulunya anak tunggal. Dan, karena dia punya sel telur yang diawetkan yang sudah hampir habis masa pengawetannya… Dan sekarang dia mati-matian menghidupi anak-anaknya.

Pikir dulu tujuh kali, kata tante saya…

Advertisements

Comments are closed.