He’s So Lucky To Have You… NOT

Standard

Once upon a time, when I was still blinded by a one-sided friendship…

Perempuan itu berkata pada saya tentang mantan pacarnya dan pacar barunya. Saya tidak pernah punya kebiasaan membandingan pacar dengan mantan, dan saya pikir itu memang tindakan yang sudah tepat. Tapi mungkin perempuan ini punya cara berpikir yang tidak sama dengan saya. Tidak bisa disalahkan.

Dia bilang, mantan pacarnya bodoh karena sudah melepaskan dia. Pacarnya sekarang, yang saat itu masih jadi calon pacarnya (saya tidak tega bilang kalau saat itu si cowok hanya digantungkan saja karena perempuan ini belom yakin akan sesuatu, misalnya: her own sexuality, his manliness, or maybe his financial security) mengatakan bahwa whoever yang jadian sama perempuan ini pasti adalah manusia beruntung.

Saya pun bertanya kenapa. Saya tahu kenapa orang yang jadian sama saya adalah orang yang beruntung, tapi saya tidak tahu kenapa orang yang jadian sama perempuan ini adalah orang yang beruntung. Seriously.

Perempuan ini, mengutip kata-kata si cowok yang hampir beruntung itu, berkata bahwa perempuan semacam dia itu langka ditemukan saat ini. Relatively pretty (hey, apa saya pernah bilang joke yang selalu dikatakan teman-teman cowok saya di Solo? They said: cantik itu relatif… Jelek itu mutlak…), relatively smart (sekali lagi… Pinter itu relatif, bego itu mutlak…), bisa masak dan suka bersih-bersih rumah. Si cowok yang selama ini sebatang kara di negeri orang, mendambakan pasangan yang bisa mengurus rumahnya (ahey! Kaya iklan kontak jodoh!)

Sekali waktu, saya berhasil keluar dari pertemanan itu dan meninjau ulang apa yang saya dengar, saya katakan, dan mungkin saya setujui saat itu. Kemudian saya merasa, seandainya saya harus menjumpai pernyataan yang sama seperti tadi, saya seharusnya tidak setuju.

What?

Apakah bisa masak dan suka bersih-bersih rumah adalah kriteria istri? Atau punya kemampuan menjaga anak menujukkan bahwa kamu punya kualitas menjadi ibu yang baik? Jangan bikin saya mati ketawa dengan pernyataan yang sudah terlambat beberapa abad ini.

Saya yakin semua orang beruntung kalau menemukan perempuan yang bisa masak dan suka beres-beres rumah… sebagai pembantu. Atau menemukan orang yang suka anak-anak dan bisa dipercaya mandiin dan nyuapin balita… sebagai baby sitter. Untuk apa cari istri yang cuma berperan sebagai pembantu dan baby sitter (plus plus)? Toh dengan cost yang lebih sedikit, siapapun bisa mendapatkan pembantu, baby sitter dan WTS expert yang bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan basic tadi dengan sempurna (dan tentunya dengan lebih banyak variasi).

Come on…

Seandainya saya mau cari istri, saya nggak mau dapet perempuan yang lebih tertarik dengan bagaimana menghabiskan apa yang saya hasilkan setiap bulannya untuk pengeluaran-pengeluaran di sektor hura-hura dan tidak pernah memikirkan tabungan dan investment. Saya tidak mau cari perempuan yang tidak tahu bagaimana caranya mengajarkan kepada anak, apa itu boundary dan dignity, atau tentang self respect.

Si mantan, menurut saya lebih tepat saat mengatakan bahwa perempuan ini harus bekerja. Bukan karena si mantan ga sanggup ngehidupin nih perempuan (meskipun saya tau, siapapun yang ngehidupin perempuan ini pasti empot-empotan memenuhi wishlist of branded stuff-nya), tapi membuat si perempuan ini lebih mengenal nilai uang, membuat perempuan ini mengenal dunia yang lain selain dunianya sekarang (dan toh kalau ternyata nantinya mau jadi ibu rumah tangga dan full time mother, tidak masalah).

No.

Ini tentang perbedaan cara pikir yang ekstrim antara saya dan perempuan ini.

Tapi bagi saya, apakah si pacar sekarang ini beruntung mendapatkan calon istri yang HANYA bisa masak dan bersih-bersih rumah? Hm…

Tidak.

Advertisements

One response