TROY: The Gods Must Be Crazy

Standard

Saya adalah penggemar film bergenre war-epic. Apalagi film-film dengan sentuhan sejarah/legenda seperti ancient Chinese, ancient Greek/Roman, ancient… Apapun yang ancient, karena biasanya banyak budaya yang terlibat di dalamnya. Dan salah satu film kesukaan saya adalah Troy.

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, jauh sebelum saya menonton Troy, saya sudah membaca ceritanya di salah satu buku ensiklopedia Mitos dan Legenda yang saya punya di rumah. Troy yang merupakan remake dari film Helen of Troy, diangkat dari salah karya sastra dunia oleh Homer, sastrawan Yunani, Illiad. (Tapi saya belum pernah baca… Sayangnya)

Dalam film itu, tidak diceritakan bagian yang mengawali kisah bagaimana Helen dan Paris bisa bertemu. Diceritakan bahwa di sebuah pesta di Olympus, salah seorang dewa yang merasa tidak suka dengan pesta itu memutuskan untuk membuat kekacauan. Di tengah pesta dia melemparkan sebuah apel emas, dengan pesan: “untuk yang tercantik”.

Tentu saja dewi-dewi di sana tidak ada yang mau kalah cantik dibanding dewi yang lain, tapi tentunya ada tiga orang dewi yang paling kuat pengaruhnya, hingga akhirnya muncul tiga kandidat utama. Hera, istri sah Zeus (mengingat Zeus punya banyak selir di luar, baik yang dewi, manusia, atau setengah-setengah). Athena, dewi kebijaksanaan. Dan, Aphrodite, dewi cinta.

Karena para dewa tahu bahwa siapapun yang dipilih bakalan membuat dua dewi yang lain ngambek, dan itu akan membuat kekacauan di Olympus, maka mereka memutuskan untuk menyerahkan tanggung jawab ini pada manusia. Manusia yang beruntung (atau sial?) ini adalah Paris, yang disebut-sebut sebagai manusia yang paling ganteng pada saat itu (para dewa ga keberatan, karena mau seganteng apapun dia tetap saja cuma manusia).

Saat Paris diperintahkan untuk memilih, para dewi itu berusaha menyogok Paris untuk menyerahkan apel itu kepada mereka. Hera menawarkan power melebihi kekuatan manusia-manusia lain. Athena, tentu saja, menawarkan kebijaksanaan para dewa. Aphrodite, menjanjikan Paris untuk bisa mendapatkan manusia perempuan tercantik yang ada saat itu.

Namanya juga laki-laki, yah? Paris memilih tawaran Aphrodite dan memilihnya untuk mendapatkan apel emas itu. Tentu saja dua dewi yang lain tidak senang, dan berencana menghancurkan Troy, negaranya si Paris ini (karena Zeus sudah memberikan perlindungan bagi Paris, sehingga dia bisa memilih siapapun tanpa takut tiba-tiba mati dibunuh oleh para dewa).

Sampailah saatnya janji Aphrodite ditepati, dan Paris bertemu dengan Helen of Sparta, si perempuan tercantik di muka bumi yang ternyata juga istri dari Menelaus. Dan… Selanjutnya kalian tahu sendiri, atau tonton aja film Troy.

Inilah yang selalu saya pikirkan tentang free-will. Sama seperti para dewa itu memberikan free-will pada Paris, dan menjanjikan yang baik-baik kalau dia menggunakan free-will nya untuk memilih mereka, tapi in the end ngambek juga kalau kemudian tidak dipilih. Those Gods must be crazy!

Beberapa bulan yang lalu, saya pernah menulis sesuatu yang mirip dengan ini. Tapi saya tidak ingat, saya publish di sini atau di blog satunya (yang hilang itu). Analoginya seperti ketika kamu disuruh memilih sepatu atau tas. Kamu ingin sepatu, tapi mamamu ingin tas, dan memberikan hadiah ekstra kalau kamu membeli tas. Tapi kamu tetep memilih sepatu, karena kamu lebih suka itu… Dan mamamu memutuskan untuk memberikan sepatu sekaligus mengurungmu di kamar karena tidak memilih tas.

Aneh kan?

Emang.

Advertisements

Comments are closed.