Monthly Archives: December 2010

Bola dan Nasionalisme

Standard

Saya tidak sedang meniru-niru topik yang sedang diungkit di salah satu stasiun tipi, tapi kemenangan Indonesia di piala AFF sampai semi final ini, membuat saya teringat wacana yang sempat muncul santer pada waktu piala dunia kemarin. Wacana serupa juga muncul waktu perebutan piala Thomas dan Uber tidak lama yang lalu. Saya mencoba memikirkan, kenapa olah raga menjadi penting untuk membangun nasionalisme bangsa…

Pada jaman dahulu kala, prestise sebuah negara dilihat melalui kekuatan yang dimilikinya, dan itulah sebabnya mereka berperang, menunjukkan kekuatannya. Semakin besar negaranya, semakin bangga rakyat negara tersebut akan bangsanya. Semakin sering mereka menang perang, semakin nasionalis warganya karena mereka merasa bangga dengan kemenangan-kemenangan itu. Kemenangan dalam perang menunjukkan kekuatan, superioritas, keberhasilan untuk menundukkan bangsa lain, dan saya pikir itu jugalah yang menyebabkan munculnya negara-negara kolonialis.

Kemudian, manusia tidak lagi berperang. Perang dilihat sebagai sebuah tindakan menghabis-habiskan sumber daya, tidak hanya sumber daya manusia yang mati di medan laga, tapi juga keuangan negara. Tidak terhitung banyaknya kerugian negara yang berperang (itu kenapa Amerika Serikat merugi karena tentaranya tidak segera ditarik dari timur tengah… STUPID). Besarnya biaya untuk membayar gaji prajurit, amunisi, biaya ¬†intelijen perang dan masih banyak lagi… (belum lagi dikecam warga dunia karena dianggap sebagai negara barbar dan haus darah) tidak sepadan dengan prestise yang diinginkannya.

Perang kemudian direduksi. Ingat filem TROY, dimana dua negara yang berperang hanya ditentukan kemenangannya melalui pertarungan dua prajurit terkuat mereka. Setelah budaya kolonial ditinggalkan, kemenangan prajurit terkuat hanya berbuah prestise dan superioritas.

Mungkin bosan hanya dengan permainan pedang, mulailah permainan-permainan fisik yang biasa dilakukan di ‘kampung-kampung’ dijadikan tolok ukur kemampuan mereka. Badminton, misalnya, asalnya adalah permainan yang dilakukan di India dan Inggris. Ping pong, pada awalnya merupakan permainan yang dikembangkan di Cina. Sepak bola yang juga awalnya berasal dari Cina mungkin menyebar setelah dikembangkan di Inggris melalui jajahannya. “Perang” kini ditunjukkan dengan cara yang lebih halus, lebih tidak memakan korban, dan tetap merupakan pertaruhan prestise tingkat tinggi.

Mengirim kontingen olah raga, bagi saya tidak ada bedanya dengan mengirimkan gladiator ke medan perang untuk melawan gladiator lawan. Kompetisi antar negara moderen, negara dengan peradaban tidak lagi ditunjukkan dengan perang militer. Kompetisi antar negara seperti pertandingan olah raga, olimpiade sains, atau kompetisi yang bersifat ‘swasta’ seperti The Amazing Race Asia atau The Biggest Loser Asia, yang membawa nama Indonesia ke kancah internasional adalah contoh ‘perang’ peradaban.

Itu jugalah kenapa saya berharap banyak pada final nanti. Jangan sampai kita kalah dengan negara tetangga itu. Setidaknya di acara “The Amazing Race Asia s4” kemarin kita sudah menang lawan mereka, kali ini pun kita harus babat habis negara kecil yang sombong itu.

Advertisements

My Name Is Bybyq, And I am An Addict

Standard

Saya sering melihat di tipi-tipi atau di pelem-pelem luar, ada yang namanya AA, atau Alcoholic Anonymous. Bukan hanya AA, banyak kegiatan-kegiatan serupa dibuat bagi para pecandu, untuk merehabilitasi dirinya sendiri. Rehabilitasi tersebut dilakukan dengan cara si pecandu, atau pasien yang ingin sembuh bergaul dengan orang-orang lain yang sama seperti dirinya untuk membicarakan masalahnya dan mencoba memecahkan masalah mereka. Sayangnya tidak banyak, atau setidaknya saya tidak pernah mendengar hal yang sama ada di Indonesia.

Pecandu, biasanya paling sering dikaitkan dengan hal-hal seperti obat-obatan terlarang, atau minuman beralkohol atau rokok. Tapi, kalau kalian nonton pelem “Confession of Shopaholic” , seharusnya memang ada pengkategorian lain terhadap “kecanduan”; seperti misalnya di film itu, kecanduan belanja. Seharusnya ada yang membuat kegiatan-kegiatan serupa untuk mereka yang kecanduan hal-hal lain, misalnya kecanduan ngemil, kecanduan nonton, kecanduan BLEKBERI…

Saya selalu mendapatkan komplain tentang kebiasaan saya merokok, dan mereka yang melihat saya merokok suka meributkan tentang bahaya kecanduan merokok. Saya tidak kecanduan merokok, saya melakukan itu bukan karena saya kecanduan, tentunya saya bisa berhenti kapanpun saya mau dan saya tidak mengalami fase-fase kecanduan yang merongrong apabila kebutuhan atas “candu” tersebut tidak dipenuhi. Beberapa orang lain, yang tidak bersentuhan dengan rokok dan alkohol (dan juga obat-obatan) kebanyakan lebih rendah tingkat kesadaran mereka mengenai kecanduan.

Kesalahan besar.

Sebagian besar teman perempuan yang saya tahu, tidak merokok dan tidak minum, ketagihan belanja. Beberapa teman laki-laki yang saya kenal, ketagihan game online atau porn. Beberapa yang lain ketagihan bekerja dan menjadi workaholic. Yang lain ketagihan blackberry (atau handphonnya), dan bisa ngamuk-ngamuk seharian kalau tidak dapat signal di gunung.

Saya? Kalau saya ketagihan internet.

Sudah saya bilang saya tidak ketagihan rokok. Tidak ada masalah kalau saya tidak merokok seharian, tapi saya pasti terlihat seperti orang tolol kalau saya tidak bersentuhan dengan internet seharian. Akhir-akhir ini, saya kembali ‘kambuh’ akan ketagihan saya terhadap salah satu game online, Tribalwars.

Beberapa tahun lalu, saya tidak bisa tidak berada di depan komputer, karena saya harus mengawasi game saya ini. Lebih dari dua jam tanpa pengawasan, desa saya bisa tiba-tiba kena serangan beruntun dan saya bisa kehabisan prajurit di sana. Saya bisa menghabiskan 10 jam bermain game ini seharian, dan menghabiskan sisanya untuk membicarakan game ini, dan memimpikannya waktu tidur. Pada masa-masa ini, hubungan saya dengan si Monyed sedang dipertaruhkan, begitu juga dengan kuliah saya yang pada saat itu sedang ‘agak’ terganggu, dan akhirnya saya memutuskan untuk tidak bermain lagi.

Sampai beberapa waktu yang lalu, entah kenapa saya iseng main. Dan saya kembali menghabiskan berjam-jam mengawasi bagaimana desa ini tumbuh dan mempersiapkan diri saya untuk berperang beberapa hari nanti. Saya bahkan bisa membuat diary bagaimana perang ini nanti akan berlangsung. Saya bahkan rela untuk membayar beberapa dollar untuk mendapatkan premium account supaya saya bisa selalu mengakses game ini melalui HP saya. Seandainya si Monyed tidak mengingatkan, mungkin saya sudah benar-benar melakukannya.

Rokok? Rokok tidak ada apa-apanya dibandingkan ini.

Jujur saja, tidak banyak orang yang menyadari bahwa semua orang punya kesempatan yang sama untuk menjadi seorang junkie. Hanya saja, mereka ‘nagih’ di hal-hal yang berbeda. Bagi saya, tidak ada satupun dari proses ‘nagih’ itu yang tidak berbahaya. Saya membayangkan teman-teman saya yang dulu bahkan bisa tidur di warnet karena mempertahankan ‘spot’ mereka di game online, atau mereka yang terjebak di hutang kartu kredit karena belanja yang tidak pernah terpuaskan. Mungkin pada saat ini banyak orang yang berpikir bahwa mereka tidak mungkin kecanduan akan sesuatu.

Setidaknya itu yang saya pikirkan dulu.

What’s your addiction?

Not So Busy Day

Standard

Saya mulai berpikir, bahwa jangan-jangan orang-orang di sekitar saya benar, dan saya harus mulai mencari kegiatan lain. Apa daya, kegiatan bermalas-malasan di rumah terlalu menyenangkan untuk dilakukan, apalagi saya menemukan kesenangan baru dengan memainkan permainan-permainan lama, seperti: TribalWars.

Beberapa tahun lalu saya tergila-gila dengan game tersebut, saya bahkan sempat menjadi leader di sebuah tribe di salah satu world continent. Sayangnya saya kemudian berhenti bermain, selain karena permainan tersebut benar-benar menghabiskan waktu, saya merasa agak bosan pada saat itu. Dan berhubung sekarang saya mulai ada waktu lagi, saya merasa senang bisa kembali memainkan game tersebut.

Saya tahu saya tidak ada tampang orang yang suka main game online. Tapi seperti beberapa hal yang lain, misalnya blogging, rokok, dan minum, orang-orang juga selalu bilang saya tidak punya tampang untuk itu. Moga-moga saja, nanti waktu saya menambahkan gelar Professor pada nama saya, orang-orang tidak mengatakan hal yang sama tentang itu.

Yang menyebalkan adalah, hari ini koneksi internet benar-benar buruk, dan tidak ada yang lebih menyebalkan selain koneksi internet yang buruk pada saat kita sedang main game online. Koneksi internet yang biasanya cepat karena mendapat signal HSDPA, turun kecepatan menjadi EDGE setiap beberapa menit. Tepatnya setiap kali saya mau ‘berburu resources’, dan membuat ‘pekerjaan’ saya terganggu.

Sekarang, mumpung internet lagi bagus, saya mau balik lagi ke game. See you around.

Milestones (2)

Standard

mari… mari saya lanjutkan. Terima kasih bagi yang sudah rela menunggu satu hari untuk mendapatkan lanjutan life review saya selama satu tahun ini. Setelah hal-hal yang berhubungan dengan blogging, dan rekreatif seperti buku dan film, saya lanjutkan dengan pencapaian-pencapaian yang lebih serius.

6. Lulus kuliah

Ini penting buat saya. Selain karena akhirnya saya mendapatkan gelar dan tidak perlu lagi kuliah di kampus itu, tapi ini lebih pada kepuasan pribadi karena sudah membuktikan pada orang tua saya bahwa saya bisa. Tentu saja, ini menyenangkan, di luar kegelisahan saya menghadapi wisuda. Karena sebelumnya saya pernah putus kuliah, ini juga menunjukkan pada keluarga besar saya bahwa saya bukannya ga mampu (CIH!).

7. Dapet kerja

Yah… ini juga sudah saya buktikan. Saya bisa dapet kerja dan saya pernah bekerja. Menurut saya ini sangat penting karena saya tahu bahwa beberapa dari anggota keluarga besar saya berpikir bahwa saya adalah spoiled brat yang tidak bisa apa-apa. Well, mungkin saya memang spoiled brat, tapi saya bukannya tidak bisa apa-apa. ūüėÄ

8. Postingan di beberapa forum internasional

Sebenarnya ini kerja kecil-kecilan. Saya dibayar untuk posting di beberapa tempat, dan penghasilannya lumayan buat jajan atau beli sepatu. Tapi saya tidak berhasil mencapai apa pun dari sini tahun ini. Saya bisa saja beralasan bahwa saya kemarin disibukkan oleh skripsi dan lain-lain… tapi bukan itu sebenarnya. Saya memang agak malah saja. Pada akhirnya penghasilan online saya selama setahun ini (yang saya targetkan mencapai 100 dollar) bahkan tidak mencapai 10 dollar.

9. Tabungan

Saya melakukan hal baik dengan menabung tahun ini dan itu berhasil. Sebelum akhirnya saya menghabiskannya dengan membeli laptop, saya sudah berhasil mencapaitarget tabungan tahun ini. Senangnya. Itu menbuktikan bahwa saya masih bisa menabung, kalau saya mau. Toh sebenarnya pada saat saya sedang berhemat, bukan berarti saya harus hidup sengsara -_-”

10. Lain-lain

Yang saya maksud lain-lain ini sifatnya rekreatif. Misalnya target saya untuk mencoba 20 restoran baru, atau mencoba beberapa makanan seru, tapi saya tidak lakukan tahun ini. Mungkin tahun depan.

Milestones (1)

Standard

Jauh sebelum ini, di awal tahun saya punya beberapa resolusi yang harus saya tepati untuk tahun ini. Dan meskipun entry tentang resolusi tahun baru saya itu sudah hilang karena blog tersebut ikut hilang, tapi saya setidaknya masih ingat beberapa di antaranya.

Setelah masuk bulan Desember, sepertinya saya harus mulai melakukan review dari apa saja yang telah saya capai. Bukan bermaksud untuk merayakannya, tapi rasanya menyenangkan kalau mengetahui bahwa ada sesuatu yang bisa saya capai, menandakan bahwa saya sudah melakukan perkembangan sejak setahun yang lalu. Okay… dimulai dari hal-hal yang sudah saya lakukan:

1. 100 post di blog

Gampang saja… kalau di blog ini (yang dimulai dari bulan April) saja saya sudah mencapai lebih dari 100 entry, maka sudah jelas saya melakukan tugas ini dengan baik. Tujuan saya membuat ini sebagai pencapaian adalah melatih konsistensi saya dalam melakukan sesuatu. Saya adalah tipe orang yang sering berhenti di tengah jalan saat apa yang saya lakukan sudah mulai membaik. Dengan berusaha menjadi konsisten dalam blog, setidaknya saya melatih diri saya untuk tidak dengan mudah berhenti di tengah jalan.

2. Menonton 100 award winning movies

Sepertinya yang ini sudah tercapai tapi saya tidak ingat apa saja yang sudah saya tonton. Kalau ada waktu coba saya review satu-satu. Tapi beberapa review film yang sudah saya tonton ada di blog ini kok, cek aja satu-satu kalau mau tau…

Diantaranya: Caramel, Hunger, An Education, The Kite Runner, A Touch of Spices, Everybody’s Fine, dan The Road

3. Membaca 10 Buku Bahasa Inggris.

Nah, yang ini lebih mudah. Entah kenapa kalau mengingat buku lebih mudah untuk saya daripada mengingat film. Yang sudah saya baca tahun ini adalah:

– Captain Corelli’s Mandolin

– Life of Pi

– Acqua Alta

– Kiki Strike

– Tatty

– Thigmoo

– Indelible

– A Thousand Splendid Suns

– The Boy in A Striped Pajamas

– The Kite Runner

– The Time Traveller’s Wife

– (re-read) Mistress of Spices

dan yang sedang on progress: Around The World in 80 Days

4. 50 Buku BAGUS Berbahasa Indonesia

Okay… Listnya lebih panjang… dan sepertinya saya belum memenuhi quota ini:

– Bumi Manusia

– Anak Semua Bangsa

– Jejak Langkah

– Rumah Kaca

– Ibuku dan Si Turki (terjemahan)

– Teraphy (terjemahan)

– Jampi-Jampi Varaiya

– Perahu Kertas

– Entrok

– Killing A Mockingbird (terjemahan)

– Air Mata Iblis (terjemahan)

Р Tea For Two

– Smokol (kumpulan cerpen)

– Ways To Live Forever (terjemahan)

– Wednesday Letters (terjemahan)

– Janda-Janda Metropolitan

– Ayu Manda

Tuh kan masih kurang banyak. Moga2 kekejar 50 buku deh

5. 10000 page views untuk blog

Yang ini saya yakin sebenernya udah nyampe, cuman karena account saya hilang (termasuk di dalamnya google analytics), saya tidak bisa membuktikan bahwa saya sudah mendapatkan lebih dari 10000 page views dalam setahun ini. Moga-moga tahun depan bisa terbukti.

(To Be Continued)

Hampir Setahun

Standard

Yap yap…

Hampir setahun saya ngeblog dengan hosting sendiri seperti ini.

Bukan apa-apa… dan saya bukan tipe orang yang suka merayakan milestone-milestone (selain anniversary saya dengan si Monyed, soalnya itu berarti si Monyed nraktir saya makan-makan enak). Yang agak mengganggu saya mengenai setahun usia blog ini adalah… saya menggunakan blog ini dengan mubazir.

Sewaktu masih kecil, Papa selalu mengingatkan saya untuk mempersiapkan diri sebelum melakukan sesuatu. Misalnya kalau mau pergi ke luar kota sama teman-teman, Papa akan mengingatkan dan membawakan uang jajan berlebih. Atau kalau membeli makanan atau cemilan khas saat kami berlibur ke luar kota, Papa lebih suka membeli secara berlebihan. Atau kalau mencampur warna untuk pewarna sablon, lebih baik cat sablon nya sisa daripada kurang dan harus mencampur ulang dengan resiko warna cat nya tidak sama. Alasannya mudah, menurut Papa… mending kelebihan daripada kekurangan.

Nggak salah… Itu sama aja ngomong: “mendingan jadi orang kaya daripada jadi orang miskin”.

Itu pula yang terjadi saat saya memutuskan untuk membeli hosting ini.

Karena kebetulan saya mendapatkan harga yang murah, saya pun segera kalap dan membeli paket dengan kapasitas terbesar. Seperti apa yang Papa saya katakan, mendingan lebih daripada kurang, saya pun membeli paket dengan kapasitas hard disk 5GB.

Coba bayangkan apa yang bisa saya lakukan dengan 5GB itu? Oh.. Salah. Pertanyaan yang benar adalah: MAU NGAPAIN SAYA DENGAN 5GB?

Sampai saat ini, dengan banyak upload-an theme dan gambar di sini saja, saya tidak pernah berhasil mencapai 100MB. Awalnya mau saya gunakan untuk apa kek gitu… tapi teman-teman saya yang suka sibuk sendiri itu kemudian membatalkan diri membuat komunitas…

Jadilah 4GB itu tersia-siakan begitu saja.

Tapi, kalau ditanya apakah saya mau menurunkan kapasitas (downgrade) saat daftar ulang (ciyeh, daftar ulang kaya anak sekolahan aja) nanti, maka saya akan dengan yakin menjawab tidak. Jujur aja, saya masih berpikir bahwa kelebihan lebih baik daripada kekurangan. Saya tetap paranoid, kalau seandainya tiba-tiba kapasitasnya tidak mencukupi, maka akan ribet buat saya dan orang-orang yang datang ke blog ini. Iya kan?

orang baik banyak temannya

Standard

Ditulis sambil agak sedikit mabok Bailey’s

Beberapa waktu yang lalu saya menonton film “The Social Network” bersama si Monyed di bioskop dekat rumah. Dalam cerita itu, ceritanya si Mark, pendiri salah satu social network paling besar saat ini, diceritakan sebagai orang aneh yang tidak punya banyak teman. Dan bahkan, pada akhirnya si Mark ini, karena apa yang dilakukannya kemudian dituntut oleh sahabatnya sendiri. Satu-satunya sahabat yang dia miliki.

Selama beberapa hari saya sempat berpikir bahwa memang semua orang yang jenius pasti tidak punya teman. Kadang kala, ketika seseorang begitu pintarnya, dia tidak bisa mengendalikan sisi sosialnya. Dari apa yang saya pelajari (teman-teman yang lulusan psikologi tolong bantuin), manusia ituy memiliki beberapa jenis intelejensia. Bukan cuma intelejensia versi markisa, tapi intelejensia versi beneran, versi manusia bumi.

Secara teoritis, ini disebut dengan multiple intelligences; yaitu: Spatial, Linguistic, Logical-mathematical, Bodily-kinesthetic, Musical, Interpersonal, Intrapersonal, Naturalistic, dan  Existential.

Beberapa orang memiliki kemampuan lebih di bidang linguistik. Pernah dengar atau bahkan kenal seseorang yang mampu menguasai beberapa bahasa sekaligus? Di mana kita yang susah payah mempelajari Bahasa Inggris selama hampir seumur hidup saja belum tentu bisa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, ini orang bukan cuma bisa cas cis cus dalam Bahasa Inggris, bahkan bisa menirukan beberapa dialek bahasa sekaligus, misalnya. Pernah dengar orang yang begitu ahli di bidang olah raga, tapi bahkan menghitung perkalian sederhana saja mesti menggunakan kalkulator?

Mungkin pada jaman saya dulu, yang paling beruntung adalah mereka yang mempunyai logical-mathematical intelligence dengan level yang cukup tinggi. Setidaknya pada saat saya masih kecil dulu, dari sanalah definisi “pintar” dan “bodoh” dibentuk. Untungnya anak-anak sekarang (dan tentunya anak-anak saya nanti) tidak perlu mengalami hal tersebut, karena orang tua- orang tua jaman sekarang lebih memahami konsep multiple intelligence semacam ini.

Mark, si pendiri facebook yang pintarnya bukan main ini, diceritakan sebagai seorang yang jenius di bidang programming, tetapi sangat payah setiap kali berhubungan dengan orang lain. Sekilas dia terlihat seperti sociopath yang berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan tanpa memikirkan orang lain di sekitarnya. Tapi bagi saya, yang berhari-hari memikirkan situasi itu, saya hanya melihat… mungkin… si Mark ini emang punya level logical-mathematical yang sangat tinggi, tapi sangat rendah di bidang interpersonal intelligence. Siapa yang bisa menyalahkan.

Dari definisinya, kemampuan interpersonal adalah kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan dengan orang-orang lain di sekitarnya. Jujur saja, saya sendiri termasuk orang yang punya level interpersonal intelligence yang sangat rendah. Saya tidak mudah berteman, apalagi orang-orang yang saya temui dalam kehidupan nyata. Beberapa orang mungkin menganggap saya agak aneh, atau bahkan melihat saya seperti si Mark (bukan IQ nya yang pasti). Mungkin mereka melihat saya sebagai orang yang sulit bersosialisasi (dan itu benar) dan  tidak mau bergaul dengan orang lain (dan yang ini tidak selalu benar).

Waktu kecil, saya sering mendengar dari banyak cerita rakyat, atau dongeng-dongeng, atau berbagai cerpen bobo, yang menyatakan bahwa orang baik selalu memiliki banyak teman. Sayangnya ketika saya dewasa, stigma yang sama tertancap di benak banyak orang termasuk saya, dan saya mulai berpikir, mungkin saya bukan orang baik. Kemudian, orang-orang seperti saya mulai membuat alasan-alasan yang sebenarnya tidak perlu. Pada akhirnya kami selalu bisa menjawab bahwa tidak semua orang diberi kemampuan atau intelegensia di bidang interpersonal sama baiknya dengan orang-orang lain.

Saya tidak.

Mungkin saya bukan orang terbaik di dunia… tapi yang jelas saya bukan orang jahat. Meksipun saya tidak punya banyak teman… toh akhirnya saya tahu, banyak sedikitnya teman, bukan ukuran baik tidaknya seseorang…

Hari ini teman saya menikah

Standard

Saya baru saja pulang dari pesta pernikahan kedua teman saya. Saya mengenal mereka semasa saya masih kuliah sebelum saya pindah ke kampus yang itu. Dan di sana, saya bertemu dengan teman-teman lama saya.

Sebenarnya, saya bukannya tidak senang bertemu dengan teman-teman lama saya, karena saya dulu akrab dengan orang-orang ini. Tapi, jujur saja, tadi waktu kami bertemu… maksud saya, untuk sebuah pertemuan setelah bertahun-tahun tidak bertemu, saya rasa pertemuan itu agak terasa sedikit hambar. Bukannya saya ingin menyalahkan, tapi menurut saya ini karena saya mengajak si Monyed ke sana.

Saya merasa tidak melakukan kesalahan mengajak si Monyed ke sana. Memangnya kenapa? ¬†Saya tahu, ada perasaan canggung antara teman-teman saya itu dengan si Monyed, seperti orang-orang lain pada umumnya, tapi saya rasa saya tidak sedang melakukan kesalahan, karena saya hanya melakukan apa yang tertulis di undangan: BYBYQ AND PARTNER!! Mungkin dari sini saya bisa menilai teman yang mana yang bisa menerima saya apa adanya, dan mana yang tidak. Setidaknya, saya tahu saya sudah cukup terbuka kepada mereka. And that’s the way I am.

Jadi, saya hanya mau mengucapkan selamat menempuh hidup baru, dan semoga berbahagia untuk teman saya itu… terlepas dari orang-orang yang membuat saya mati gaya di sana, saya menikmati acaranya… Saya menikmati tempat dan suasananya… Saya menikmati makanannya… dan saya juga menghargai undangannya ūüôā Semoga langgeng-langgeng, dan seperti kata tante, semoga kamu cepat dapat momongan supaya tante cepat bisa ngemong cucu.

HORAY…

Kenapa Bybyq Ga Mau Pergi Ke Acara Wisuda

Standard

Tentu saja, terlepas dari alasan bahwa toga yang akan kami gunakan nanti adalah berupa kostum aneh yang membuat kami akan terlihat seperti makhluk luar angkasa, masih banyak alasan yang membuat saya tidak ingin pergi ke acara wisuda. Sebelum saya menjelaskan alasan yang lain, saya harus meyakinkan semua orang bahwa toga itu benar-benar tidak layak tampil di permukaan. Saya belum mencobanya, dan saya tidak berniat melihat bentuknya sampai nanti hari H. Serius… saya tidak sedang mood mempermalukan diri sendiri.

Saya tidak mengerti kenapa saya harus pergi ke acara wisuda tersebut. Jujur saja, saya tidak melihat untungnya buat saya, karena saya sudah mendapatkan transkrip dan ijazah saya. Pergi ke acara wisuda itu hanya membuang-buang waktu saya, orang tua saya, adik-adik saya… dan juga semua pelaksana dan panitia. Acara graduation semacam itu mulai terasa seperti hallmark-holiday buat saya… meaningless festive. Sudah pasti kerjaannya orang-orang kapitalis yang mengeruk keuntungan dari membuat ratusan toga dan menawarkan jasa foto.

Toh, baru saya tahu beberapa minggu yang lalu bahwa ternyata ada beberapa orang yang benar-benar memutuskan tidak datang di acara wisuda nanti. Saya rasa mereka itu membuat keputusan yang tepat, salah satunya karena mereka tidak membuang uang untuk foto dan membeli baju wisuda yang tidak waras itu. Toh esensi kelulusan sebenarnya tidak ditunjukkan dengan foto saya mengenakan toga ajaib, tapi dengan nilai yang tertera di atas kertas transkrip dan gelar yang dipejeng di belakang nama saya di ijazah.

Lagipula… bukankah saya sudah terlalu tua untuk wisudaan? Saya sudah terlalu tua untuk merayakan hal-hal semacam ini. Atau malah bagi orang tua saya, ini kesempatan untuk merayakan bahwa “AKHIRNYA” si bybyq yang bebal ini lulus kuliah juga. Intinya… kemeriahan semacam ini tidak mendatangkan apa-apa untuk saya… saya hanya berharap saya bisa mendapatkan sinyal yang cukup bagus sehingga saya bisa menggunakan HP saya selama acara wisuda itu dilaksanakan.

Tapi lalu kata-kata tante saya membuat saya sadar sedikit. Mungkin hal yang sama terjadi pada semua peserta wisuda di sana… Mungkin mereka juga sebenarnya tidak seantusias itu mengikuti acara wisuda. Mungkin mereka sebenarnya juga malas mempertontonkan diri mereka dengan kostum aneh itu. Mungkin mereka juga sebenarnya malas ada di sana dan meninggalkan hal-hal yang mungkin lebih seru dilakukan. Tapi mungkin, memang acara wisuda ini bukan untuk mereka. Bukan untuk kami.

Mungkin acara ini memang bukan untuk kami yang lulus, tapi untuk mereka yang ingin melihat kami secara simbolik menyelesaikan pendidikan kami. Untuk orang tua, untuk keluarga yang lain yang ingin melihat apa yang sudah kami capai. Saya pun merasa, mungkin acara ini berarti besar untuk kedua orang tua saya yang tidak pernah lulus kuliah… melihat anak-anaknya (dua sekaligus) menyelesaikan pendidikannya dengan gelar sarjana. Mungkin itu sebabnya kedua orang tua saya menjadi begitu rempongnya ingin menghadiri acara ini.

Dan saya pun jadi agak maklum.

Meskipun dalam hati saya berharap orang tua saya nggak bisa datang dan saya nggak perlu wisudaan… tapi menurut saya, apa yang dilakukan orang tua saya, berlebai ria itu, wajar.

Di akhir tulisan ini, tiba-tiba saya merasa agak sedikit menua tiba-tiba… Wisudaan membuat saya tua dalam sekejap…

update dulu sebelom posting…

Standard

Iya… saya tahu saya udah lama nggak posting. Maaf bukannya malas, tapi akhir-akhir ini saya lagi buntu…

Bukan buntu ide atau buntu kreatifitas… Banyak hal yang sudah lebih dulu muncul di kepala saya tapi saya ternyata buntu dalam merangkai kata. Apa pun yang saya tulis rasanya kok jadi terdengar agak lebay, misalnya seperti tulisan saya kali ini. Baiklah saya mulai mencoba mengupdate apa saja yang sudah terjadi belakangan ini…

Pertama… akhirnya saya sudah punya gelar. Meskipun wisudanya belom, tapi saya sudah dapat ijazah dan nilai (dan ini membuat saya berpikir untuk tidak ikutan wisuda saja, daripada harus diabadikan dalam kostum aneh itu). Nilai saya cukup memuaskan, dan sebenarnya saya sempat menyesali seandainya saya tidak malas-malasan mungkin saya bisa mendapat nilai yang lebih baik lagi. Jadi… perkenalkan… nama saya Bybyq, S.Sos.

Yang kedua… karena gelar tersebut saya dapatkan berdekatan dengan ulang tahun saya kemarin, saya memutuskan untuk berbaik hati kepada diri saya sendiri, dan menghadiahi diri saya sendiri dengan sebuah laptop. Lumayan lah… dengan bantuan si Monyed saya berhasil mendapatkan laptop yang bisa saya gunakan untuk main the sims 3, dengan harga yang tidak terlalu mahal. Saya berharap laptop ini bisa bertahan sama lamanya dengan komputer saya, sebagai pendahulunya (8 thn)

Kegiatan saya sehari-hari, menulis dan menulis. Mencoba nulis blog, batal melulu… nulis artikel nggak jadi-jadi… akhirnya saya kembali lagi pada hobi lama saya menulis fiksi. Bukannya mau saingan sama pemilik blog tetangga, tapi saya merasa saat-saat seperti ini memang moment nya pas banget kalau mau mulai menulis lagi.

Selain menulis, tentu saja saya juga main game. Game favorit saya, sekarang berubah wujud… kalau dulu saya pakai windows XP, maka game solitairenya seperti itu… sekarang dengan windows 7 game solitairenya ganti wajah. Nggak masalah sebenarnya, cuma saya belum terbiasa saja melihatnya. Lalu, sebagaimana tujuan wal saya membeli laptop ini, adalah untuk memuaskan saya dalam bermain game… saya pun tancap gas dengan menginstall the sims 3. Lain kali kalau ada waktu untuk keluar rumah, mungkin saya akan membeli expansion pack lanjutannya.

Oh ya… ngomong-ngomong adik saya yang juga akhirnya lulus juga dan sudah menjadi seorang desainer interior sekarang memilih bekerja freelance. Memang nggak gampang mulainya, karena dia harus mulai cari kenalan satu demi satu, dan saya sebagai kakak yang baik mau membantu jualan… siapa tahu saya dapat pembagian hasil… Portfolio adik saya bisa dilihat di SINI. Atau kalau ada yang butuh interior designer bisa kontak saya di sini.

Horay…

Selesailah sudah saya mengupdate blog ini. Selamat datang bulan desember… Happy International AIDS Day.