Kenapa Bybyq Ga Mau Pergi Ke Acara Wisuda

Standard

Tentu saja, terlepas dari alasan bahwa toga yang akan kami gunakan nanti adalah berupa kostum aneh yang membuat kami akan terlihat seperti makhluk luar angkasa, masih banyak alasan yang membuat saya tidak ingin pergi ke acara wisuda. Sebelum saya menjelaskan alasan yang lain, saya harus meyakinkan semua orang bahwa toga itu benar-benar tidak layak tampil di permukaan. Saya belum mencobanya, dan saya tidak berniat melihat bentuknya sampai nanti hari H. Serius… saya tidak sedang mood mempermalukan diri sendiri.

Saya tidak mengerti kenapa saya harus pergi ke acara wisuda tersebut. Jujur saja, saya tidak melihat untungnya buat saya, karena saya sudah mendapatkan transkrip dan ijazah saya. Pergi ke acara wisuda itu hanya membuang-buang waktu saya, orang tua saya, adik-adik saya… dan juga semua pelaksana dan panitia. Acara graduation semacam itu mulai terasa seperti hallmark-holiday buat saya… meaningless festive. Sudah pasti kerjaannya orang-orang kapitalis yang mengeruk keuntungan dari membuat ratusan toga dan menawarkan jasa foto.

Toh, baru saya tahu beberapa minggu yang lalu bahwa ternyata ada beberapa orang yang benar-benar memutuskan tidak datang di acara wisuda nanti. Saya rasa mereka itu membuat keputusan yang tepat, salah satunya karena mereka tidak membuang uang untuk foto dan membeli baju wisuda yang tidak waras itu. Toh esensi kelulusan sebenarnya tidak ditunjukkan dengan foto saya mengenakan toga ajaib, tapi dengan nilai yang tertera di atas kertas transkrip dan gelar yang dipejeng di belakang nama saya di ijazah.

Lagipula… bukankah saya sudah terlalu tua untuk wisudaan? Saya sudah terlalu tua untuk merayakan hal-hal semacam ini. Atau malah bagi orang tua saya, ini kesempatan untuk merayakan bahwa “AKHIRNYA” si bybyq yang bebal ini lulus kuliah juga. Intinya… kemeriahan semacam ini tidak mendatangkan apa-apa untuk saya… saya hanya berharap saya bisa mendapatkan sinyal yang cukup bagus sehingga saya bisa menggunakan HP saya selama acara wisuda itu dilaksanakan.

Tapi lalu kata-kata tante saya membuat saya sadar sedikit. Mungkin hal yang sama terjadi pada semua peserta wisuda di sana… Mungkin mereka juga sebenarnya tidak seantusias itu mengikuti acara wisuda. Mungkin mereka sebenarnya juga malas mempertontonkan diri mereka dengan kostum aneh itu. Mungkin mereka juga sebenarnya malas ada di sana dan meninggalkan hal-hal yang mungkin lebih seru dilakukan. Tapi mungkin, memang acara wisuda ini bukan untuk mereka. Bukan untuk kami.

Mungkin acara ini memang bukan untuk kami yang lulus, tapi untuk mereka yang ingin melihat kami secara simbolik menyelesaikan pendidikan kami. Untuk orang tua, untuk keluarga yang lain yang ingin melihat apa yang sudah kami capai. Saya pun merasa, mungkin acara ini berarti besar untuk kedua orang tua saya yang tidak pernah lulus kuliah… melihat anak-anaknya (dua sekaligus) menyelesaikan pendidikannya dengan gelar sarjana. Mungkin itu sebabnya kedua orang tua saya menjadi begitu rempongnya ingin menghadiri acara ini.

Dan saya pun jadi agak maklum.

Meskipun dalam hati saya berharap orang tua saya nggak bisa datang dan saya nggak perlu wisudaan… tapi menurut saya, apa yang dilakukan orang tua saya, berlebai ria itu, wajar.

Di akhir tulisan ini, tiba-tiba saya merasa agak sedikit menua tiba-tiba… Wisudaan membuat saya tua dalam sekejap…

Advertisements

Comments are closed.