My Name Is Bybyq, And I am An Addict

Standard

Saya sering melihat di tipi-tipi atau di pelem-pelem luar, ada yang namanya AA, atau Alcoholic Anonymous. Bukan hanya AA, banyak kegiatan-kegiatan serupa dibuat bagi para pecandu, untuk merehabilitasi dirinya sendiri. Rehabilitasi tersebut dilakukan dengan cara si pecandu, atau pasien yang ingin sembuh bergaul dengan orang-orang lain yang sama seperti dirinya untuk membicarakan masalahnya dan mencoba memecahkan masalah mereka. Sayangnya tidak banyak, atau setidaknya saya tidak pernah mendengar hal yang sama ada di Indonesia.

Pecandu, biasanya paling sering dikaitkan dengan hal-hal seperti obat-obatan terlarang, atau minuman beralkohol atau rokok. Tapi, kalau kalian nonton pelem “Confession of Shopaholic” , seharusnya memang ada pengkategorian lain terhadap “kecanduan”; seperti misalnya di film itu, kecanduan belanja. Seharusnya ada yang membuat kegiatan-kegiatan serupa untuk mereka yang kecanduan hal-hal lain, misalnya kecanduan ngemil, kecanduan nonton, kecanduan BLEKBERI…

Saya selalu mendapatkan komplain tentang kebiasaan saya merokok, dan mereka yang melihat saya merokok suka meributkan tentang bahaya kecanduan merokok. Saya tidak kecanduan merokok, saya melakukan itu bukan karena saya kecanduan, tentunya saya bisa berhenti kapanpun saya mau dan saya tidak mengalami fase-fase kecanduan yang merongrong apabila kebutuhan atas “candu” tersebut tidak dipenuhi. Beberapa orang lain, yang tidak bersentuhan dengan rokok dan alkohol (dan juga obat-obatan) kebanyakan lebih rendah tingkat kesadaran mereka mengenai kecanduan.

Kesalahan besar.

Sebagian besar teman perempuan yang saya tahu, tidak merokok dan tidak minum, ketagihan belanja. Beberapa teman laki-laki yang saya kenal, ketagihan game online atau porn. Beberapa yang lain ketagihan bekerja dan menjadi workaholic. Yang lain ketagihan blackberry (atau handphonnya), dan bisa ngamuk-ngamuk seharian kalau tidak dapat signal di gunung.

Saya? Kalau saya ketagihan internet.

Sudah saya bilang saya tidak ketagihan rokok. Tidak ada masalah kalau saya tidak merokok seharian, tapi saya pasti terlihat seperti orang tolol kalau saya tidak bersentuhan dengan internet seharian. Akhir-akhir ini, saya kembali ‘kambuh’ akan ketagihan saya terhadap salah satu game online, Tribalwars.

Beberapa tahun lalu, saya tidak bisa tidak berada di depan komputer, karena saya harus mengawasi game saya ini. Lebih dari dua jam tanpa pengawasan, desa saya bisa tiba-tiba kena serangan beruntun dan saya bisa kehabisan prajurit di sana. Saya bisa menghabiskan 10 jam bermain game ini seharian, dan menghabiskan sisanya untuk membicarakan game ini, dan memimpikannya waktu tidur. Pada masa-masa ini, hubungan saya dengan si Monyed sedang dipertaruhkan, begitu juga dengan kuliah saya yang pada saat itu sedang ‘agak’ terganggu, dan akhirnya saya memutuskan untuk tidak bermain lagi.

Sampai beberapa waktu yang lalu, entah kenapa saya iseng main. Dan saya kembali menghabiskan berjam-jam mengawasi bagaimana desa ini tumbuh dan mempersiapkan diri saya untuk berperang beberapa hari nanti. Saya bahkan bisa membuat diary bagaimana perang ini nanti akan berlangsung. Saya bahkan rela untuk membayar beberapa dollar untuk mendapatkan premium account supaya saya bisa selalu mengakses game ini melalui HP saya. Seandainya si Monyed tidak mengingatkan, mungkin saya sudah benar-benar melakukannya.

Rokok? Rokok tidak ada apa-apanya dibandingkan ini.

Jujur saja, tidak banyak orang yang menyadari bahwa semua orang punya kesempatan yang sama untuk menjadi seorang junkie. Hanya saja, mereka ‘nagih’ di hal-hal yang berbeda. Bagi saya, tidak ada satupun dari proses ‘nagih’ itu yang tidak berbahaya. Saya membayangkan teman-teman saya yang dulu bahkan bisa tidur di warnet karena mempertahankan ‘spot’ mereka di game online, atau mereka yang terjebak di hutang kartu kredit karena belanja yang tidak pernah terpuaskan. Mungkin pada saat ini banyak orang yang berpikir bahwa mereka tidak mungkin kecanduan akan sesuatu.

Setidaknya itu yang saya pikirkan dulu.

What’s your addiction?

Advertisements

2 responses

  1. Komik…!
    Mengenalnya sejak TK dan ngga bisa lepas. Bisa memprioritaskan baca komik daripada ngerjain tugas… Or at least ngorbanin waktu tidur asal bisa baca komik dan ngerjain tugas….

    Like