Monthly Archives: January 2011

Hello Hometown

Standard

Ada beberapa alasan kenapa saya tiba-tiba ga posting setelah lebih dari seminggu posting dengan rajin. Memang belom saya beritakan sebelumnya bahwa saya akan menghabiskan beberapa hari di Solo sampai lewat Tahun Baru Imlek nanti. Dan bukannya di Solo saya susah mendapatkan koneksi internet yang bagus, bahkan kadang-kadang koneksi internet di sini lebih bagus, tapi memang bisa dibilang hampir tidak ada waktu untuk ngeblog.

Dua hari terakhir habis untuk mengurusi pernikahan salah satu saudara jauh kami. Tentu saja, acaranya nggak serepot seperti beberapa minggu lalu saat saudara sepupu saya menikah di Jakarta. Meskipun begitu, acara pernikahan ini membuat banyak saudara dari luar kota berdatangan ke sini dan membuat orang tua saya harus membuat penyambutan yang pantas akan kunjungan ini.

Acara pernikahannya… Yah… Begitulah. Namanya juga acara pernikahan. Ada mempelai, ada makanan, ada sekelompok penyanyi yang menghibur para undangan. Ada kerabat yang harus disapa, ada yang tidak harus tapi datang menyapa. Ada yang sudah lama tak bertemu, ada yang sering bertemu tapi tetap saja penting untuk ditemui. Dari yang datang ada yang tidak pernah berubah, ada yang begitu banyak berubah hingga nyaris tidak dikenali.

Satu hal tentang kembali ke kampung halaman: memori.

Bukan hanya saya yang mendapat flashback saat berada di sini. Orang-orang yang bertemu dengan saya pun mendapatkan flashback saat melihat saya setelah sekian lama. Beberapa mungkin mengingat yang baik-baik. Yang lain mungkin mengingat yang jauh lebih baik. Apa boleh buat, Bybyq ini memang orang baik.

Salam dari kampung halaman saya. Apa kabar semuanya?

You Didn’t Take Away My Dream

Standard

Emang macem-macem yang bisa dikatakan seseorang pada saat dia sedang emosional. Sayangnya sering kali kata-kata yang keluar tanpa dipikir terlebih dahulu itu berdampak negatif, terdengar negatif, atau lebih tepatnya sangat negatif dilihat dari berbagai sisi.

Saat saya masih SD dulu, guru saya mengatakan kepada kami sekelas sebuah trik untuk mencegah berantem dengan teman. Beliau mengatakan bahwa setiap kali ada hal buruk terjadi, dan kita ingin sekali mengatakan hal-hal yang tidak baik tentang seseorang atau kepada seseorang, kita harus cepat-cepat menarik nafas. Cepat-cepat kita tuliskan apa saja yang membuat kita kesal atau marah tanpa ada yang terlewat, lalu kalau kita masih marah bacakan saja langsung apa yang kita tulis di kertas itu.

Saat SMP, guru saya punya tips yang lain lagi. Kalau keadaan memburuk dan kita merasa marah kepada seseorang, dan hasrat untuk mengatakan hal-hal buruk dan jahat muncul, maka kita harus menarik nafas dan mengatakan pada orang tersebut, “saya lagi marah sama kamu lho”.

Setiap orang, saya yakin punya cara tersendiri, tapi intinya secara tidak langsung kita menyadari betapa berbahayanya akata-kata yang terucap pada saat sedang marah. Tanpa ingin memunculkan efek drama ala sinetron, tapi bayangkan letupan emosi macam opera sabun di mana dua orang emosi berteriak satu dengan yang lain dan mengatakan banyak hal yang saya yakin 100% akan mereka sesali, meskipun mereka tidak akan mengakuinya,

Begitu pun saya.

Beberapa waktu yang lalu saya berantem dengan si Onyed. Tidak usah khawatir, sebenarnya pertengkaran ini masih diambang batas wajar kok, bahkan masih termasuk biasa-biasa saja. Masalahnya pun sepele, kalau tidak bisa dibilang hanya masalah salah paham yang berkolaborasi dengan Pre Menstruation Syndrome. Tapi saya mengatakan sesuatu yang tidak benar dan tidak seharusnya dikatakan.

Saya mengatakan pada si Onyed bahwa dia menghalangi saya untuk mencapai mimpi saya. Saya bisa mengerti (sekarang) kenapa si Onyed marah banget waktu saya mengatakan itu, karena itu tentu saja tidak benar.
Saya adalah manusia dewasa, saya bertanggung jawab terhadap apa yang saya lakukan, tidak ada hubungannya dengan si Onyed. Saya bisa memilih melakukan atau tidak melakukan, mempercepat atau menunda, berhenti atau meneruskan, dan apabila saya tidak berhasil mencapai apa yang saya inginkan, sudah pasti itu salah saya bukan?

Agak canggung juga saya menceritakan ini, karena saya bukan tipe yang suka curcol. Tapi, tak apalah… Anggap saja ini edisi spesial permintaan maaf saya kepada si Onyed atas apa yang sudah saya katakan kemarin…

You didn’t take the dream away from me. You have given your best and I appreciate it. Thank you 🙂

I Want To Give Something To My Sister

Standard

Beberapa bulan terakhir ini entah kenapa salah seorang adik saya, La, yang selama ini tidak suka belajar bahasa tiba-tiba tertarik les bahasa. Tidak tanggung-tanggung, di semester santainya yang terakhir ini dia belajar langsung dua bahasa yang benar-benar asing buat saya maupun dia. Dia les Bahasa Jerman dan Bahasa Perancis sekaligus di kampusnya bersama dengan teman-temannya.

Seiring dengan perkembangan apa yang dia pelajari itu, makin lama dia makin condong menyukai Bahasa Jerman, dan bahkan mulai agak-agak gila menggunakan bahasa Jerman untuk menyebut benda-benda di dalam rumah. Beberapa minggu belakangan, setelah les Bahasa Jermannya berakhir di kampusnya, dia malah bilang dia mau les lanjutan di Goethe Institute. Dia juga berusaha mencari tempat kuliahan yang bagus di Jerman sesuai dengan apa yang dia pelajari selama kuliah ini.

Sekitar satu bulan yang lalu dia sempat mengatakan bahwa dia ingin membeli novel berbahasa Jerman. Meskipun saya sering beli novel online di Amazon, tapi saya tidak pernah tahu ada novel berbahasa Jerman di Amazon UK tempat saya biasa membeli novel (saya biasa beli buku menggunakan voucher yang saya dapatkan melalui menulis, dan voucher itu hanya bisa saya tukarkan di Amazon UK).

Jujur saja saya pernah jauh dari saudara-saudara perempuan saya. Ada masa-masa di mana saya menjauh dari mereka dan itu membuat saya merasa kecewa karena saya senang berada di dekat mereka. Saya mungkin tidak bisa mengganti waktu yang sudah hilang bersama dengan mereka, tapi saya yakin saya bisa memberikan sesuatu yang mereka sukai sebagai ganti apa yang pernah mereka lakukan kepada saya saat saya melakukan hal-hal bodoh di masa lalu saya.

Sebenarnya saya bisa aja ke blog tetangga yang sekarang lagi tinggal di Jerman dan nitip novel sama dia, tapi saya juga takut akan merepotkan. Kalau ada yang tahu di mana bisa menemukan website yang menjual buku berbahasa Jerman, atau toko buku yang menjual buku-buku yang berbahasa Jerman di Jakarta, saya akan sangat senang sekali kalau siapapun yang membaca blog ini bisa berbagi informasi dengan saya.

Anger Management

Standard

Ada alasan kenapa entry kali ini saya masukkan dalam kategori spesial. Tumben-tumbenan saya dapat pesenan posting dari seorang teman, untuk membuat entry tentang Anger Management, yang tentu saja ditulis dengan sotoy ala bybyq. Ya iya lah, kalau mau info tentang anger management yang beneran pasti nanyanya sama yang profesional di bidang psikologi, bukan sama blogger pengangguran kaya saya, kan?

Katakanlah, semua ini berawal dari seorang mutual friends yang kami kenal tidak berapa lama yang lalu di dunia maya. Cerita tentang orang ini mengingatkan saya kepada banyak kejadian tentang orang-orang yang ada di sekitar saya. Mengingatkan saya, bahwa people can be so mean sometimes, dan sering kali mereka bisa menjadi begitu jahat justru kepada orang yang paling mereka sayangi. Dan kalau ditanyakan kepada saya kenapa mereka melakukan itu, saya akan dengan jujur menjawab bahwa saya tidak tahu.

Tahun lalu, untuk proyek tugas akhirnya, adik saya Mon membuat proyek mengenai Woman Crisis Center. Saat mengerjakan tugas itu, Mon mendapatkan banyak informasi dan data mengenai seperti apa Woman Crisis Center, dan mengapa perlu ada Woman Crisis Center. Pada kenyataanya meskipun sudah ada undang-undang mengenai Kekerasan Dalam Rumah Tangga, tetapi masih sangat sedikit dari korban yang mau melaporkan diri, dengan banyak alasan masing-masing.

Dari data tersebut, Mon mengatakan bahwa para korban, sering kembali berulang-ulang masuk ke dalam siklus yang sama. Mon mengatakan itu juga terjadi pada salah seorang sahabatnya sendiri yang menjalani sebuah abusive relationship. Si korban akan berulang-ulang mengalami jatuh bangun sampai akhirnya kepercayaan dirinya runtuh dalam artian sulit percaya bahwa dia sebenarnya worth untuk dicintai dengan cara yang normal. Dalam keadaan ini korban akan menerima kembali pasangan yang kasar ini, setelah permintaan maaf yang tulus dan berbulan-bulan dengan kelakuan baik, yang kenyataannya kebiasaan kasar itu bisa kembali lagi.

Bukan berarti pasangan yang dikatakan kasar dan jahat ini tidak mencintai pasangannya. Beberapa malah mengatakan mereka tidak tahu bagaimana caranya menyayangi seseorang tanpa berbuat kasar. Masalahnya adalah mereka sering kali tidak tahu di mana batasan ‘kasar’ dan ‘salah’. Menurut undang-undang, bahkan penyerangan verbal sudah dapat dimasukkan dalam kategori Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Jadi, kalau pasangan mulai mencaci maki, mengeluarkan kata kasar dan bahkan mulai menyebut pasangannya dengan nama-nama yang tidak pantas, maka dia sudah dianggap melanggar UU KDRT.

Sayangnya, konseling yang diadakan di banyak tempat hanyalah ditujukan untuk membantu korban, bukan pelakunya, sedangkan menurut saya, mata rantai ini harus diputus di pelakunya. Korban mungkin saja move on dan menemukan orang lain, tapi pelakunya akan bisa mencari korban-korban baru, terutama kalau mereka tidak tahu bahwa ada yang salah dengan tindakan mereka memperlakukan pasangan mereka selama ini. Dan saya melihat banyak contoh.

Pelaku kekerasan di dalam rumah tangga menurut saya memiliki gangguan jiwa. Saya tidak mengatakan dia kelainan jiwa atau sakit jiwa, tapi saya yakin ada gangguan pada kejiwaannya. Entah dia memiliki sifat dominan yang terlalu berlebihan (dimana segala sesuatu yang sifatnya berlebihan itu tidak baik), atau dia memiliki rasa insecure berlebihan yang membuat dia harus melindungi diri dan keluarganya dengan ancaman baik fisik maupun verbal. Mungkin saja itu muncul dari masa kecil yang penuh kekerasan dari orang tuanya sehingga dia merasa bahwa kekerasan adalah jalan untuk menunjukkan afeksi kepada orang yang disayangi.

Kadang saya suka kesal pada orang tua yang mengatakan, “mama mukul kamu karena mama sayang sama kamu, mama nggak mau kamu berakhir jadi anak jalanan, jadi mama menghukum kamu dengan memukul”. Saya tidak suka mereka menanamkan ide bahwa “memukul” adalah tanda sayang. Bahkan mereka tidak mengatakan “maaf” setelahnya.

Saya merasa pelaku kekerasan ini (verbal maupun fisik) butuh Anger Management. Mereka juga membutuhkan konseling untuk mengontrol rasa marah itu supaya tidak muncul dalam bentuk yang destruktif. Saya mengenal banyak orang yang memiliki emosi yang tidak stabil. Saya yakin banyak seniman memiliki emosi yang bergolak-golak dengan mood yang selalu berubah-ubah. Tapi saya tahu, semakin seseorang melampiaskan kemarahannya dalam bentuk yang destruktif, makin buruk efeknya untuk dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Mumpung lagi membicarakan tentang hal ini, ada yang tahu nggak tempat konseling untuk anger management di Jakarta?

Nawala, Penting atau Tidak?

Standard

Jarang-jarang dapat signal untuk internet yang bagus, saya memutuskan untuk membuka salah satu website favorit saya. Elhadalah, kok ternyata website yang biasanya bisa dibuka dengan baik-baik saja, sekarang tidak bisa dibuka sama sekali. Malah website itu dialihkan ke page NAWALA. Saya mencoba membuka website lain yang sejenis, kok sama saja hasilnya, saya dialihkan ke NAWALA.

Ada apa gerangan?

Empet hati saya tidak bisa menikmati hari itu membuka website yang saya sukai padahal internet lagi kenceng-kencengnya, saya mencoba mencari tahu apa itu NAWALA. Dari beberapa blog (anehnya kok saya malah dapat info tentang makhluk ini dari blog-blog personal bukan dari situs resminya), saya mengetahui bahwa nawala project ini adalah proyek pemblokiran situs-situs yang dianggap memiliki konten pornografi, perjudian, internet phising, dan SARA.

Saya tidak habis pikir.

Bisa-bisanya si provider menyempatkan diri untuk bekerja sama dengan si nawala project ini menghalangi kesenangan pribadi pengguna-penggunanya, tapi tidak pernah beres membuat signal internet di daerah tempat saya tinggal menjadi lebih baik. Sebagai pengguna internet, yang saya inginkan adalah akses tanpa batas (kaya iklan), bukan akses terbatas karena nawala dan/atau kecepatan internet menyedihkan.

Kalau di dunia politik selalu ada kasus menyebalkan satu untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kasus yang sebenarnya, saya kok merasa si Nawala ini adalah pengalih dari kebobrokan layanan provider internet yang sebenarnya.

Kalau saya ditanya soal setuju atau tidak setuju dengan Nawala, saya akan menjawab saya kurang sejalan dengan proyek ini. Lha wong itu urusan personal manusia kok, buat apa orang lain ikutan utak atik? Kalau ada orang tua yang khawatir anaknya membuka konten pornografi, banyak program untuk membatasi kegiatannya. Kalau khawatir warnet menjadi tempat buat penyebaran konten pornografi, ya warnetnya aja yang dijerat dengan peraturan-peraturan.

Jangan karena sebagian orang ga suka, terus semua orang harus kena akibatnya?

Sekarang konten-konten itu ga bisa diakses. What’s next?

Kalau nanti banyak yang protes soal shareware, nanti shareware juga diblock? Kalau ada yang menganggap shareware sebagai alat untuk penyebaran pornografi, nanti shareware kena juga dilarang untuk dibuka?

Dan, satu hal yang membuat semua ini terasa bullshit buat saya. Nih saya ajarin yah, bagi yang pengen membobol si nawala ini. Cara pertama, cari saja di google dengan queary ‘cara menembus Nawala’. Atau, kalau yang sudah ahli menembus youtube dan blogspot waktu jaman blogger dan youtube diblock waktu itu, gunakan lagi ilmu proxy yang pernah sukses itu. Masih tetep sukses tuh.

Lihat betapa proyek ini nggak ada gunanya?

Nawala masih bisa ditembus. Tidak sulit pula melakukannya. Filtering seharusnya bukan dilakukan seperti itu. Kalau mau filtering lakukan secara perorangan, bukan massal kaya gini.

Saya tidak bisa menemukan kata-kata hinaan yang lebih buruk lagi dari apa yang sudah ada di kepala saya. Hh,,,

Superbyq Naik Pangkat

Standard

Setelah hampir setahun punya blog ini akhirnya Superbyq naik pangkat jadi PR1. Baru inget rasanya, bahwa ternyata naikin PR dari N/A sampai jadi 1 itu susahnya bukan main. Perasaan dulu pas masih pake platform blogger, naikin PR nggak sesusah itu deh. Apa jangan-jangan ada kongkalingkong orang dalam?

Eniwei, dengan meningkatnya Page Rank blog ini, bertambah juga semangat saya untuk tetap ngeblog dengan rajin tiap hari. Moga-moga sih bisa bikin 1 entry per hari atau bahkan malah bisa 2 entry sehari, meskipun rasanya kok lebay banget ya kalo posting banyak-banyak. Belom tentu ada yang baca juga…

Saking euforianya dengan kenaikan pangkat ini saya jadi mikir, apa sebaiknya saya tambahkan di resolusi tahun ini, yaitu untuk mencapai PR3 sebelum akhir tahun ya? Tapi saya tidak ingin muluk-muluk, toh banyak yang bilang PR tidak menentukan prestasi seseorang (hanya menentukan harga jual blog saja).

Nah, berhubung PR nya sudah naik, maka saya bisa dengan PD memasang widget yang menunjukkan ranking saya di dunia maya. Bukannya bertujuan untuk nyombong, tapi ini tujuannya untuk memicu semangat juang saya supaya angka 1 itu cepat-cepat berubah menjadi 2, dan seterusnya. Yap, bisa dibilang saya ini ambisius, dan PR minded, tapi apa boleh buat…

Akhir kata, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada banyak pihak yang sudah berperan serta dalam rangka meningkatnya ranking blog saya ini. Yang pertama tentunya para pembaca yang setia (dan yang tidak setia), para komentator yang suka datang dan pergi, Internet provider yang tidak terlalu sering jebot seperti dulu. Web hosting yang membuat blog ini masih tetap berjalan, dan tentunya orang tua yang masih membantu pembiayaan blog ini (meskipun orang tua saya nggak ada yang tau kalau saya punya blog ini – pengalaman mengatakan bahwa semakin sedikit yang diketahui orang tua mengenai kehidupan kita di dunia maya, maka semakin baik terjaga kehidupan pribadi kita).

Semoga di masa yang akan datang, para pembaca makin sering datang kembali dan membaca blog ini, menikmati dan mungkin mengkomeni. Provider makin waras dan tidak suka lemot-lemot lagi. Web hosting semakin baik performanya dan tidak pernah down sama sekali sampai 100 tahun yang akan datang meskipun maintenance apapun. Dan orang tua masih tetap bersedia membayari blog ini setidaknya sampai tahun depan (udah lewat tahun baru, udah deket sama waktunya bayar-bayar nih). Semoga dunia tetap berputar dan terus ada saja kejadian bodoh di negeri ini supaya dapat saya jadikan bahan tulisan yang menyenangkan. Semoga artis-artis negeri ini masih tetap melakukan tindakan-tindakan ajaib yang bisa membuat saya terinspirasi untuk menulis lebih banyak.

Baiklah…

Sekian dan terima kasih.

*tepuk tangan*

Simple Life, Bybyq Kebanyakan Nonton Tipi

Standard

Ini dia kalau kebanyakan nonton tipi. Bukannya terinspirasi dari kehidupan sehari-hari, yang ada malah saya kebanyakan berkhayal karena acara yang saya lihat di layar kaca. Misalnya kemarin saya baru saja nonton E! Channel. Nggak usah komentar kenapa saya suka nonton berita selebritis macam itu, karena namanya juga cewe, bagaimanapun saya ini haus gosip. Lagian, seaneh-anehnya isi berita di E!, infotainment ala holywood ini tetep lebih ada ‘isi’ nya daripada infotainment dalam negeri. (tapi saya udah nggak tau deng, infotainment dalam negeri sekarang isinya apaan)

Anyway, salah satu acara yang paling saya sukai di E! Channel adalah THS: True Hollywood Story. Bukannya saya pengen hijrah ke hollywood, tapi THS ini menceritakan kehidupan salah seorang tokoh hollywood yang fenomenal dengan berbagai sudut pandang. Ada cerita dari sudut pandang mantan pacar, tante, om, mantan guru, mantan teman sekolah, mantan manajer, orang tua, anak, dll., dengan menggunakan berbagai macam sumber untuk menggambarkan sosok yang ingin diceritakan ini dengan seutuh-utuhnya.

Nah, kemarin itu saya nonton THS tentang the Hilton Sisters.

Pas bagian Paris Hilton yang diceritain (mohon diingat, saya bukan fans-nya Paris Hilton), muncul juga cerita mengenai salah satu reality show yang dibintanginya dengan Nicole Ritchie, “The Simple Life”. Basi memang kalau saya menceritakan “The Simple Life” sekarang, karena acara ini sudah taman dari kapan taun… Tapi judul acara ini bikin saya berpikir (dengan sedikit iri).

Meksipun dalam reality show tersebut “Simple Life” berarti kehidupan sederhana yang harus dijalani oleh Paris Hilton dan Nicole Ritchie di pedesaan, tapi bagi saya “Simple Life” tidak terdengar seperti neraka yang digambarkan kedua selebriti itu. Malah saya membayangkan, betapa menyenangkannya kalau hidup bisa dibuat simple. Alangkah menyenangkannya kalau hidup dapat dibuat sederhana dengan sedikit mungkin distraction. Bahkan saya sering berpikir juga bagaimana caranya kita bisa menyederhanakan hidup.

Orang-orang berkata, “Life is Complicated”. Tapi sebenarnya siapa yang membuat hidup itu menjadi rumit? Kadang kala saat kita berusaha terlalu keras, kita mempersulit hidup kita sendiri. Saya membayangkan rasanya menjadi orang yang sederhana, dengan pikiran yang sederhana, dengan keinginan yang sederhana… Dan hidup yang sederhana.

Apa salahnya dengan itu? Kenapa rasanya menjadi sederhana lebih sulit daripada menjadi complicated? Bukankah itu ironis?

Trouble Sleeping

Standard

Akhir-akhir ini saya menjadi susah tidur. Menyebalkan memang rasanya susah tidur di saat saya sedang berencana untuk memperbaiki jam tidur saya yang selama ini berantakan. Setelah beberapa hari kesulitan untuk benar-benar tidur, akhirnya saya sadar kenapa saya susah tidur.

Semenjak pindah ke apartemen ini bersama dengan adik-adik saya, saya tidak lagi memiliki kamar tidur sendiri. Saya pun tidur satu ruangan dengan adik-adik saya. Saya baru menyadari dua hari yang lalu, bahwa adik saya ternyata memiliki suara nafas yang berat dan tidak biasa. Awalnya saya pikir itu karena dia kecapaian saja, namun kemarin saya mendapati suara yang sama, dan saya pun mulai berpikir macam-macam.

Memang adik saya bukan tipe orang yang terlalu peduli. Maksud saya tidak terlalu peduli adalah, dia tidak terlalu peduli dengan kesehatannya sendiri. Meskipun beberapa minggu sebelumnya dia tampak concern dengan angka Asam Uratnya yang tinggi di laporan check-up rutin, tapi gaya hidupnya saya lihat tidak berubah. Saya tidak mau memaksa dia untuk berubah ini dan itu, karena saya lihat makin disuruh dia malah makin parah. Dan satu lagi yang saya agak sayangkan, adik saya tidak terlalu peduli dengan berat badannya yang terus naik.

Bukan saya tidak suka dengan orang dengan kelebihan berat badan, tapi saya melihat kelebihan berat badan itu membuat seseorang memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk terserang penyakit di kemudian hari. Itu kenapa ada acara reality show “The Biggest Loser”, karena memang tingkat kesehatan orang-orang dengan berat badan berlebih jauh lebih buruk daripada mereka dengan berat badan normal. Sekali lagi, saya tidak mau membicarakan pendapat pribadi saya mengenai nilai estetis mereka dengan ukuran tubuh plus size.

Sama saja saya pikir dengan orang dengan berat badan terlalu rendah. Itu kenapa dalam tabel kesehatan ada pembagian berat badan, dari underweight, normal, overweight dan obesity.

Saya tidak ingin jahat kepada adik saya sendiri, tapi saya mulai merasa bahwa dia tinggal selangkah lagi menuju obesitas. Saya tidak ingin dia begitu. Keluarga saya memiliki sejarah panjang diabetes, hipertensi, sakit jantung, dan penyakit-penyakit yang bisa muncul karena pola hidup yang tidak sehat. Saya tidak ingin adik saya harus hidup seperti pesakitan hanya karena dia sekarang tidak peduli dengan banyak hal. Saya khawatir suara nafasnya yang berat saat tidur itu juga karena dia terlalu gemuk.

Saya melakukan beberapa pencarian di google, mengenai nafas berat yang hanya muncul pada saat seseorang tidur. Beberapa artikel mengatakan bahwa saat seseorang mengalami kegemukan berlebihan (obesitas) maka ada kemungkinan dia mengalami gangguan pernafasan saat tidur dan bahkan bisa menyebabkan sleep apnea. Bukankah itu sudah pertanda bahwa adik saya memang harus mulai peduli dengan berat badannya?

Atau cuma saya saja yang sedang paranoid sekarang ini?

Investing in Yourself

Standard

Investment is never cheap.

Setidaknya itulah yang saya percayai. Begitu juga saat saya memutuskan untuk mulai berinvestasi kepada diri saya sendiri sejak awal tahun ini. Paling mudahnya, saya memulai berinvestasi secara fisik, membeli produk-produk kecantikan itu ternyata cukup menyiksa dompet. Tapi, mengingat kata-kata salah seorang teman saya yang cong, “This is our asset, Sis.” saya pun menyadari bahwa aset harus dijaga agar meskipun nilainya semakin lama semakin turun, tapi turun-nya nggak drastis-drastis amat.

Tapi, namanya investasi, selalu ada perhitungan logis mengenai keuntungannya dong?

Mari berhitung sebesar apa investasi yang kita keluarkan untuk perawatan wajah dan tubuh dengan harga rata-rata (bukan yang paling mahalnya deh…)

Serum – 300k/3mo

facial wash – 100k/3mo

cleansing – 100k/3m0

night cream – 200k/6mo

eye cream – 150k/6mo

day cream – 100k/6mo

toner – 100k/3mo

body lotion – 50k/6mo

anggaplah setiap tahun kita menghabiskan sekitar 3,4 juta untuk perawatan tubuh. Maka terhitung sejak mid 20’s sampai ke mid 40’s kita menghabiskan 68 juta sebelum berpindah ke treatment untuk usia lanjut. Tapi pada saat ini kita tidak membutuhkan botox atau facelift karena sudah dirawat dengan cukup baik, mungkin bertahan sampai kita berumur mid 50’s.

Bandingkan harga itu dengan botox dan facelift kalau sampai harus dilakukan pada saat kita berusia mid 40’s, dan mempertahankan itu sampai mid 50’s (artinya 10 tahun dengan botox/facelift)

Untuk botox, di satu titik wajah membutuhkan 2-4 unit suntikan. 1 unit suntikan harganya sekitar 2-4 juta. Dan bertahan sekitar 3-6 bulan saja. Seandainya di ambil tengah-tengahnya, maka anggaplah 3 unit setiap titik dengan harga 3 juta dan bertahan 4 bulan, untuk satu wajah dengan 3 titik yaitu alis, mata, dan leher. Maka setiap tahun akan menghabiskan sekitar 81 juta setiap tahun.

Harga facelift lebih gila lagi. Untuk satu kali prosedur, total biaya untuk facelift surgery berkisar antara 60 juta, sampai 250 juta tergantung lokasi dan jenis facelift surgery nya. Belum termasuk post-operation treatment-nya juga.

Katakanlah ini hitungan kasar dan salah-salah, tapi kalau mau hitung sendiri juga tidak masalah, karena saya yakin harga investasi ini tidak akan lebih mahal daripada harga ‘perawatan instan’ seperti botox atau facelift. So, saya merasa tidak ada salahnya melakukan investasi kepada diri saya seperti itu.

Another investment menurut saya adalah pendidikan. Saya tahu tidak semua orang setuju dengan itu, karena banyak yang beranggapan pendidikan tidak membuat orang menjadi kaya. Tapi, bagi saya, pendidikan adalah investasi non-fisik, ya ga heran kalau yang dihasilkan juga non-fisik. Duit kan bentuknya fisik.

Saya sedang berpikir-pikir untuk melanjutkan studi saya lagi. Belum kapok ternyata si bybyq ini dihajar di ruang sidang oleh dosen-dosen yang kemarin, sekarang minta lagi. Bagi saya pendidikan ini adalah bentuk investasi yang akan terbayar suatu saat nanti ketika kita berhubungan dengan manusia-manusia di masa depan. Pendidikan adalah sesuatu yang bersifat progresif, dan hanya bangsa-bangsa yang lemah saja yang tidak peduli dengan pendidikan dan kebudayaan. Bangsa-bangsa yang besar dan kuat, pasti kuat juga di bidang pendidikan dan kebudayaan. Lihat saja.

Investasi itu tidak murah. Jelas. Bahkan dengan investasi belum tentu kita mendapatkan keuntungan di masa depan, karena tidak ada investasi yang bebas resiko. Akan tetapi dengan investasi yang terencana dengan terperinci, investasi akan membuahkan hasil kan? Saya tidak akan mengajak-ajak orang lain untuk ikut-ikutan berinvestasi juga. But, just in case anyone asked me why I did what I did… Saya bisa bilang, “I’m investing on myself.”

Girls Competition

Standard

Pulang dari ngedate seharian bersama si Monyed.

Karena sudah lama nggak ngedate sama si Monyed, kali ini saya memutuskan untuk lebih terlihat all out daripada biasanya. Saya harap dandanan saya tadi tidak terlihat berlebihan untuk jalan-jalan, tapi setidaknya melihat si Monyed senang melihat saya tampak ‘niat’ jalan sama dia hari ini, tidak ada ruginya. Dan memang tidak ada salahnya terlihat rapi, mengingat meskipun tidak ada di dalam daftar resolusi tahun baru, tetapi menjadi cantik tidak ada salahnya dimasukkan dalam target selama 2011.

Bukan berarti saya tidak merasa saya sudah cantik sekarang. Tentu saja sekarang saya sudah cantik, tapi beberapa tahun lagi ketika saya menginjak usia berkepala 3, maka sudah pasti persaingan semakin ketat di antara kami para perempuan. Jangan dikira para pria saja yang suka berkompetisi, karena menurut penelitian saya (penelitian tidak resmi, tolong dicatat), kompetisi antar perempuan sering kali lebih parah daripada para prianya.

Misalnya saja, waktu saya pulang dari jalan-jalan tadi, di dalam lift menuju ke lantai tempat saya tinggal, saya mengalami ‘competition moment’. Saya yakin banyak perempuan di luar sana, yang membaca blog saya maupun tidak, pasti pernah mengalami hal-hal semacam ini. Semacam perasaan ingin bersaing secara fisik dengan orang yang tidak dikenal hanya karena berada di sebuah ruangan yang sama. Perasaan ingin menjadi the center of the attention, atau semacamnya.

Intinya…

Saya berada di dalam lift bersama dengan dua perempuan penghuni apartemen yang sama dengan saya. Kedua-duanya, sama-sama memakai dandanan yang sama all-out nya dengan saya. Menurut saya tentu saja secara statistik saya masih di atas mereka, tapi mengingat kami sedang dalam ‘scene’ tersebut maka terjadilah ‘competition moment’ itu.

Dalam beberapa menit yang singkat, kami saling menegcek satu dengan yang lain. Lihat bulu mata siapa yang lebih panjang. Mulai mencatat warna apa eye shadow yang digunakannya. Mulai berpikir sepatu siapa yang lebih fashionable. Mulai mengira-ngira rambut siapa yang lebih stylish. Mulai menimbang-nimbang bibir siapa yang dilapisi lipstik paling sempurna. Dan pada akhirnya sampai pada kesimpulan akhir.

Kesimpulan akhir saya tentu saja: “Yeah they’re good, but I’m so much better”. Saya tidak tahu apa yang mereka simpulkan dalam kepala mereka. Mungkin saja mereka berpikiran sama seperti saya. Bisa saja mereka berpikir: “oh damn! I wish I have a high heel boots like her”.

Tidak hanya sekali itu saya mengalami ‘competition moment’ semacam itu. Ada banyak kejadian di mana saya harus menghadapi itu, meskipun saya tidak menginginkannya. Misalnya di kampus (saat mahasiswi-mahasiswi itu menganggap koridor sepanjang kampus sebagai catwalk), atau di pesta pernikahan (meskipun pada dasarnya tidak ada perempuan yang boleh lebih cantik daripada pengantinnya), atau di club (tentu saja ada alasan kenapa sering terjadi cat fight di club), atau di mall (itu sebabnya ada kafe tempat nongkrong untuk memajang diri sendiri).

Saya tidak menyalahkan kenapa perempuan menjadi begitu kompetitifnya. Bayangkan saja dengan rasio antara perempuan dan laki-laki yang mencapai 2:1 atau bahkan 3:1 di beberapa negara, memang secara naluriah perempuan butuh menjaga teritorinya dengan menjadikan dirinya sebagai ratu di daerah jajahannya saat itu (mall, wedding party, lift, club, dll.).

Satu hal yang ingin saya katakan setiap kali mereka berpikir bahwa saya adalah salah satu kompetitor mereka, meskipun saya tahu betapa ‘mengancam’-nya saya bagi perempuan yang berada satu ruangan dengan saya…

“Don’t worry I am taken, I won’t take your’s”