Growing Pains

Standard

Growing Pains adalah rasa sakit yang melanda seorang anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Biasanya rasa sakit ini ada di persendian, menyakiti seorang anak sampai sulit tidur. Alasannya hanya satu, anak itu sedang bertumbuh, dan rasa sakit itu terkadang perlu, dan itu alamiah.

Dalam hidup, kadang kita menghadapi ‘growing pains’ yang lain. Hal-hal yang menyakiti, dan membuat kita merasa tidak nyaman, tapi ternyata perlu terjadi karena itu alamiah, dan kita sedang mengalami proses bertumbuh. Mungkin saat kita dewasa, kita tidak lagi mengalami growing pain secara fisik, tapi mengalami growing pain secara mental. Hal-hal semacam itu terjadi saat kita dihadapkan pada hal-hal yang tidak kita sukai, tapi harus kita lalui…

Misalnya bertemu dengan orang yang bermasalah dengan kita di masa lalu.

Pada saat kita masih kecil, mungkin bertemu dengan orang yang bermasalah dengan kita di masa lalu akan menjadi masalah besar. Bagi anak yang pendiam, akan langsung bersikap jutek dan tidak ingin berdekat-dekatan dengan orang tersebut; menjauh, keluar dari ruangan, dan merengek minta pulang. Bagi anak yang lebih agresif, yah, mungkin akan jadi masalah yang lebih besar karena dia mungkin akan memilih untuk menyerang dan menyakiti. Untuk anak yang kejam secara verbal, mungkin akan berakhir dengan perang mulut yang membuat anak lain tersebut menjadi trauma sepanjang hidupnya.

Tetapi, pada saat kita bertumbuh, hal itu tidak bisa lagi kita lakukan. Mungkin pada beberapa kesempatan penuh keberuntungan, kita bisa menyelinap keluar dari ruangan tanpa harus bertatap muka dengan orang yang kita benci, tapi pada lebih banyak kesempatan tidak begitu. Sering kali kita harus berakhir di satu meja yang sama pada saat undangan makan malam, atau berada bersebelah-sebelahan dalam pesawat terbang selama delapan jam. Sial?

Bayangkan menjadi tetangga di salam apartemen selama beberapa bulan, sampai sewa apartemen ini habis akhir tahun ini.

Tentu saja saya tidak akan membuat intro sepanjang itu kalau tidak ada lanjutan curhat colongan di antaranya, bukan? Dan tentu saja kalian tidak mengharapkan saya hanya akan berkuliah tentang growing pains tanpa menghadirkan sedikit sentuhan personal :p

Jadi sebenarnya saya sudah tahu bahwa saya tinggal di apartemen yang sama dengan orang ini. Selama ini dia tidak tahu bahwa saya berada di apartemen yang sama, karena setiap kali saya melihat dia, saya hanya menyelinap kabur. Rasanya tidak menyenangkan harus berbasa-basi dengan orang yang tidak kita sukai hanya karena kita ternyata bertetangga. Itulah sebabnya kenapa kemarin terasa begitu menyebalkan karena saya harus terjebak selama dua puluh lantai lebih bersama dengan orang ini.

Tapi ternyata beginilah growing pain.

Ketika kita berada di satu lift berukuran 1,5m x 1,5m, dengan orang yang kita tidak sukai dan kita tidak bisa melarikan diri dari sana. Ketika dia menyapa dengan ramah dan kita terpaksa harus menjawab dengan cara yang sama. Ketika kita tidak bisa mengacau dengan memaksa lift berhenti dan turun di tempat yang tidak seharusnya hanya karena menghindari orang ini. Atau menyerang orang ini dengan brutal hanya karena kita tidak suka dengan rambut jabriknya yang mengganggu mata. Atau secara verbal melakukan hinaan-hinaan traumatis hanya karena dia gendut atau pendek.

Pada akhirnya kita harus melakukan hal yang menyebalkan itu.

Berbaik-baik.

Oh wait…

Ternyata beginilah kalau menulis tanpa bantuan alkohol… Saya terdengar lebih waras daripada entry sebelumnya.

Advertisements

Comments are closed.