Iri…

Standard

Baru aja saya mau menulis tentang topik ini, saya mendapatkan kisah yang sama dialami oleh teman blogger saya…

Sesekali… well, tidak sesekali juga… Sering kali, lebih tepatnya, saya merasa dunia tidak adil. Wait… bukan DUNIA yang tidak adil, tapi orang tua saya tidak adil. Hm… bukan orang tua saya yang tidak adil, lebih tepatnya, tapi saya merasa keadaan yang menyebabkan orang tua saya bersikap tidak adil pada saya. Dan itu membuat saya kesal.

Beberapa waktu yang lalu, waktu saya masih di Solo dalam rangka pulang kampung, saya melihat acara di Metro TV, sebuah talk show dengan salah satu blogger Indonesia yang cukup terkenal. Di sana, saat diwawancarai, blogger yang sekarang lebih tepat disebut sebagai celebrity blogger ini mengatakan bahwa dia merasa beruntung mendapatkan dukungan orang tua yang memberikannya kebebasan untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan, meskipun pada saat ini, pada saat dia sudah memiliki karya yang dikenal oleh orang banyak pun, dia masih bisa ‘berkelana’ mencari jati diri,

Saya merasa mereka yang diberikan kesempatan oleh orang tuanya, oleh lingkungan nya, oleh segala sesuatu yang mendukung di sekitarnya, untuk dapat menemukan jati dirinya sendiri adalah orang-orang yang beruntung. Saya merasa mereka yang berkesempatan untuk menemukan jati dirinya tanpa dibatasi oleh berapa banyak yang dapat mereka hasilkan dari apa yang mereka kerjakan itu adalah orang-orang yang beruntung. Saya merasa mereka yang diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk melakukan apa yang mereka sukai itu adalah orang yang beruntung.

Tidak usah saya sebutkan, saya tahu ada banyak orang di sekitar saya yang sangat beruntung mendapatkan orang tua yang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi mereka untuk menjadi diri mereka sendiri. Saya bukan orang yang seperti itu.

Salah satu alasan saya tidak ingin menetap di Solo, meskipun Solo adalah tempat di mana saya dilahirkan dan tumbuh besar, adalah di sana, saya tidak pernah bisa menjadi diri saya sendiri. Saya akan selalu dibatasi dengan berbagai hal dan saya tidak suka itu.

Papa selalu mengatakan bahwa dalam hidup, dalam bersosialisasi dengan orang lain saya butuh untuk menyesuaikan diri. Saya butuh beradaptasi dengan norma-norma. Saya butuh ini… dan itu…

Dan ini..

dan itu..

dan ini…

dan itu…

dan saya merasa semakin kecil kota di mana saya tinggal, semakin sering saya bertemu dengan orang-orang yang saya kenal, maka semakin banyak hal-hal yang harus saya sesuaikan. Semakin banyak hal yang harus saya ubah dari diri saya. Semakin saya harus jauh dari diri saya yang sebenarnya.

Di sana… saya tidak bisa berdekat-dekatan dengan si Monyed sesering yang saya inginkan karena Mama dan Papa saya akan selalu mengoceh tentang apa pendapat orang yang melihat kami. Di sini… saya tidak peduli itu… orang-orang tidak peduli itu, karena pada kenyataanya meskipun mereka peduli, tidak ada yang mengenal saya atau orang tua saya di sini…

Saya bukan ingin menjadi orang yang seenaknya… Tapi… Saya tidak ingin menjadi orang lain. Saya tidak ingin menjalani hidup sebagai orang lain. Saya sudah melakukan itu untuk waktu yang terlalu lama… dan setelah saya berhasil mengetahui apa yang saya inginkan… mengatahui apa yang bisa saya lakukan… Setelah saya menjalani hidup lebih dekat dengan jati diri saya yang sebenarnya ini… saya hanya tidak ingin kembali.

Dan ya…

Saya iri dengan mereka yang punya kesempatan untuk menjadi diri sendiri. Saya iri dengan mereka yang punya keberuntungan itu.

Saya iri.

Bahkan saya iri pada mereka yang bisa mengatakan semua ini tanpa harus meminum alkohol. Oh I love it when the alcohol talks…

Advertisements

Comments are closed.