Ask

Standard

Saya dan si Monyed bertemu dengan seorang teman hari ini. Oi, teman kami ini, adalah satu dari sedikit orang yang benar-benar bertahan menjadi teman kami, dan pada kenyataanya hanging out dengan Oi selalu menyenangkan. Begitu juga hari ini.

Yang paling menyenangkan dari hanging out dengan Oi adalah, setiap kali pulang dari acara itu, saya selalu punya sesuatu untuk diceritakan. Tentu saja saya tidak mau melanggar privasi Oi dengan menceritakan seluruh kejadian yang menginspirasi saya itu, tetapi saya setidaknya selalu bisa menemukan topik yang baru.

Hari ini Oi bercerita pada kami mengenai pola hubungannya dengan orang tuanya. Buat saya itu menarik, karena saya memang tidak lama ini menulis tentang itu di blog saya. Begitu pula topik yang sama dibahas di blog tetangga saya.

Pola hubungan orang tua dan anak dengan generation gap di antaranya memang tidak menyenangkan. Beberapa beranggapan generation gap adalah sesuatu yang lumrah dan sudah seharusnya terjadi karena adanya perkembangan jaman. Beberapa menganggap generation gap merupakan kegagalan antara dua generasi yang melakukan interaksi untuk beradaptasi satu dengan yang lain.

Apapun itu, generation gap adalah jarak yang memisahkan kita dengan generasi yang lebih tua, atau nanti dengan generasi yang lebih muda. Mungkin jarak itu tidak akan pernah hilang, mungkin gap itu akan tetap ada, tapi saya pikir generation gap ini bukan masalah yang tidak bisa diatasi sama sekali.

The way I see it, generation gap adalah permasalahannya. Kita tidak bisa mengeliminasi permasalahan, tapi kita bisa menyediakan pemecahan. Dalam hal ini, menjembatani jarak yang ada dalam generation gap.

“Why don’t they just ask?” Kata Oi.

Saya percaya tidak ada orang tua yang ingin anaknya susah. Itu kenapa mereka ingin selalu ikut campur di saat mereka merasa si anak melakukan kesalahan dalam hidupnya. Tidak bisa tidak, sering kali intervensi ini membuat mereka mengambil keputusan yang bertolak belakang dengan apa yang sebenarnya kita inginkan. Karena mereka begitu inginnya mencampuri, mereka tidak lagi bertanya.

Mereka tidak bertanya apa yang kita inginkan, atau kita cari, atau apa yang kita tuju. Mereka tidak bertanya apa yang kita rasakan, apa yang kita butuhkan, dan mereka tidak tahu apa yang kita lihat dari sudut pandang kita. Mereka tidak bertanya, mungkin karena mereka merasa tidak perlu bertanya, merasa sudah cukup tahu untuk bisa mengambil keputusan. Mungkin mereka tidak ingin bertanya karena tidak ingin mendengar jawaban yang tidak mereka inginkan. Atau, bisa saja mereka tidak bisa bertanya karena tidak tahu bagaimana caranya.

Mungkin dengan bertanya gap itu bisa dijembatani. Mungkin sebenarnya gap itu tidak ada, tapi kita harus bisa bertanya untuk bisa menyadarinya. Mungkin kita mengira tidak ada gap, dan hanya dengan bertanya kita bisa mengetahui di mana celah jarak itu.

All you need is ask.

Can you ask?

Advertisements

2 responses

  1. hi superbyq,

    you’re saying ‘can you ask?’
    well yep, i ask. tapi ke ibu aja, hehehe. aaand, it works! sometimes.

    hehe, yang penting, kalo mereka gak nanya, kita duluan aja yg nanya. gitu terus sampai ada perubahan. cepat atau lambat, pasti ada perubahan kok. kan hukum alaaan, hihihihi

    oh ya, salam kenal yah byq! add saja ym ku biar mudah bicara. *excuse payah! sebenarnya ingin mengajak kenalaaan tuuh :p*

    Like