Kids

Standard

Sejak saudara sepupu saya membawa anaknya ke Indonesia (sepupu saya sekarang tinggal di Melbourne, Australia), saya sempat berpikir mungkin saya akan bisa bertahan dengan anak-anak. Toh, saya dulu pernah menjalani masa-masa mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak kecil, dan saya tidak mengalami masalah. Nenek saya beranggapan bahwa saya punya daya tarik alami pada anak-anak kecil, mungkin itu sebabnya saya selalu berhasil menarik perhatian para brinding…

Akan tetapi kejadian tadi siang membuat saya berpikir-pikir ulang untuk mempertimbangkan keinginan saya untuk mengajar anak kecil lagi. Sepanjang siang, segerombolan anak-anak berteriak-teriak sepanjang selasar dan membuat keributan dengan menyeret kursi plastik dari ujung ke ujung koridor.

Saya pikir, tidak ada yang menjaga sehingga anak-anak itu berkelakuan brutal, sehingga saya memutuskan untuk mengintip keluar. Mungkin saya bisa menghadiahi sedikit jitakan atau cubitan manis untuk anak-anak itu. Saya lebih senang mendengar mereka berteriak-teriak menangis daripada berteriak-teriak kesetanan. Ternyata ada baby sitternya, yang cuma diam saja seperti kurang digaji.

Terus terang saja, waktu kecil pun saya lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan baby sitter saya, karena orang tua saya sibuk bekerja. Akan tetapi orang tua saya selalu ikut campur dan menyempatkan diri memarahi saya kalau saya bertindak brutal dan mengganggu ketentraman umum semacam itu. Beneran deh, anak-anak itu seperti berandal kecil tidak terdidik.

Detik itu juga saya tiba-tiba merasa alergi saya terhadap bocah kembali kumat. Bukannya saya tidak berniat menjawab panggilan bodyclock untuk menjadi ibu, tapi dari begitu banyak keputusan penting yang bisa berakhir salah, mempunyai anak yang brutal seperti setan alas adalah hal terakhir yang saya inginkan.

Kali ini, melihat anak-anak itu, melihat baby sitternya yang hanya menatap kosong waktu saya pelototi, saya bahkan tidak sempat berandai-andai kalau saya jadi orang tua anak-anak itu. Saya bahkan tidak ingin berandai-andai karena saya tahu kalau saya mulai berandai-andai maka dalam pikiran saya itu saya pasti akan memutuskan untuk bunuh diri dengan terjun dari balkon apartemen, dan menambah panjang deretan orang-orang stres yang bunuh diri dengan cara meloncat dari gedung tinggi di Jakarta.

Memang terdengar lebay, tapi bahkan saya, di saat-saat seperti itu bisa mendengar suara tante saya menasehati. Persis seperti yang dikatakannya beberapa bulan yang lalu tentang punya anak.

“Pikir-pikir dulu tujuh kali”

Advertisements

Comments are closed.