Komitmen Itu Susah, Ya?

Standard

Beberapa tahun lalu, salah seorang teman saya memutuskan untuk membuat blog. Setelah satu entry, kemudian dia memutuskan untuk berhenti menulisnya. Saya juga tidak tahu apa tujuannya dia membuat blog untuk pertama kalinya, tapi membuat satu entry dan berhenti begitu saja agak aneh buat saya. Apa mungkin dia terinspirasi dari blog-blog saya?

Lalu hari ini, teman saya itu memutuskan untuk membuat satu blog lagi. Kemarin membuat blog di blogger, sekarang ganti platform jadi wordpress. Entah apa itu bisa disebut kemajuan atau tidak, mungkin suatu hari dia bakalan beli rumah sendiri seperti saya.

Tapi, kali ini, belum dua jam berkutat dengan feature-feature yang baru di wordpress, tiba-tiba dia mengirim pesan di bbm saya. Dia mengatakan bahwa menggunakan wordpress membuatnya pusing. Dan, diakhiri dengan kata, “mbuh lah”.

Mbuh lah. Bagi saya kata-kata itu terdengar seperti isyarat seseorang akan berhenti melakukan sesuatu. Quit fighting for something that is important. “Mbuh lah” terdengar seperti pengibaran bendera putih. Menyerah. Saya tahu karena saya sering begitu.

Setelah tahun baru, saya mulai mengamati blog orang-orang yang saya link dari sini. Perlahan tapi pasti, satu demi satu mulai jarang posting, bahkan beberapa sudah berhenti sama sekali. Ternyata tidak mudah mempertahankan sesuatu dan tidak berhenti ketika saat-saat terburuk datang.

Sangat mudah membuat komitmen, dengan seseorang, dengan sesuatu, dengan diri sendiri. Sangat mudah membuat janji, target, keputusan untuk jangka waktu panjang. Sangat menyenangkan rasanya membuat komitmen baru, dengan semangat baru, seperti api unggun yang baru saja menyala. Tapi saat badai datang, seberapa niat kita mempertahankan api itu untuk tetap menyala?

Ketika bosan melanda. Internet tidak selancar biasanya. Laptop lelet. Atau game-game baru mengganggu aktivitas sehari-hari. Apakah ngeblog masih akan jalan terus?

Saya mengalami naik turun mood ngeblog. Dari semangat, bosan, semangat lagi, hiatus sesaat lalu ganti blog. Lalu memutuskan untuk membuat komitmen baru dengan blog yang baru, dan kemudian bosan lagi, hiatus lagi, dan ganti blog lagi. Dan lagi-lagi memulai komitmen baru.

Seperti itulah susahnya berkomitmen. Dan setelah menjalani komitmen panjang dengan si Onyed, saya memikirkan lagi dan lagi bahwa mungkin saya bisa melakukan komitmen yang sama terhadap diri sendiri. Itulah kenapa saya mulai membuat target-target dalam hidup saya. Mungkin saya bisa menjalani komitmen itu, tidak hanya sukses memulainya saja.

Itulah juga sebab kenapa saya tidak menghapus link-link blog hiatus teman-teman blogger saya (kecuali link nya sudah tewas duluan). Saya mencoba percaya, kalau suatu hari, setelah badai reda dan mereka menemukan sedikit bara yang belum mati, maka api unggun akan menyala lagi, dan dunia blogging akan kembali menyenangkan.

Yay!

Advertisements

2 responses