Girls Competition

Standard

Pulang dari ngedate seharian bersama si Monyed.

Karena sudah lama nggak ngedate sama si Monyed, kali ini saya memutuskan untuk lebih terlihat all out daripada biasanya. Saya harap dandanan saya tadi tidak terlihat berlebihan untuk jalan-jalan, tapi setidaknya melihat si Monyed senang melihat saya tampak ‘niat’ jalan sama dia hari ini, tidak ada ruginya. Dan memang tidak ada salahnya terlihat rapi, mengingat meskipun tidak ada di dalam daftar resolusi tahun baru, tetapi menjadi cantik tidak ada salahnya dimasukkan dalam target selama 2011.

Bukan berarti saya tidak merasa saya sudah cantik sekarang. Tentu saja sekarang saya sudah cantik, tapi beberapa tahun lagi ketika saya menginjak usia berkepala 3, maka sudah pasti persaingan semakin ketat di antara kami para perempuan. Jangan dikira para pria saja yang suka berkompetisi, karena menurut penelitian saya (penelitian tidak resmi, tolong dicatat), kompetisi antar perempuan sering kali lebih parah daripada para prianya.

Misalnya saja, waktu saya pulang dari jalan-jalan tadi, di dalam lift menuju ke lantai tempat saya tinggal, saya mengalami ‘competition moment’. Saya yakin banyak perempuan di luar sana, yang membaca blog saya maupun tidak, pasti pernah mengalami hal-hal semacam ini. Semacam perasaan ingin bersaing secara fisik dengan orang yang tidak dikenal hanya karena berada di sebuah ruangan yang sama. Perasaan ingin menjadi the center of the attention, atau semacamnya.

Intinya…

Saya berada di dalam lift bersama dengan dua perempuan penghuni apartemen yang sama dengan saya. Kedua-duanya, sama-sama memakai dandanan yang sama all-out nya dengan saya. Menurut saya tentu saja secara statistik saya masih di atas mereka, tapi mengingat kami sedang dalam ‘scene’ tersebut maka terjadilah ‘competition moment’ itu.

Dalam beberapa menit yang singkat, kami saling menegcek satu dengan yang lain. Lihat bulu mata siapa yang lebih panjang. Mulai mencatat warna apa eye shadow yang digunakannya. Mulai berpikir sepatu siapa yang lebih fashionable. Mulai mengira-ngira rambut siapa yang lebih stylish. Mulai menimbang-nimbang bibir siapa yang dilapisi lipstik paling sempurna. Dan pada akhirnya sampai pada kesimpulan akhir.

Kesimpulan akhir saya tentu saja: “Yeah they’re good, but I’m so much better”. Saya tidak tahu apa yang mereka simpulkan dalam kepala mereka. Mungkin saja mereka berpikiran sama seperti saya. Bisa saja mereka berpikir: “oh damn! I wish I have a high heel boots like her”.

Tidak hanya sekali itu saya mengalami ‘competition moment’ semacam itu. Ada banyak kejadian di mana saya harus menghadapi itu, meskipun saya tidak menginginkannya. Misalnya di kampus (saat mahasiswi-mahasiswi itu menganggap koridor sepanjang kampus sebagai catwalk), atau di pesta pernikahan (meskipun pada dasarnya tidak ada perempuan yang boleh lebih cantik daripada pengantinnya), atau di club (tentu saja ada alasan kenapa sering terjadi cat fight di club), atau di mall (itu sebabnya ada kafe tempat nongkrong untuk memajang diri sendiri).

Saya tidak menyalahkan kenapa perempuan menjadi begitu kompetitifnya. Bayangkan saja dengan rasio antara perempuan dan laki-laki yang mencapai 2:1 atau bahkan 3:1 di beberapa negara, memang secara naluriah perempuan butuh menjaga teritorinya dengan menjadikan dirinya sebagai ratu di daerah jajahannya saat itu (mall, wedding party, lift, club, dll.).

Satu hal yang ingin saya katakan setiap kali mereka berpikir bahwa saya adalah salah satu kompetitor mereka, meskipun saya tahu betapa ‘mengancam’-nya saya bagi perempuan yang berada satu ruangan dengan saya…

“Don’t worry I am taken, I won’t take your’s”

Advertisements

2 responses

  1. Perasaan ingin menjadi the center of the attention, atau semacamnya
    hmmh ah dasar betina.. #uups
    ah tapi klo itu emang sebuah usaha agar si pria tak lari ke lain wanita ya sah sah sahaja byq

    Like