Trouble Sleeping

Standard

Akhir-akhir ini saya menjadi susah tidur. Menyebalkan memang rasanya susah tidur di saat saya sedang berencana untuk memperbaiki jam tidur saya yang selama ini berantakan. Setelah beberapa hari kesulitan untuk benar-benar tidur, akhirnya saya sadar kenapa saya susah tidur.

Semenjak pindah ke apartemen ini bersama dengan adik-adik saya, saya tidak lagi memiliki kamar tidur sendiri. Saya pun tidur satu ruangan dengan adik-adik saya. Saya baru menyadari dua hari yang lalu, bahwa adik saya ternyata memiliki suara nafas yang berat dan tidak biasa. Awalnya saya pikir itu karena dia kecapaian saja, namun kemarin saya mendapati suara yang sama, dan saya pun mulai berpikir macam-macam.

Memang adik saya bukan tipe orang yang terlalu peduli. Maksud saya tidak terlalu peduli adalah, dia tidak terlalu peduli dengan kesehatannya sendiri. Meskipun beberapa minggu sebelumnya dia tampak concern dengan angka Asam Uratnya yang tinggi di laporan check-up rutin, tapi gaya hidupnya saya lihat tidak berubah. Saya tidak mau memaksa dia untuk berubah ini dan itu, karena saya lihat makin disuruh dia malah makin parah. Dan satu lagi yang saya agak sayangkan, adik saya tidak terlalu peduli dengan berat badannya yang terus naik.

Bukan saya tidak suka dengan orang dengan kelebihan berat badan, tapi saya melihat kelebihan berat badan itu membuat seseorang memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk terserang penyakit di kemudian hari. Itu kenapa ada acara reality show “The Biggest Loser”, karena memang tingkat kesehatan orang-orang dengan berat badan berlebih jauh lebih buruk daripada mereka dengan berat badan normal. Sekali lagi, saya tidak mau membicarakan pendapat pribadi saya mengenai nilai estetis mereka dengan ukuran tubuh plus size.

Sama saja saya pikir dengan orang dengan berat badan terlalu rendah. Itu kenapa dalam tabel kesehatan ada pembagian berat badan, dari underweight, normal, overweight dan obesity.

Saya tidak ingin jahat kepada adik saya sendiri, tapi saya mulai merasa bahwa dia tinggal selangkah lagi menuju obesitas. Saya tidak ingin dia begitu. Keluarga saya memiliki sejarah panjang diabetes, hipertensi, sakit jantung, dan penyakit-penyakit yang bisa muncul karena pola hidup yang tidak sehat. Saya tidak ingin adik saya harus hidup seperti pesakitan hanya karena dia sekarang tidak peduli dengan banyak hal. Saya khawatir suara nafasnya yang berat saat tidur itu juga karena dia terlalu gemuk.

Saya melakukan beberapa pencarian di google, mengenai nafas berat yang hanya muncul pada saat seseorang tidur. Beberapa artikel mengatakan bahwa saat seseorang mengalami kegemukan berlebihan (obesitas) maka ada kemungkinan dia mengalami gangguan pernafasan saat tidur dan bahkan bisa menyebabkan sleep apnea. Bukankah itu sudah pertanda bahwa adik saya memang harus mulai peduli dengan berat badannya?

Atau cuma saya saja yang sedang paranoid sekarang ini?

Advertisements

Comments are closed.