Simple Life, Bybyq Kebanyakan Nonton Tipi

Standard

Ini dia kalau kebanyakan nonton tipi. Bukannya terinspirasi dari kehidupan sehari-hari, yang ada malah saya kebanyakan berkhayal karena acara yang saya lihat di layar kaca. Misalnya kemarin saya baru saja nonton E! Channel. Nggak usah komentar kenapa saya suka nonton berita selebritis macam itu, karena namanya juga cewe, bagaimanapun saya ini haus gosip. Lagian, seaneh-anehnya isi berita di E!, infotainment ala holywood ini tetep lebih ada ‘isi’ nya daripada infotainment dalam negeri. (tapi saya udah nggak tau deng, infotainment dalam negeri sekarang isinya apaan)

Anyway, salah satu acara yang paling saya sukai di E! Channel adalah THS: True Hollywood Story. Bukannya saya pengen hijrah ke hollywood, tapi THS ini menceritakan kehidupan salah seorang tokoh hollywood yang fenomenal dengan berbagai sudut pandang. Ada cerita dari sudut pandang mantan pacar, tante, om, mantan guru, mantan teman sekolah, mantan manajer, orang tua, anak, dll., dengan menggunakan berbagai macam sumber untuk menggambarkan sosok yang ingin diceritakan ini dengan seutuh-utuhnya.

Nah, kemarin itu saya nonton THS tentang the Hilton Sisters.

Pas bagian Paris Hilton yang diceritain (mohon diingat, saya bukan fans-nya Paris Hilton), muncul juga cerita mengenai salah satu reality show yang dibintanginya dengan Nicole Ritchie, “The Simple Life”. Basi memang kalau saya menceritakan “The Simple Life” sekarang, karena acara ini sudah taman dari kapan taun… Tapi judul acara ini bikin saya berpikir (dengan sedikit iri).

Meksipun dalam reality show tersebut “Simple Life” berarti kehidupan sederhana yang harus dijalani oleh Paris Hilton dan Nicole Ritchie di pedesaan, tapi bagi saya “Simple Life” tidak terdengar seperti neraka yang digambarkan kedua selebriti itu. Malah saya membayangkan, betapa menyenangkannya kalau hidup bisa dibuat simple. Alangkah menyenangkannya kalau hidup dapat dibuat sederhana dengan sedikit mungkin distraction. Bahkan saya sering berpikir juga bagaimana caranya kita bisa menyederhanakan hidup.

Orang-orang berkata, “Life is Complicated”. Tapi sebenarnya siapa yang membuat hidup itu menjadi rumit? Kadang kala saat kita berusaha terlalu keras, kita mempersulit hidup kita sendiri. Saya membayangkan rasanya menjadi orang yang sederhana, dengan pikiran yang sederhana, dengan keinginan yang sederhana… Dan hidup yang sederhana.

Apa salahnya dengan itu? Kenapa rasanya menjadi sederhana lebih sulit daripada menjadi complicated? Bukankah itu ironis?

Advertisements

Comments are closed.