Nawala, Penting atau Tidak?

Standard

Jarang-jarang dapat signal untuk internet yang bagus, saya memutuskan untuk membuka salah satu website favorit saya. Elhadalah, kok ternyata website yang biasanya bisa dibuka dengan baik-baik saja, sekarang tidak bisa dibuka sama sekali. Malah website itu dialihkan ke page NAWALA. Saya mencoba membuka website lain yang sejenis, kok sama saja hasilnya, saya dialihkan ke NAWALA.

Ada apa gerangan?

Empet hati saya tidak bisa menikmati hari itu membuka website yang saya sukai padahal internet lagi kenceng-kencengnya, saya mencoba mencari tahu apa itu NAWALA. Dari beberapa blog (anehnya kok saya malah dapat info tentang makhluk ini dari blog-blog personal bukan dari situs resminya), saya mengetahui bahwa nawala project ini adalah proyek pemblokiran situs-situs yang dianggap memiliki konten pornografi, perjudian, internet phising, dan SARA.

Saya tidak habis pikir.

Bisa-bisanya si provider menyempatkan diri untuk bekerja sama dengan si nawala project ini menghalangi kesenangan pribadi pengguna-penggunanya, tapi tidak pernah beres membuat signal internet di daerah tempat saya tinggal menjadi lebih baik. Sebagai pengguna internet, yang saya inginkan adalah akses tanpa batas (kaya iklan), bukan akses terbatas karena nawala dan/atau kecepatan internet menyedihkan.

Kalau di dunia politik selalu ada kasus menyebalkan satu untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kasus yang sebenarnya, saya kok merasa si Nawala ini adalah pengalih dari kebobrokan layanan provider internet yang sebenarnya.

Kalau saya ditanya soal setuju atau tidak setuju dengan Nawala, saya akan menjawab saya kurang sejalan dengan proyek ini. Lha wong itu urusan personal manusia kok, buat apa orang lain ikutan utak atik? Kalau ada orang tua yang khawatir anaknya membuka konten pornografi, banyak program untuk membatasi kegiatannya. Kalau khawatir warnet menjadi tempat buat penyebaran konten pornografi, ya warnetnya aja yang dijerat dengan peraturan-peraturan.

Jangan karena sebagian orang ga suka, terus semua orang harus kena akibatnya?

Sekarang konten-konten itu ga bisa diakses. What’s next?

Kalau nanti banyak yang protes soal shareware, nanti shareware juga diblock? Kalau ada yang menganggap shareware sebagai alat untuk penyebaran pornografi, nanti shareware kena juga dilarang untuk dibuka?

Dan, satu hal yang membuat semua ini terasa bullshit buat saya. Nih saya ajarin yah, bagi yang pengen membobol si nawala ini. Cara pertama, cari saja di google dengan queary ‘cara menembus Nawala’. Atau, kalau yang sudah ahli menembus youtube dan blogspot waktu jaman blogger dan youtube diblock waktu itu, gunakan lagi ilmu proxy yang pernah sukses itu. Masih tetep sukses tuh.

Lihat betapa proyek ini nggak ada gunanya?

Nawala masih bisa ditembus. Tidak sulit pula melakukannya. Filtering seharusnya bukan dilakukan seperti itu. Kalau mau filtering lakukan secara perorangan, bukan massal kaya gini.

Saya tidak bisa menemukan kata-kata hinaan yang lebih buruk lagi dari apa yang sudah ada di kepala saya. Hh,,,

Advertisements

2 responses

  1. jadi inget satu cerita soal raja yang pengen melapisi seluruh jalan dgn kulit sapi. Supaya, besok2, kalo ia jalan2, kaki nya ngga ke penthok batu lagi. pas ngitung2 budget yg besar itu, ada sufi datang. Dia bilang, dari pada melapisi seluruh jalan, seharus nya raja memotong sedikit saja kulit sapi, untuk melapisi kaki nya!!

    Begitulah… ternyata pemerintah lebih suka melapisi jalan dengan kulit sapi. Biarpun itu tampak BODOH dan MAHAL

    Like