Anger Management

Standard

Ada alasan kenapa entry kali ini saya masukkan dalam kategori spesial. Tumben-tumbenan saya dapat pesenan posting dari seorang teman, untuk membuat entry tentang Anger Management, yang tentu saja ditulis dengan sotoy ala bybyq. Ya iya lah, kalau mau info tentang anger management yang beneran pasti nanyanya sama yang profesional di bidang psikologi, bukan sama blogger pengangguran kaya saya, kan?

Katakanlah, semua ini berawal dari seorang mutual friends yang kami kenal tidak berapa lama yang lalu di dunia maya. Cerita tentang orang ini mengingatkan saya kepada banyak kejadian tentang orang-orang yang ada di sekitar saya. Mengingatkan saya, bahwa people can be so mean sometimes, dan sering kali mereka bisa menjadi begitu jahat justru kepada orang yang paling mereka sayangi. Dan kalau ditanyakan kepada saya kenapa mereka melakukan itu, saya akan dengan jujur menjawab bahwa saya tidak tahu.

Tahun lalu, untuk proyek tugas akhirnya, adik saya Mon membuat proyek mengenai Woman Crisis Center. Saat mengerjakan tugas itu, Mon mendapatkan banyak informasi dan data mengenai seperti apa Woman Crisis Center, dan mengapa perlu ada Woman Crisis Center. Pada kenyataanya meskipun sudah ada undang-undang mengenai Kekerasan Dalam Rumah Tangga, tetapi masih sangat sedikit dari korban yang mau melaporkan diri, dengan banyak alasan masing-masing.

Dari data tersebut, Mon mengatakan bahwa para korban, sering kembali berulang-ulang masuk ke dalam siklus yang sama. Mon mengatakan itu juga terjadi pada salah seorang sahabatnya sendiri yang menjalani sebuah abusive relationship. Si korban akan berulang-ulang mengalami jatuh bangun sampai akhirnya kepercayaan dirinya runtuh dalam artian sulit percaya bahwa dia sebenarnya worth untuk dicintai dengan cara yang normal. Dalam keadaan ini korban akan menerima kembali pasangan yang kasar ini, setelah permintaan maaf yang tulus dan berbulan-bulan dengan kelakuan baik, yang kenyataannya kebiasaan kasar itu bisa kembali lagi.

Bukan berarti pasangan yang dikatakan kasar dan jahat ini tidak mencintai pasangannya. Beberapa malah mengatakan mereka tidak tahu bagaimana caranya menyayangi seseorang tanpa berbuat kasar. Masalahnya adalah mereka sering kali tidak tahu di mana batasan ‘kasar’ dan ‘salah’. Menurut undang-undang, bahkan penyerangan verbal sudah dapat dimasukkan dalam kategori Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Jadi, kalau pasangan mulai mencaci maki, mengeluarkan kata kasar dan bahkan mulai menyebut pasangannya dengan nama-nama yang tidak pantas, maka dia sudah dianggap melanggar UU KDRT.

Sayangnya, konseling yang diadakan di banyak tempat hanyalah ditujukan untuk membantu korban, bukan pelakunya, sedangkan menurut saya, mata rantai ini harus diputus di pelakunya. Korban mungkin saja move on dan menemukan orang lain, tapi pelakunya akan bisa mencari korban-korban baru, terutama kalau mereka tidak tahu bahwa ada yang salah dengan tindakan mereka memperlakukan pasangan mereka selama ini. Dan saya melihat banyak contoh.

Pelaku kekerasan di dalam rumah tangga menurut saya memiliki gangguan jiwa. Saya tidak mengatakan dia kelainan jiwa atau sakit jiwa, tapi saya yakin ada gangguan pada kejiwaannya. Entah dia memiliki sifat dominan yang terlalu berlebihan (dimana segala sesuatu yang sifatnya berlebihan itu tidak baik), atau dia memiliki rasa insecure berlebihan yang membuat dia harus melindungi diri dan keluarganya dengan ancaman baik fisik maupun verbal. Mungkin saja itu muncul dari masa kecil yang penuh kekerasan dari orang tuanya sehingga dia merasa bahwa kekerasan adalah jalan untuk menunjukkan afeksi kepada orang yang disayangi.

Kadang saya suka kesal pada orang tua yang mengatakan, “mama mukul kamu karena mama sayang sama kamu, mama nggak mau kamu berakhir jadi anak jalanan, jadi mama menghukum kamu dengan memukul”. Saya tidak suka mereka menanamkan ide bahwa “memukul” adalah tanda sayang. Bahkan mereka tidak mengatakan “maaf” setelahnya.

Saya merasa pelaku kekerasan ini (verbal maupun fisik) butuh Anger Management. Mereka juga membutuhkan konseling untuk mengontrol rasa marah itu supaya tidak muncul dalam bentuk yang destruktif. Saya mengenal banyak orang yang memiliki emosi yang tidak stabil. Saya yakin banyak seniman memiliki emosi yang bergolak-golak dengan mood yang selalu berubah-ubah. Tapi saya tahu, semakin seseorang melampiaskan kemarahannya dalam bentuk yang destruktif, makin buruk efeknya untuk dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Mumpung lagi membicarakan tentang hal ini, ada yang tahu nggak tempat konseling untuk anger management di Jakarta?

Advertisements

4 responses

  1. ah tidak, bukan begitu maksud ku. anger management tentu isu yg patut diperhatikan. dan menurut aku, spot favorit dirumah dapat membantu karena disitu kamu bisa berpikir lebih jernih dan tenang …

    karena biar gimana pun juga, setelah kita mendapat bantuan dari para ahli yang notebene pihak luar, tetap saja yang menentukan senang sedih dan bahagianya kita adalah diri sendiri. and that’s why i wrote that way byq.

    Like

  2. betul betul betuul *ala upin-ipin* mata rantai perlu diputus. pelaku harus disadarkan, korban juga perlu disembuhkan.

    dan menurut aku, korban juga (sangat amat) butuh konseling. luka seperti itu, gimana pun dalamnya, bisa ngerubah pola hidup seseorang baik di sadari atau tidaak~ #eaaa #sokfilosofi

    oiyaa, tempat konseling utk anger management di Jakarta adalaaah *ala Fitri Tropica* spot favorit dirumah sendiri byq! :p

    Like

    • Kalo km mikir bahwa anger management ga butuh ahlinya, berarti km ga berpikir itu penting. Orang butuh anger management karena anger adalah penyakit menular dan berbahaya. So, kalo km pikir d rumah di spot favorit bs mengubah perilaku, sorry to say, it won’t work. Hehehe…

      Like