You Didn’t Take Away My Dream

Standard

Emang macem-macem yang bisa dikatakan seseorang pada saat dia sedang emosional. Sayangnya sering kali kata-kata yang keluar tanpa dipikir terlebih dahulu itu berdampak negatif, terdengar negatif, atau lebih tepatnya sangat negatif dilihat dari berbagai sisi.

Saat saya masih SD dulu, guru saya mengatakan kepada kami sekelas sebuah trik untuk mencegah berantem dengan teman. Beliau mengatakan bahwa setiap kali ada hal buruk terjadi, dan kita ingin sekali mengatakan hal-hal yang tidak baik tentang seseorang atau kepada seseorang, kita harus cepat-cepat menarik nafas. Cepat-cepat kita tuliskan apa saja yang membuat kita kesal atau marah tanpa ada yang terlewat, lalu kalau kita masih marah bacakan saja langsung apa yang kita tulis di kertas itu.

Saat SMP, guru saya punya tips yang lain lagi. Kalau keadaan memburuk dan kita merasa marah kepada seseorang, dan hasrat untuk mengatakan hal-hal buruk dan jahat muncul, maka kita harus menarik nafas dan mengatakan pada orang tersebut, “saya lagi marah sama kamu lho”.

Setiap orang, saya yakin punya cara tersendiri, tapi intinya secara tidak langsung kita menyadari betapa berbahayanya akata-kata yang terucap pada saat sedang marah. Tanpa ingin memunculkan efek drama ala sinetron, tapi bayangkan letupan emosi macam opera sabun di mana dua orang emosi berteriak satu dengan yang lain dan mengatakan banyak hal yang saya yakin 100% akan mereka sesali, meskipun mereka tidak akan mengakuinya,

Begitu pun saya.

Beberapa waktu yang lalu saya berantem dengan si Onyed. Tidak usah khawatir, sebenarnya pertengkaran ini masih diambang batas wajar kok, bahkan masih termasuk biasa-biasa saja. Masalahnya pun sepele, kalau tidak bisa dibilang hanya masalah salah paham yang berkolaborasi dengan Pre Menstruation Syndrome. Tapi saya mengatakan sesuatu yang tidak benar dan tidak seharusnya dikatakan.

Saya mengatakan pada si Onyed bahwa dia menghalangi saya untuk mencapai mimpi saya. Saya bisa mengerti (sekarang) kenapa si Onyed marah banget waktu saya mengatakan itu, karena itu tentu saja tidak benar.
Saya adalah manusia dewasa, saya bertanggung jawab terhadap apa yang saya lakukan, tidak ada hubungannya dengan si Onyed. Saya bisa memilih melakukan atau tidak melakukan, mempercepat atau menunda, berhenti atau meneruskan, dan apabila saya tidak berhasil mencapai apa yang saya inginkan, sudah pasti itu salah saya bukan?

Agak canggung juga saya menceritakan ini, karena saya bukan tipe yang suka curcol. Tapi, tak apalah… Anggap saja ini edisi spesial permintaan maaf saya kepada si Onyed atas apa yang sudah saya katakan kemarin…

You didn’t take the dream away from me. You have given your best and I appreciate it. Thank you 🙂

Advertisements

Comments are closed.