Monthly Archives: February 2011

KW Super

Standard

Sejak beberapa tahun terakhir saya memutuskan untuk tidak menggunakan barang-barang bajakan. Selain DVD, dan game tentunya karena yang itu belum bisa berhenti total. Saya belum bisa memerangi pembajakan secara menyeluruh tapi saya memulainya dari lifestyle.

Hari ini, saudara sepupu saya memanggil “tante tukang jualan tas (TTJT)” ke rumah tante saya. TTJT ini adalah langganan saudara sepupu saya untuk membeli tas-tas keren nan “branded”. Mereka menyebut tas-tas itu dengan merek-merek prestisius seperti Tod’s, Balenciaga, MiuMiu, atau Louis Vuitton. Tapi saya tahu, mereka tahu, bahwa itu barang KW.

Saya tidak menyalahkan mereka membeli barang KW. Saudara sepupu saya yang fashionable itu mungkin membutuhkannya untuk menopang lifestylenya. Tapi saya tidak fashionable, dan saya tidak perlu nama-nama prestisius menempel di badan saya. Sayapun mundur dari sana, memutuskan untuk tidak tahu saja.

Saya bukannya idealis, tapi saya adalah orang yang peka dan perasa. Itu sebabnya saya berusaha mengerti kenapa mereka tidak membeli barang asli yang harganya sungguh mahal. Itu kenapa saya mengerti kenapa mereka membeli tas-tas KW yang sebenarnya tidak murah itu. Mereka membutuhkannya, dan saya tidak.

Tapi saya punya adik yang bekerja di bidang desain. Yang mana ide desain adalah sesuatu yang muncul tidak dari sehari atau dua hari pemikiran. Adik saya berusaha ekstra keras untuk membuat satu desain, dan saya percaya orang-orang desain juga mengalami sulitnya mencari ide yang benar-benar baru. Saya tahu susah benar hatinya saat desainnya dicontek teman sekelasnya.

Teman-teman saya yang arsitek, pernah mengomel pada saya ketika desainnya dicontek teman sekelompoknya. Beberapa mulai menghujat plagiat-plagiat lain yang “membunuh” desain original. Di kampus saya, plagiat akan langsung mendapat nilai nol, dan harus mengulang kuliahnya.

Saya mungkin bukan manusia paling taat hukum, namun saya berusaha untuk tidak melanggarnya. Di Indonesia ada undang-undang tentang hak cipta, dan perlindungan karya intelektual. Misalnya, dilarang mencopy-paste blog ini untuk tulisan komersial!

Saya nggak bercanda lho. Salah satu teman blog saya, Neng Biker, memutuskan untuk tidak memuat content bergambar original miliknya karena tidak mau gambarnya dicomot. Pun dia tidak mau mencomot gambar orang lain tanpa memberikan “kredit” bagi pemilik gambar aseli.

Saat saya bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang internet, saya diberitahu oleh bos saya, tentang Creative Commons. Ada karya tertentu yang boleh di-share, ada karya yang sudah di-copyright. Ada orang yang rela karyanya ditiru, ada yang tidak. Karya yang sudah dipaten dengan merek dagang, pasti tidak boleh ditiru.

Saya belajar dari pengalaman betapa susahnya mendapat ide. Saya terbentur writer’s/blogger’s block sangat sering sampai saat itu saya tidak tahu harus menulis apa. Rasanya menyebalkan sekali kalau ada yang menyalin-tempel tulisan saya tanpa memberi kredit pada saya.

Begitulah.

Saya mungkin tidak bisa membasmi pembajakan di dunia ini. Tapi kalau saya bisa, saya akan mulai menghabisi sifat pembajak di diri saya. Si Onyed, adalah panutan saya dalam hal ini. Dia menggunakan software OS dan anti virus asli, bahkan game-game dalam hp-nya pun berbayar. Dia menggunakan barang-barang asli melekat di badannya, dan kalau tak sanggup beli yang branded, maka beli yang murah saja.

Tapi itu kami. Kalau kalian? Terserah saja 😀

Advertisements

Signal Oh Signal

Standard

Yap.

Sudah lama saya tidak mengupdate tentang hidup saya sendiri. Akhir-akhir ini kerjaan saya cuma ngomongin orang lain, atau ngomongin negara. Betapa keponya saya ini.

Beberapa hari ini sulit buat saya untuk online. Jangankan ngeblog, bahkan kirim-kiriman pesan lewat chat saja tidak bisa. Anehnya bukan cuma internet di modem colok saya aja yang mati, tapi juga di HP. Beberapa hari ini sungguh, siksaan yang maha nyebelin.

Di apartemen di tempat saya tinggal saat ini, signal memang sulit untuk didapat. Apapun providernya, GSM maupun CDMA, selama itu membutuhkan sinyal, pasti akan mengalami naik turun, timbul tenggelam. Beberapa orang yang “niat” akan segera memasang land line phone dan menggunakan internet kabel, atau wifi, bukan yang mengandalkan signal.

Biasanya, signal hp saya tidak separah ini. Asalkan bukan untuk telepon-teleponan (itu kenapa saya benci orang nelpon ga jelas juntrungannya), saya masih bisa chat sama si Onyed dengan tenang. Tiga hari terakhir lebih tepatnya, semua pesan yang saya kirimkan delayed.

Sialan.

Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba semua provider jadi busuk?

Will I Be Back?

Standard

Jujur aja, tulisan ini saya buat karena tetangga blog saya, si Soe bilang kalau suatu hari nanti saat cintanya sudah habis sama negara ini, dia siap tidak menjadi orang Indonesia lagi. Kalau saya, siap nggak ya?

Saya cinta kok sama negara ini. Saya peduli sama negara ini. Belakangan Papa saya aja sampe bingung sama begitu pedulinya saya pada Indonesia. Beliau pun sempat mengatai saya Nasionalis (meskipun menyebut saya Nasionalis sebenarnya tidak tepat dikatakan sebagai “mengatai”).

Kalau kata Mama saya yang pedagang, pelanggan yang komplain artinya pelanggan yang peduli, dan ingin kita menjadi lebih baik. Mungkin, orang-orang seperti saya dan Soe sebenarnya jauh lebih cinta negara ini daripada mereka yang apatis, cuek, tidak mau tahu dan tidak mau ambil pusing mau jadi apa negara ini.

Tapi kata-kata Soe itu membuat saya jadi mikir juga: kalau saya punya kesempatan menjadi tidak Indonesia lagi, dan menjadi bagian dari negara yang mungkin kelak bukan hanya saya cintai tapi bisa membalas mencintai saya sebagai rakyatnya, siapkah saya tidak menjadi Indonesia lagi? Maukah saya menjadi tidak Indonesia lagi? Bukan perkara khianat mengkhianati, tapi rakyat mana yang tidak ingin dicintai oleh negaranya?

Seorang negarawan besar, Kennedy pernah berkata: “Ask not, what your country can do for you. Ask what, you can do for your country.” Tidak salah juga. Tapi kan, seperti kebanyakan kisah percintaan; cinta yang berlangsung satu arah biasa berakhir dengan perpisahan.

Mungkin, negara saya ini hanya mencintai orang-orang yang salah. Negara saya ini mencintai mereka yang tidak bisa membalas cintanya sepenuh hati. Akhirnya, seperti bujang lapuk yang jatuh ke tangan gold-digger, negara saya kere diporotin sama orang-orang yang dicintainya.

Saya cinta kok negara ini. Tapi, kalau misalnya cerita cinta bertepuk sebelah tangan macam ini terjadi pada orang-orang dekat saya, saya pasti sudah mengatakan padanya bahwa dia adalah orang bodoh dan suatu hari akan ada orang lain yang lebih baik yang mencintainya sama besar bahkan lebih besar cintanya. Setidaknya seseorang yang bisa dan mau menghargai perasaanya.

Jadi.

Kembali lagi ke pertanyaan: apakah saya mau kembali (atau tetap) menjadi milik Indonesia kalau ada negara lain yang bisa mencintai saya, tidak menerlantarkan saya, tidak mendiskriminasi saya, tidak lagi-lagi mengambil keputusan untuk menyakiti hati saya, dan mau melindungi saya dari ancaman kelompok yang lebih kuat… Dan yang pasti menganggap saya (dan semua warga negara yang minoritas seperti saya) sebagai warga yang layak dihargai?

Logikanya: saya akan berkata tegas seperti Soe, saya siap tidak Indonesia lagi; atau langsung tancap gas kabur seperti Suhu Epen. Tapi kata Agnes Monika: Cinta ini kadang-kadang tak ada logika, dan sayangnya itu benar.

Lalu apa kata Bybyq?

Hm… What do you think?

Kenapa Bybyq?

Standard

Untuk kesekian kalinya dalam hidup saya ditanya tentang apa itu Bybyq, kenapa Bybyq, kenapa jadi SUPERBYQ atau apa itu BYQ dan segala sesuatu yang saya hubung-hubungkan dengan Byq. Sejarah kenapa nama Bybyq itu terbentuk sebenarnya tidak speenting apa yang diwakilkan oleh Bybyq itu sendiri. Dalam perjalanan hidup saya, saya sudah berulang kali membuat nama alias yang mewakili saya.

Pas saya masih alay dulu (oh ya… ternyata saya kok pernah alay), saya punya nama alias yang menunjukkan kalau saya pernah alay. Pas saya masih aktif main game dan internetan buat cari duit, orang-orang mengenal saya dengan Klaudine. Sekarang saya dikenal dengan Bybyq, dan saya merasa tidak ada yang salah dengan saya me-Rebrand diri saya sendiri. Saya kan anak IMC, saya bisa dong membuat personal re-branding dengan membuat nama alias yang baru.

Lalu kenapa nama yang dipilih itu Bybyq?

Saya tidak mau menjelaskan. Tapi akuilah, nama Bybyq kan catchy dan mudah diingat. Apalagi “byq” dapat dengan mudah diasosiasikan dengan banyak hal. Dan tidak perlu repot menjelaskan apa artinya Bybyq karena tidak perlu ada artinya, kan?

Ga percaya kalau mau bikin brand ga perlu cari arti namanya dulu? Gih buka wikipedia… atau saya copy-in bagian yang penting aja nih…

Types of brand names

Brand names come in many styles.[7] A few include:
Acronym: A name made of initials such as UPS or IBM
Descriptive: Names that describe a product benefit or function like Whole Foods or Airbus
Alliteration and rhyme: Names that are fun to say and stick in the mind like Reese’s Pieces or Dunkin’ Donuts
Evocative: Names that evoke a relevant vivid image like Amazon or Crest
Neologisms: Completely made-up words like Wii or Kodak
Foreign word: Adoption of a word from another language like Volvo or Samsung
Founders’ names: Using the names of real people,and founder’s name like Hewlett-Packard or Disney
Geography: Many brands are named for regions and landmarks like Cisco and Fuji Film
Personification: Many brands take their names from myth like Nike or from the minds of ad execs like Betty Crocker

The act of associating a product or service with a brand has become part of pop culture. Most products have some kind of brand identity, from common table salt to designer jeans. A brandnomer is a brand name that has colloquially become a generic term for a product or service, such as Band-Aid orKleenex, which are often used to describe any brand of adhesive bandage or any brand of facial tissue respectively.

Source: http://en.wikipedia.org/wiki/Brand

Udah? Puas?

Itu, baca! Neologisms. Nama Bybyq hanyalah completely made up words, seperti Wii atau Kodak. Jadi ga usah ditanya artinya atau dibuka di kamus untuk cari tahu apa maksudnya, karena memang ga ada.

Ngomong-ngomong soal brand, kalau nama alias gitu saya bisa daftarkan di kantor hak paten ga ya?

DING!

Standard

DING!

HP saya berbunyi. Semenjak setahun lebih saya menggunakan Blackberry, baru akhir-akhir ini saya merasakan muak dengan HP tersebut. Bukan apa-apa. Blackberry Messenger yang dulunya membuat saya happy karena bisa berkontak dengan orang-orang tertentu sering-sering dan gratis, sekarang membuat saya kerepotan sendiri. Seperti misalnya pada saat saya sedang tidak ingin dikontak, dan…

DING!

Ketika saya sedang serius menulis blog atau main Age of Empire (lagi), tiba-tiba…

DING!

Tidak mungkin tidak saya lihat karena siapa tahu isinya penting tapi sayangnya, sering kali isinya tidak penting. Hanya basa-basi nanya kabar, kadang saya balas demi kesopanan, kadang saya biarkan saja. Masalahnya, ketika sudah saya baca dan tanda “D” berubah menjadi “R” dan tidak saya balas maka, “DING!” berubah menjadi…

DING! DING! DING! DING!

Tulisan pendek-pendek tanpa makna berturut-turut, membuatku ingin membanting HP itu sampai modar tak berfungsi lagi. Yang lebih memuakkan lagi, DING! DING! itu berubah menjadi PING!!!

Siapa yang bilang BB mau dihapuskan di Indonesia? Oh, ya… menteri yang itu. Silakan aja deh…

Kadang-kadang BBM bikin orang ga ngerti waktu. Orang-orang terlalu accessible.

Toh, kalau mau messengeran masi ada YM. Bisa dinyalakan kalau sedang rela diakses, bisa dimatikan kalau sedang tidak ingin diganggu sama sekali. Atau bisa appear offline kalau pingin ngecek-ngecek keadaan tapi ga mau diganggu siapa pun. Atau kalau lebih jadul sedikit ada MSN. Atau kalau ga punya semuanya, bisa e-mail. Atau SMS kalau belom punya e-mail.

DING!

Saya sudah mulai bisa memfilter Broadcast Messenger yang masuk ke BB saya. Ternyata tidak sulit, tinggal delete saja siapa pengirimnya. Dijamin, BB kita bersih dari broadcast tidak jelas.

DING!

Saya juga sudah diajari mematikan notification group. Silahkan ngomong sepegel jempolmu, saya tidak akan baca itu grup-grup yang saya masuki, sekali lagi, hanya dengan alasan kesopanan.

DING!

Akhirnya saya jadi serba salah juga. Dibalas makin panjang berentet, tidak dibalas yang disana makin maniak memberondong dengan pesan ga penting. “Woi!” “Byq” “haha” “hehe” “kok ga dibales?” “Udah tidur ya?”

Gimana kalau saya beneran sudah tidur? Tidak tahukan bahwa DING! DING! itu benar-benar mengganggu?

IT IS an instant messenger but don’t expect people to just reply it instantly. APALAGI, kalau orang tersebut memasang lambang BUSY di depan statusnya. WOI! STATUS dibuat ada maksudnya. Bukan sebagai tempat curcol singkat (you can use twitter for that), tapi buat ngasih tahu “I AM BUSY”.

DING!

DING!

DING! DING! DING! DING! DING!

Aaarrgh! *lempar HP* Shut up! Saya lagi ga mood ngeladenin pembicaraan ga penting!

Power!!

Standard

“Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely” – Lord Acton

Beberapa tahun yang lalu di awal-awal masa perkuliahan saya, dosen Pengantar Ilmu Politik saya memberikan kalimat kutipan itu di salah satu kuliah yang menyenangkan. Kutipan tersebut merupakan salah satu kutipan favorit saya bahkan sampai saat ini, bukan cuma karena ada words play di dalamnya, namun juga karena kutipan ini bisa saya artikan dengan sangat-sangat-sangat luas.

Bahkan, kutipan ini mengingatkan saya pada sebuah kalimat terkenal salah satu superhero, “With great power comes great responsibility.” This is my gift, my curse. Who am I? I’m Spider-man”

Kalau menggunakan persamaan matematis yah…

Power = responsibility

Power = Corrupt

Kalau di Indonesia, negaraku tercinta ini, sepertinya cocok banget… The greater the power, the more corrupted the responsibility.

Di negara ini, saya takut punya power. Semua orang berasa punya power. Yang punya jabatan merasa berpower karena jabatannya. Yang ga punya jabatan merasa berpower asal punya uang. Yang ga punya uang dan ga punya jabatan merasa punya power karena menang di jumlah. Ujung-ujungnya, power itu disalah gunakan, karena sebenarnya mereka tidak layak diberikan power itu.

Yang jabatannya tinggi menekan yang jabatannya lebih rendah dengan powernya. Yang punya uang menekan yang miskin karena powernya. Yang jumlahnya mayoritas menekan yang minoritas karena powernya. Saya rasa, cuma spiderman mungkin yang pantas punya power. Bukan cuma karena dia merasa bahwa dengan powernya dia mestinya punya tanggung jawab lebih daripada yang lain, tapi karena dia merasa powernya adalah ‘kutukan’-nya. Dia tidak menerima powernya dengan sikap “take it for granted”, karena ada beban yang ‘numpang’ bersamaan dengan besarnya power itu.

Yap! Di negara ini saya takut punya power. Bukan cuma karena saya takut suatu hari saya bakal menyalah gunakan power saya, tapi lebih tepatnya karena takut orang-orang di sekitar sayalah yang ingin numpang berkuasa dengan power itu. Bukan rahasia lagi kalau di negara ini, orang-orang berpower selalu ‘digelayuti’ mereka yang ingin ikutan merasakan manisnya punya kuasa.

Bukan saya tidak tahu ada orang-orang semacam itu di sekitar saya. “omnya teman baik gue itu tentara lho”, atau “bapaknya teman sekelas gue anggota DPR” atau “Sepupunya kakak ipar gue ternyata orang dekatnya mafia itu lho”. Think about it, saya jadi takut di punya power. Di luar sana akan ada orang yang menyebut saya hanya untuk memanfaatkan sepercik power yang saya miliki.

Di salah satu forum yang katanya forum terbesar se-Indonesia, plat nomer dengan lambang polisi dijual bebas, beserta dengan kartu keanggotaan TNI. Buat apa? Di forum yang sama, orang-orang berjualan senjata LEGAL sekaligus dengan surat izinnya. Buat apa?

People are searching for power, because the temptation to violate the rule is too big here in this country. They pursue power because they WANT to abuse it. Mereka sengaja ingin punya power karena sengaja pengen menyalahgunakannya. That kind of power in this environment scares me so bad. Dan sekaligus, saya benci orang-orang yang abusing power itu just because they can.

Sedihnya adalah, dengan kesadaran sebanyak ini, saya pun masih suka abusing power yang saya miliki. *sigh*

Kamu juga… ya kan?

Something About Rock

Standard

I always have a ‘thing’ to Rock music.

Bukannya sengaja karena ga mau samaan sama si Onyed yang doyan Jazz, tapi kenyataanya dalam hidup pun saya dan si Onyed seperti Rock dan Jazz.  Meksipun pada suatu waktu kami berdua sama-sama suka Rod Steward karena dia “versatile” :D, kami masih berantem menentukan apakah dia Jazzy Rocker atau Rocky Jazzer. Anyway, mari kita tinggalkan si Onyed si sini, karena saya tidak mau membahas dia dan Jazz Music-nya.

Semuanya berawal waktu saya masih sangat kecil sekali… kira-kira ukurannya baru sekitar 120cm lebih sedikit, dan salah seorang kakak sepupu terdekat dengan saya memberikan satu kaset (iye!! pada jaman itu belom ngetren Audio CD apa lagi mp3), salah satunya lagu OASIS, Don’t Go Away.

Berhubung pada jaman dulu belom ada file hosting dan shareware macam torrent (ah, boro2! Internet aja baru jaman dial-up networking), saya tidak bisa search dan download lagu seenaknya seperti sekarang. Saya cuma bisa penasaran, makhluk macam apakah OASIS ini? (DAN JUGA PENASARAN KENAPA MEREKA HARUS BUBAR?!?!) Dan sejak hari itu, sejak cinta pendengaran pertama pada musik ini, saya mulai tekun mencari musik-musik serupa.

Saya membeli album kompilasi FRESH! dan FRESH! 2, di toko kaset. Ya saya tahu (pada akhirnya) kalau mereka dimasukkan dalam kategori Alternative, tapi saya dan musik rock punya sejarah yang panjang di kemudian hari.

Di mata saya, seseorang punya nilai plus kalau tahu tentang music rock. Mau dia cewe, cowo, banci atau bencong, mau dia anak kecil atau orang tua, mau dia bego atau jenius, tapi kalau dia ngerti something about music rock, apalagi bisa main music dengan genre rock… saya bisa… uhm… having butterfly in my stomach and probably fall in love (which for now is unlikely because I have already had si Onyed around). And yes, I could fall in love with a stupid bencong if he/she knows about rock music (just in case anybody asks…)

Music rock dulu adalah musik pengantar tidur buat saya. Seriously… saya tidur diiringi lagu Linkin Park saat SMA dulu. Music rock menggambarkan perasaan saya dengan banyak cara, anger, happiness, the longing of freedom (mostly)… bahkan buat saya music rock bisa saja romantis. Music rock membuat saya menjadi filosofis tanpa harus menjadi njelimet, berbeda dengan music jazz yang ‘keminter’ menurut saya.

Rock music touched my heart.

Beberapa bulan sebelom akhirnya OASIS memutuskan untuk bubar jalan, saya mimpi jadi tamu kehormatan di konser mereka. Pas mereka mau nyanyi “Half The World Away”, saya disorot spotlight dan ditarik ke panggung untuk nyanyi bareng sama mereka. Hebatnya saya sama sekali nggak fals, dan keliatan cakep banget di atas panggung… seriously.

Lalu ada si Dave (or David) Cook.

Dia dengan charmingly nya mengubah semua lagu menjadi lagu rock… Saya nangis gerung-gerung denger rock version-nya Always Be My Baby, yang semulanya dinyanyiin sama Mariah Carey. Sayangnya blog yang lama sudah hilang dibunuh google, so saya ga bisa menunjukkan buktinya saya sampai embed youtube di blog hanya untuk presenting lagu itu buat pembaca blog saya.

Rock music has somehow changed my life. This entry is dedicated to Rock 😀

ROCK ON!!

Beth – KISS

Standard

Beth, I hear you callin’
But I can’t come home right now
Me and the boys are playin’
And we just can’t find the sound

Just a few more hours
And I’ll be right home to you
I think I hear them callin’
Oh, Beth what can I do
Beth what can I do

You say you feel so empty
That our house just ain’t a home
And I’m always somewhere else
And you’re always there alone

Just a few more hours
And I’ll be right home to you
I think I hear them callin’
Oh, Beth what can I do
Beth what can I do

Beth, I know you’re lonely
And I hope you’ll be alright
‘Cause me and the boys will be playin’
All night

Broken Wings

Standard

Beberapa tahun yang lalu, keluarga kami memelihara seekor burung nuri berkepala hitam yang nakalnya bukan main. Senakal apapun burung nuri itu, tapi dia tidak pernah terbang keluar dari rumah meskipun dibiarkan tidak terikat di luar kandang di taman. Penjualnya pada waktu itu bilang pada kami bahwa burung itu sayapnya dipotong dan tidak bisa terbang lagi.

Lebaran tahun lalu saat kami pergi ke Bali sekeluarga, kamai mengunjungi taman burung di sana. Di taman burung itu, burung-burung langka dan indah dibiarkan terbang begitu saja tapi tidak pernah melebihi batas atap. Aneh sekali, karena tidak ada satupun penghalang antara mereka dan langit bebas. Kamipun bertanya kepada salah seorang penjaga yang mengurusi burung-burung itu.

Pada awalnya burung-burung itu dipotong bulu sayapnya, sehingga mereka tidak bisa terbang. Setelah beberapa lama bulu-bulu itu tumbuh kembali, dan kemampuan mereka untuk terbang pun sudah kembali, tapi mereka sudah “percaya” bahwa mereka tidak lagi bisa terbang tinggi. Mereka terbang dengan rasa takut suatu saat mereka tidak bisa terbang lagi dan bisa jatuh, sehingga mereka hanya berani terbang rendah.

Expectation

Pernah melihat beberapa orang, yang gagal menjalani hubungan dengan seseorang yang baik, lalu malah berakhir dengan seseorang yang “kurang baik”, apalagi dibandingan pasangan sebelumnya? Atau, tidak sukses menembak cewek impian, lalu mengejar temannya yang sudah disiapkan sebagai cadangan? Atau melihat seseorang yang tinggal kelas di sekolah yang bagus mutunya lalu pindah dan berakhir di sekolah abal-abal?

Kegagalan, atau kalau lebih halusnya ke-kurang-sukses-an, bagi beberapa orang menyebabkan mereka merasa harus menurunkan expectation. Merevisi mimpi dan mengecilkan goal yang semula ingin dicapai. Menyudahi usaha karena merasa bahwa apa yang ingin dicapai terlalu jauh di luar jangkauan.

Untungnya saya punya orang tua yang lebih supportive daripada beberapa orang tua lain, dan lebih beruntung lagi, orang tua saya sanggup men-support saya. Saya tidak harus menurunkan harapan saya, saat saya harus mengulang dari awal.

Tahun 2004 saya keluar dari sebuah universitas, dan masuk lagi tahun 2005 untuk mengulang lagi di jurusan yang berbeda. I lowered my expectation to none. Saya yang pada awalnya ingin sekolah tinggi dan jadi profesor (kalo bisa), pada saat mengulang itu hanya berpikir: “yang penting lulus. Lulus aja udah bagus. Yang penting punya gelar”.

Setelah sayap saya dikebiri, saya “percaya” saya tidak akan bisa terbang lagi. I believed I had lost it. Even in a moment I scared to graduate because it was the end of my expectation. Dan saya percaya, setelah saya lulus, maka habislah perjuangan saya. Seperti burung yang cuma berani terbang rendah, meskipun tidak ada penghalang antara saya dan langit luas, padahal bulu di sayap saya sudah tumbuh.

Mungkin saya tidak akan terbang ke bulan dengan sayap itu. Mungkin suatu hari sayap itu akan rusak lagi dan saya harus menunggu saatnya saya bisa terbang lagi. Tapi a wise girl named Bybyq berkata: kalau bisa kenapa tidak?

Nama Belakang Bybyq

Standard

Sejak kecil saya selalu bingung kenapa saya punya nama belakang yang tidak biasa. Nama keluarga saya tidak seperti nama keluarga teman-teman saya yang lain, yang pada waktu itu, dua puluh tahun yang lalu, terdengar asing dan sulit disebut dengan benar. Saat saya bertanya pada Papa saya kenapa saya punya nama belakang seperti itu, Papa cuma bilang karena itu adalah marga saya yang sebenarnya, dan dia tidak mau mengalihbahasakannya menjadi nama belakang yang berbau Indonesia, seperti punya teman-teman saya.

Sampai beberapa waktu lamanya saya merasa kesal, karena banyak teman-teman saya yang melecehkan nama belakang saya yang tidak biasa itu. Nama belakang dengan satu syllable yang membuat saya terdengar seperti orang asing nyasar di sini. Mereka membuat julukan-julukan dengan nama belakang saya itu (bahkan tidak berhenti waktu SD saja, sampai kuliah pun masih banyak yang menggunakan nama belakang saya hanya untuk sekedar make fun of me). Saya baru bisa menerima nama belakang saya itu sebagai bagian dari diri saya yang seutuhnya setelah saya SMP.

Lebih tepatnya, nama belakang yang mencirikan ke-Tionghoa-an saya itu, menjadi bagian yang saya cintai dengan sepenuh hati justru setelah kejadian Mei 1998 lalu. Di saat warga keturunan Tionghoa diburu untuk ‘dihabisi’, saya malah senang menjadi bagian-nya, menunjukkan saya bukan penjahat yang memburu, tapi saya adalah survivor masa itu. Nama itu saya bawa ke mana-mana. Bahkan saat saya tidak lagi mencantumkan nama permandian saya (karena saya kehilangan kepercayaan saya di sana), nama belakang yang pernah membuat saya ‘sengsara’ itu masih saya bawa dan saya lekatkan di mana pun saya menuliskan nama saya.

Saya baru menyadari beberapa tahun belakangan ini. Ketika menjadi warga keturunan bukan lagi sesuatu yang ‘menakutkan’ (atau setidaknya sudah tidak se-intimidating seperti pada waktu saya masih kecil dulu), beberapa teman saya yang dulu setahu saya tidak punya nama belakang, atau punya nama belakang ‘standar’ dan ‘pasaran’, sekarang punya nama belakang yang mirip-mirip saya. Mereka mulai mencantumkan nama yang ‘tidak biasa’ itu. Nama satu syllable yang sekarang ramai memenuhi facebook saya.

Saya baru sadar, bahwa Papa saya bertindak benar pada waktu itu dengan tidak melepaskan identitas saya sepenuhnya dengan membuat nama saya menjadi benar-benar pasaran. Sekarang setiap orang berusaha membuat identitasnya masing-masing, dengan membuat nama belakang mereka sendiri. Tapi saya lain, berkat Papa saya, saya punya nama belakang yang melekat di semua dokumen resmi saya. Kalau teman-teman saya hanya punya nama belakang seperti saya di Facebook saja, saya punya nama itu di Akta Kelahiran, Paspor, KTP, SIM, STTB, STK, transkrip nilai… pokoknya semua.

Hore…

HAPPY CAP GO MEH