Ada Apa Dengan CLBK?

Standard

Pulang kampung kemarin entah kenapa pembicaraan beralih ke urusan CLBK. Nggak salah memang kalau bagi mereka yang pulang kampung, urusan CLBK suka jadi perbincangan. Bagaimana tidak? Pulang kampung bagi kebanyakan orang tidak cuma mengobati kangen dengan kampung halaman, tapi juga membawa kembali memori indah yang pernah terjadi di sana.

Saya bukan orang yang bisa CLBK. Bagi saya memori adalah potongan masa lalu yang cukup disimpan saja. Atau sesekali dibicarakan kembali dengan orang-orang yang sama-sama bisa menikmati. Atau dirayakan. Atau dipelajari. Bukan untuk diulangi.

Kenapa?

Alasannya mudah saja.

Kamu kembali ke kampung halaman, lalu bertemu dengan orang-orang lama. Cerita lama diungkit kembali. Plus kangen pada kampung halaman yang terobati sedikit membuat perasaan menjadi jauh lebih baik. Rasanya seperti momen yang sangat tepat untuk jatuh cinta (lagi). Boom! Instant connection. Instant chemistry. Instant feeling, yang mungkin rasanya dalam tapi sebenarnya hanya bias dari perasaan dangkal yang tidak bisa benar-benar kamu sadari. Kamu berpikir dalam 48 jam romansa itu tercipta kembali. But it’s not. It’s wrong.

Logikanya (karena logika memang lebih pintar daripada emosi), ketika masa liburan berakhir dan kamu kembali ke pekerjaan atau sekolah atau initnya tidak lagi di moment itu, kamu akan kembali menjadi kamu yang biasanya. No more blast from the past berubah menjadi bullshit. Dan otakmu mulai mereboot system dan meninggalkan vacation mode, kembali bekerja menggunakan nalar yang semestinya kemudian kamu mulai berpikir,

“Hey! What did I do? Why the hell on earth I did it? What should I do now? Do I really want this? WTF?”

Singkat cerita, when the vacation mode is turned off, dan otak kembali berjaga, kamu baru mulai mereview kembali dan mempertanyakan apa yang sudah kamu lakukan.

Kata seorang teman, ini membicarakan “kasih tak sampai”. Yang lain mengatakan “unfinished business”. Bagi saya, ini hanyalah langkah tidak bijaksana yang dilakukan. Langkah berbahaya yang merusak kemungkinan di masa depan. Bermain-main dengan masa lalu, bagi saya, seperti berjalan di tepi jurang dalam keadaan berkabut. Kalau kamu tidak siap, lebih baik jangan melakukannya. Jangan pernah melakukannya.

Tanyalah kepada beberapa orang yang mengalami CLBK hanya untuk kemudian menemukan bahwa tidak ada apa-apa di masa depan dengan cinta yang lama. Buat apa mengulang memori toh tidak akan mengubah masa lalu. Atau lebih tepatnya, tidak akan mengubah apapun.

Saya tidak menyalahkan apabila seseorang jatuh cinta lagi dengan orang yang sama. Tapi CLBK is a big no no. Bedanya adalah, dalam CLBK, kamu tidak melihat orang ini dalam situasi dan kondisi “sekarang” tapi kamu melihatnya sebagai “orang yang dulu”. Sedangkan “orang yang dulu” sudah tidak ada lagi, dan ketika romansa menghilang dan kamu melihat kenyataan bahwa dia adalah orang yang “sekarang”, maka CLBK itu hanyalah kutukan. Seriously, CLBK hanya kabut yang menghalangi seseorang dari melihat kenyataan sekarang.

Seriously…

Karena apa yang diperbincangkan pada waktu pulang kampung kemarin, saya merasa yakin bahwa CLBK is a lame action. You’re growing up, and everybody’s changing. It is ALMOST impossible to stay the same after 5 years let alone 10 years. It is almost impossible to repossess what’s gone after all this time, without you have to blind yourself from reality a bit (or a lot). You’re now a different person, don’t expect what you’ve seen in High School back to the present, don’t even think about it.

Sounds emotional? You bet 😀

CLBK sucks. *cari pendukung*

Advertisements

Comments are closed.