Nama Belakang Bybyq

Standard

Sejak kecil saya selalu bingung kenapa saya punya nama belakang yang tidak biasa. Nama keluarga saya tidak seperti nama keluarga teman-teman saya yang lain, yang pada waktu itu, dua puluh tahun yang lalu, terdengar asing dan sulit disebut dengan benar. Saat saya bertanya pada Papa saya kenapa saya punya nama belakang seperti itu, Papa cuma bilang karena itu adalah marga saya yang sebenarnya, dan dia tidak mau mengalihbahasakannya menjadi nama belakang yang berbau Indonesia, seperti punya teman-teman saya.

Sampai beberapa waktu lamanya saya merasa kesal, karena banyak teman-teman saya yang melecehkan nama belakang saya yang tidak biasa itu. Nama belakang dengan satu syllable yang membuat saya terdengar seperti orang asing nyasar di sini. Mereka membuat julukan-julukan dengan nama belakang saya itu (bahkan tidak berhenti waktu SD saja, sampai kuliah pun masih banyak yang menggunakan nama belakang saya hanya untuk sekedar make fun of me). Saya baru bisa menerima nama belakang saya itu sebagai bagian dari diri saya yang seutuhnya setelah saya SMP.

Lebih tepatnya, nama belakang yang mencirikan ke-Tionghoa-an saya itu, menjadi bagian yang saya cintai dengan sepenuh hati justru setelah kejadian Mei 1998 lalu. Di saat warga keturunan Tionghoa diburu untuk ‘dihabisi’, saya malah senang menjadi bagian-nya, menunjukkan saya bukan penjahat yang memburu, tapi saya adalah survivor masa itu. Nama itu saya bawa ke mana-mana. Bahkan saat saya tidak lagi mencantumkan nama permandian saya (karena saya kehilangan kepercayaan saya di sana), nama belakang yang pernah membuat saya ‘sengsara’ itu masih saya bawa dan saya lekatkan di mana pun saya menuliskan nama saya.

Saya baru menyadari beberapa tahun belakangan ini. Ketika menjadi warga keturunan bukan lagi sesuatu yang ‘menakutkan’ (atau setidaknya sudah tidak se-intimidating seperti pada waktu saya masih kecil dulu), beberapa teman saya yang dulu setahu saya tidak punya nama belakang, atau punya nama belakang ‘standar’ dan ‘pasaran’, sekarang punya nama belakang yang mirip-mirip saya. Mereka mulai mencantumkan nama yang ‘tidak biasa’ itu. Nama satu syllable yang sekarang ramai memenuhi facebook saya.

Saya baru sadar, bahwa Papa saya bertindak benar pada waktu itu dengan tidak melepaskan identitas saya sepenuhnya dengan membuat nama saya menjadi benar-benar pasaran. Sekarang setiap orang berusaha membuat identitasnya masing-masing, dengan membuat nama belakang mereka sendiri. Tapi saya lain, berkat Papa saya, saya punya nama belakang yang melekat di semua dokumen resmi saya. Kalau teman-teman saya hanya punya nama belakang seperti saya di Facebook saja, saya punya nama itu di Akta Kelahiran, Paspor, KTP, SIM, STTB, STK, transkrip nilai… pokoknya semua.

Hore…

HAPPY CAP GO MEH

Advertisements

3 responses

  1. Pingback: Bukan anak siapa-siapa….. « it's…. just a note