Broken Wings

Standard

Beberapa tahun yang lalu, keluarga kami memelihara seekor burung nuri berkepala hitam yang nakalnya bukan main. Senakal apapun burung nuri itu, tapi dia tidak pernah terbang keluar dari rumah meskipun dibiarkan tidak terikat di luar kandang di taman. Penjualnya pada waktu itu bilang pada kami bahwa burung itu sayapnya dipotong dan tidak bisa terbang lagi.

Lebaran tahun lalu saat kami pergi ke Bali sekeluarga, kamai mengunjungi taman burung di sana. Di taman burung itu, burung-burung langka dan indah dibiarkan terbang begitu saja tapi tidak pernah melebihi batas atap. Aneh sekali, karena tidak ada satupun penghalang antara mereka dan langit bebas. Kamipun bertanya kepada salah seorang penjaga yang mengurusi burung-burung itu.

Pada awalnya burung-burung itu dipotong bulu sayapnya, sehingga mereka tidak bisa terbang. Setelah beberapa lama bulu-bulu itu tumbuh kembali, dan kemampuan mereka untuk terbang pun sudah kembali, tapi mereka sudah “percaya” bahwa mereka tidak lagi bisa terbang tinggi. Mereka terbang dengan rasa takut suatu saat mereka tidak bisa terbang lagi dan bisa jatuh, sehingga mereka hanya berani terbang rendah.

Expectation

Pernah melihat beberapa orang, yang gagal menjalani hubungan dengan seseorang yang baik, lalu malah berakhir dengan seseorang yang “kurang baik”, apalagi dibandingan pasangan sebelumnya? Atau, tidak sukses menembak cewek impian, lalu mengejar temannya yang sudah disiapkan sebagai cadangan? Atau melihat seseorang yang tinggal kelas di sekolah yang bagus mutunya lalu pindah dan berakhir di sekolah abal-abal?

Kegagalan, atau kalau lebih halusnya ke-kurang-sukses-an, bagi beberapa orang menyebabkan mereka merasa harus menurunkan expectation. Merevisi mimpi dan mengecilkan goal yang semula ingin dicapai. Menyudahi usaha karena merasa bahwa apa yang ingin dicapai terlalu jauh di luar jangkauan.

Untungnya saya punya orang tua yang lebih supportive daripada beberapa orang tua lain, dan lebih beruntung lagi, orang tua saya sanggup men-support saya. Saya tidak harus menurunkan harapan saya, saat saya harus mengulang dari awal.

Tahun 2004 saya keluar dari sebuah universitas, dan masuk lagi tahun 2005 untuk mengulang lagi di jurusan yang berbeda. I lowered my expectation to none. Saya yang pada awalnya ingin sekolah tinggi dan jadi profesor (kalo bisa), pada saat mengulang itu hanya berpikir: “yang penting lulus. Lulus aja udah bagus. Yang penting punya gelar”.

Setelah sayap saya dikebiri, saya “percaya” saya tidak akan bisa terbang lagi. I believed I had lost it. Even in a moment I scared to graduate because it was the end of my expectation. Dan saya percaya, setelah saya lulus, maka habislah perjuangan saya. Seperti burung yang cuma berani terbang rendah, meskipun tidak ada penghalang antara saya dan langit luas, padahal bulu di sayap saya sudah tumbuh.

Mungkin saya tidak akan terbang ke bulan dengan sayap itu. Mungkin suatu hari sayap itu akan rusak lagi dan saya harus menunggu saatnya saya bisa terbang lagi. Tapi a wise girl named Bybyq berkata: kalau bisa kenapa tidak?

Advertisements

Comments are closed.