Will I Be Back?

Standard

Jujur aja, tulisan ini saya buat karena tetangga blog saya, si Soe bilang kalau suatu hari nanti saat cintanya sudah habis sama negara ini, dia siap tidak menjadi orang Indonesia lagi. Kalau saya, siap nggak ya?

Saya cinta kok sama negara ini. Saya peduli sama negara ini. Belakangan Papa saya aja sampe bingung sama begitu pedulinya saya pada Indonesia. Beliau pun sempat mengatai saya Nasionalis (meskipun menyebut saya Nasionalis sebenarnya tidak tepat dikatakan sebagai “mengatai”).

Kalau kata Mama saya yang pedagang, pelanggan yang komplain artinya pelanggan yang peduli, dan ingin kita menjadi lebih baik. Mungkin, orang-orang seperti saya dan Soe sebenarnya jauh lebih cinta negara ini daripada mereka yang apatis, cuek, tidak mau tahu dan tidak mau ambil pusing mau jadi apa negara ini.

Tapi kata-kata Soe itu membuat saya jadi mikir juga: kalau saya punya kesempatan menjadi tidak Indonesia lagi, dan menjadi bagian dari negara yang mungkin kelak bukan hanya saya cintai tapi bisa membalas mencintai saya sebagai rakyatnya, siapkah saya tidak menjadi Indonesia lagi? Maukah saya menjadi tidak Indonesia lagi? Bukan perkara khianat mengkhianati, tapi rakyat mana yang tidak ingin dicintai oleh negaranya?

Seorang negarawan besar, Kennedy pernah berkata: “Ask not, what your country can do for you. Ask what, you can do for your country.” Tidak salah juga. Tapi kan, seperti kebanyakan kisah percintaan; cinta yang berlangsung satu arah biasa berakhir dengan perpisahan.

Mungkin, negara saya ini hanya mencintai orang-orang yang salah. Negara saya ini mencintai mereka yang tidak bisa membalas cintanya sepenuh hati. Akhirnya, seperti bujang lapuk yang jatuh ke tangan gold-digger, negara saya kere diporotin sama orang-orang yang dicintainya.

Saya cinta kok negara ini. Tapi, kalau misalnya cerita cinta bertepuk sebelah tangan macam ini terjadi pada orang-orang dekat saya, saya pasti sudah mengatakan padanya bahwa dia adalah orang bodoh dan suatu hari akan ada orang lain yang lebih baik yang mencintainya sama besar bahkan lebih besar cintanya. Setidaknya seseorang yang bisa dan mau menghargai perasaanya.

Jadi.

Kembali lagi ke pertanyaan: apakah saya mau kembali (atau tetap) menjadi milik Indonesia kalau ada negara lain yang bisa mencintai saya, tidak menerlantarkan saya, tidak mendiskriminasi saya, tidak lagi-lagi mengambil keputusan untuk menyakiti hati saya, dan mau melindungi saya dari ancaman kelompok yang lebih kuat… Dan yang pasti menganggap saya (dan semua warga negara yang minoritas seperti saya) sebagai warga yang layak dihargai?

Logikanya: saya akan berkata tegas seperti Soe, saya siap tidak Indonesia lagi; atau langsung tancap gas kabur seperti Suhu Epen. Tapi kata Agnes Monika: Cinta ini kadang-kadang tak ada logika, dan sayangnya itu benar.

Lalu apa kata Bybyq?

Hm… What do you think?

Advertisements

2 responses

  1. Hmm.. diriku akan selalu cinta Indonesia. And hope she gets better everyday. Tapi belakangan Indonesia sekarang terasa aneh..dulu adem dan tentram, sekarang kok ya banyak orang bodohnya hiks hiks…

    Err.. daku rasa, walaupun nanti memungkinkan pegang passport lain, namun hati tetep Indonesia 😀 xixixixi

    Like