KW Super

Standard

Sejak beberapa tahun terakhir saya memutuskan untuk tidak menggunakan barang-barang bajakan. Selain DVD, dan game tentunya karena yang itu belum bisa berhenti total. Saya belum bisa memerangi pembajakan secara menyeluruh tapi saya memulainya dari lifestyle.

Hari ini, saudara sepupu saya memanggil “tante tukang jualan tas (TTJT)” ke rumah tante saya. TTJT ini adalah langganan saudara sepupu saya untuk membeli tas-tas keren nan “branded”. Mereka menyebut tas-tas itu dengan merek-merek prestisius seperti Tod’s, Balenciaga, MiuMiu, atau Louis Vuitton. Tapi saya tahu, mereka tahu, bahwa itu barang KW.

Saya tidak menyalahkan mereka membeli barang KW. Saudara sepupu saya yang fashionable itu mungkin membutuhkannya untuk menopang lifestylenya. Tapi saya tidak fashionable, dan saya tidak perlu nama-nama prestisius menempel di badan saya. Sayapun mundur dari sana, memutuskan untuk tidak tahu saja.

Saya bukannya idealis, tapi saya adalah orang yang peka dan perasa. Itu sebabnya saya berusaha mengerti kenapa mereka tidak membeli barang asli yang harganya sungguh mahal. Itu kenapa saya mengerti kenapa mereka membeli tas-tas KW yang sebenarnya tidak murah itu. Mereka membutuhkannya, dan saya tidak.

Tapi saya punya adik yang bekerja di bidang desain. Yang mana ide desain adalah sesuatu yang muncul tidak dari sehari atau dua hari pemikiran. Adik saya berusaha ekstra keras untuk membuat satu desain, dan saya percaya orang-orang desain juga mengalami sulitnya mencari ide yang benar-benar baru. Saya tahu susah benar hatinya saat desainnya dicontek teman sekelasnya.

Teman-teman saya yang arsitek, pernah mengomel pada saya ketika desainnya dicontek teman sekelompoknya. Beberapa mulai menghujat plagiat-plagiat lain yang “membunuh” desain original. Di kampus saya, plagiat akan langsung mendapat nilai nol, dan harus mengulang kuliahnya.

Saya mungkin bukan manusia paling taat hukum, namun saya berusaha untuk tidak melanggarnya. Di Indonesia ada undang-undang tentang hak cipta, dan perlindungan karya intelektual. Misalnya, dilarang mencopy-paste blog ini untuk tulisan komersial!

Saya nggak bercanda lho. Salah satu teman blog saya, Neng Biker, memutuskan untuk tidak memuat content bergambar original miliknya karena tidak mau gambarnya dicomot. Pun dia tidak mau mencomot gambar orang lain tanpa memberikan “kredit” bagi pemilik gambar aseli.

Saat saya bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang internet, saya diberitahu oleh bos saya, tentang Creative Commons. Ada karya tertentu yang boleh di-share, ada karya yang sudah di-copyright. Ada orang yang rela karyanya ditiru, ada yang tidak. Karya yang sudah dipaten dengan merek dagang, pasti tidak boleh ditiru.

Saya belajar dari pengalaman betapa susahnya mendapat ide. Saya terbentur writer’s/blogger’s block sangat sering sampai saat itu saya tidak tahu harus menulis apa. Rasanya menyebalkan sekali kalau ada yang menyalin-tempel tulisan saya tanpa memberi kredit pada saya.

Begitulah.

Saya mungkin tidak bisa membasmi pembajakan di dunia ini. Tapi kalau saya bisa, saya akan mulai menghabisi sifat pembajak di diri saya. Si Onyed, adalah panutan saya dalam hal ini. Dia menggunakan software OS dan anti virus asli, bahkan game-game dalam hp-nya pun berbayar. Dia menggunakan barang-barang asli melekat di badannya, dan kalau tak sanggup beli yang branded, maka beli yang murah saja.

Tapi itu kami. Kalau kalian? Terserah saja 😀

Advertisements

6 responses

  1. kunjungan balikkkk..thank u byq buat kunjungannya..eh kalau di ingat2, lama sudah aku gak main kemari 🙂
    salam buat onyed yahh..

    note : setuju…idem..kalau tak sanggup beli yang branded, maka beli yang murah saja.

    Like

    • hai!
      Wah, emang dulu pernah ke sini, Be? Hahaha, maap gwe ga inget 😀

      Nanti tak sampein salamnya yah ke si Onyed, paling jawabannya salam balik :p

      Like