Monthly Archives: March 2011

Hometown Rhapsody

Standard

Beberapa hari yang lalu saya pulang ke Solo untuk acara Cheng Beng. Cheng Beng adalah tradisi ziarah dan membersihkan makam leluhur untuk orang-orang Tionghoa yang dilakukan satu tahun sekali. Sudah lama saya tidak ikut acara Cheng Beng, jadi begitu tahun ini saya ada waktu, saya menyempatkan diri untuk pulang kampung.

Salah satu alasan kenapa setiap kali saya pulang kampung saya tidak pernah posting adalah saya tidak bisa menemukan inspirasi apapun di sana. Bahkan, seandainya saya punya ide pun, saya tidak pernah bisa menulis lebih dari satu paragraf selama saya berada di sana. Saya baru bisa mulai menulis lagi begitu saya sudah kembali lagi ke Jakarta. Hayo kenapa?

I don’t hate being there.

Si Onyed juga senang ada di sana.

Tapi saya stres kalau ada di sana.

Saya terbiasa tinggal jauh dari orang tua. Jujur bagi saya, tinggal jauh dari orang tua itu sangat menyenangkan. Saya tidak tahu dengan orang-orang yang lain yang senang berada dekat-dekat orang tua mereka, tapi tidak dengan saya.

Saya tidak benci dengan orang tua saya, tapi saya benar-benar tidak tahan kalau harus tinggal satu atap dengan mereka. Sebenarnya, saya tidak tahan kalau harus tinggal satu atap dengan siapa pun yang tidak sesuai dengan mau saya. Saya bahkan tidak pernah keluar kamar waktu saya masih tinggal di kos dulu hanya karena saya malas kalau harus berinteraksi dengan orang-orang yang belum tentu akan membuat saya nyaman tinggal di sana.

Tapi, tinggal satu atap dengan orang tua saya sepertinya membuat saya tertekan sepanjang waktu. Bukan hanya dengan harapan-harapan mereka yang sepertinya selalu tidak sesuai dengan keinginan saya, tapi juga dengan apa yang mereka berikan yang membuat saya merasa wajib memenuhi harapan mereka. Saya jadi selalu serba salah dan yang pasti saya tidak pernah merasa bisa menjadi diri saya sendiri selama saya ada di sana. Dan saya rasa itulah sebabnya saya tidak bisa menulis.

Menulis, bagi saya adalah momen di mana saya bisa menjadi diri saya sendiri. Meksipun saya hampir selalu menulis secara anonymous, tapi saat menulis setidaknya saya menjadi orang yang lebih jujur dibanding dengan saya di kehidupan sehari-hari. Saya hanya bisa menulis saat saya sedang menjadi diri saya, merasa nyaman dengan diri saya dan dapat berbuat seperti yang saya inginkan. Dan saya tidak bisa melakukan itu kalau saya berada di Solo.

Saya tahu orang bisa berubah. Saya juga tahu bahwa orang tua saya berusaha untuk tidak lagi menekan saya untuk menjadi apa yang mereka inginkan seperti dulu. Tapi saya sudah terlanjur tahu apa yang mereka inginkan. Saya sudah terlanjur tahu apa yang ada di dalam pikiran mereka dan apa yang mereka katakan dalam hati setiap kali mereka melihat saya. Saya tahu bahwa setiap kali mereka melihat saya, mereka diingatkan kembali bahwa saya tidak mau menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Mengingatkan mereka betapa berbedanya saya dari apa yang mereka berusaha bentuk selama ini.

Saya tetap tidak bisa menjadi seperti yang mereka mau. Tapi saya tidak bisa menjadi diri saya sendiri juga kalau saya berada di sana. Berada di sana, tidak membuat saya senang, juga tidak membuat mereka senang. Itu kenapa saya senang kalau saya jauh dari rumah.

This is how I see it:

Setiap kali saya jauh dari rumah, saya merasa rumah itu jauh lebih dekat di hati saya daripada saat saya berada di dalam rumah itu sendiri. Rumah terasa jauh lebih ideal saat rumah itu hanya berada dalam pikiran saya daripada saat saya tinggali.

Bybyq dan #HIMYM

Standard

Saya mulai sering menonton HIMYM sejak saya pindah ke apartemen sini…

Eh?

Oh iya! Bagi yang belom tahu, HIMYM yang saya omongin ini adalah sebuah serial komedi berjudul How I Met Your Mother. Menceritakan kehidupan antara lima orang sahabat Ted Mosby, Marshall Eriksen, Lily Aldrin, Barney Stinson dan Robin Scherbatzsky, dengan Ted sebagai tokoh sentral sekaligus mata rantai yang menghubungkan kesemua ceritanya. How I Met Your Mother diawali dari bagaimana Ted Mosby di tahun 2030 menceritakan kepada kedua orang anaknya, bagaimana dia bisa bertemu dengan ibu mereka, tapi karena Ted ini sangat hobi bercerita, maka kisahnya melantur kemana-mana bahkan ke tahun jauh sebelum dirinya bertemu dengan sang ibu.

Yang membuat saya senang menonton serial ini, selain tentu saja lucu, adalah bahwa saya tidak perlu lagi menebak-nebak bagaimana nasib para tokohnya seperti kebanyakan serial lain. Di serial ini saya sudah tahu bagaimana endingnya, yaitu Marshall dan Lily menikah sampai tua dan Ted Mosby mengakhiri perjuangannya untuk mencari pasangan hidupnya dengan menikah dengan ibu dari anak-anaknya.

Lihat! Bahkan dengan spoiler ending macam ini saja saya masih ingin terus menonton acara ini karena yang menarik dari serial ini bukan saat menunggu-nunggu akhir seasonnya, tapi bagaimana proses perjalanan mereka sampai ke ending. Persis sebagaimana yang digambarkan oleh judul serial tersebut.

Dari serial ini saya belajar banyak hal. Meskipun kebanyakan dari episodenya menceritakan kehidupan percintaan Ted Mosby, tapi sebenarnya banyak yang bisa digali dari cerita tersebut. Saking banyaknya yang bisa diambil dan menjadi inspirasi saya dalam menulis dan berpikir, saya bahkan memutuskan untuk menggunakan tag #HIMYM untuk tulisan-tulisan saya yang terinspirasi dari acara itu. Dan, ternyata tidak salah bukan? Tulisan pertama saya dengan tag #HIMYM mendapat sambutan luas, bahkan memperoleh award Kolor Hijau dari Inyo, blogger tetangga yang terdampar di sini.

HIMYM membuat saya makin menghargai proses.

Sebuah kejadian akan menjadi biasa-biasa saja kalau kita tidak pernah benar-benar menghargai proses terjadinya. Misalnya hujan, atau pelangi, atau bagaimana nasi itu sampai di piring. HIMYM menjelaskan, kejadian sederhana seperti bagaimana seorang Ted Mosby bertemu dengan wanita yang menjadi ibu dari anak-anaknya ternyata diawali dari sebuah proses yang sangat panjang dan melibatkan banyak kejadian dan juga orang lain dalam kehidupannya. Coba kalau Ted cuma bilang, “I met your mom at the train station, or cafe, or… wait… I actually don’t remember…” tidak akan pernah ada cerita yang bisa kita nikmati, bukan?

 

Busy Month

Standard

Yah…

Setidaknya bulan ini sudah berakhir, jadi saya bisa beristirahat sebentar sebulan mendatang sambil mulai program menurunkan berat badan. Moga-moga bulan depan saya tidak perlu terus-terusan going back and forth ke Solo sehingga blog ini bisa terurus menghadapi ulang tahunnya yang pertama.

Karena bulan Mei nanti, ternyata akan ada banyak rencana, dari rencana perjalanan sampai rencana acara keluarga yang menunggu untuk saatnya terlaksana. Kalau tidak ada halangan, maka bulan april bisa jadi satu-satunya saat saya bisa menghabiskan waktu dengan mesra bersama dengan blog ini.

Saya bingung, kenapa tagihan blog belom masuk ke email yah? Apa jangan-jangan saya dapat gratis satu tahun? Kalo dapat ya nggak papa, tapi kalo ga ada pemberitahuan gini kan saya jadi ketar ketir juga. Gimana kalo saya telat bayar lalu blog ini mengalami penutupan seperti blog gratisan saya yang sebelumnya?

Oh no!!

Btw, kenapa yah kalo saya pulang kampung saya selalu miskin ide? Bete deh…

Relationship Chicken

Standard

“Are you happy, Barney?” – Marshall Erriksen

Kadang-kadang seorang sahabat harus menanyakan itu kepada seseorang yang sedang dalam sebuah hubungan serius. Seperti Marshall yang bertanya kepada Barney, apakah dia bahagia menjalani hubungannya dengan Robin, pertanyaan ini harus diajukan secara empat mata, heart to heart dan tidak ada jalan lain untuk mengubah arah pembicaraan selain terlebih dulu menjawab pertanyaan tersebut. Tentu saja, jawaban tersebut bisa bervariasi, tergantung si penjawab, dan bahkan bisa 180 derajat berbeda dari kenyataannya kalau ternyata kita bersahabat dengan seorang pathological liar.

“They are playing the relationship chicken. They are miserable together but too stubborn to admit it.” – Ted Mosby

Sering kali, ada di satu titik di mana hubungan pacaran tidak lagi membawa kebahagiaan. Bukan lagi masa-masa sulit yang harus dilalui, bukan sekedar masa jenuh yang akan menghilang begitu bulan berganti, tapi benar-benar titik dimana pasangan merasa ini adalah comfort zone, padahal bukan. Mereka tidak lagi bisa bersenang-senang, bahkan mereka bisa menjadi kesal pada saat sedang bersenang-senang, hanya karena masalah kecil yang tidak seberapa. Mereka begitu mudah terpancing ke pertengkaran, bahkan pada stadium lanjut mereka terlalu lelah untuk bertengkar dan akhirnya hanya membiarkannya begitu saja.

Tapi, setidak bahagia apapun itu, mereka tidak mau mengakuinya.

Saya pernah mendengar kalimat: “those who quit first, lose.” Mereka yang terlebih dahulu keluar, dianggap kabur dari masalah, dan dianggap sebagai pecundang. Itulah mengapa banyak orang merasa malu mengakui bahwa sebuah hubungan yang sudah tidak beres, memang sudah saatnya diakhiri. Seolah-olah mengatakan, “I’m done with this, I’m sorry but I can’t continue this relationship,” adalah pertanda bahwa yang mengatakannya adalah quitter, dan loser. Tapi tidak ada yang pernah menyadari bahwa berani memutuskan sebuah hubungan yang retak membutuhkan keberanian.

Oh. Saya tidak omong kosong. Saya pernah berhubungan dengan seorang relationship chicken sebelumnya. Membutuhkan menangis semalam untuk mengumpulkan keberanian saya memutuskannya, dan tersenyum menghadapi orang itu.

Breaking up a rotten relationship bukan seperti memutuskan seseorang begitu saja tanpa perasaan. Bukan seperti membuang baju bekas, atau sepatu yang sol-nya aus, atau menyumbangkan celana yang sudah tidak trend, atau ingin kita singkirkan karena bosan. Memutuskan hubungan bukan seperti membuang sesuatu begitu saja seperti sampah, atau menggunting rambut atau memotong kuku. Breaking up a rotten relationship bukan berarti kita berhenti mencintai orang tersebut, hanya saja hubungannya sudah tidak bisa diteruskan.

Breaking up a rotten relationship itu seperti melakukan amputasi. Kamu membuang sesuatu, dan itu begitu menyakitkannya, hanya untuk menghadapi bahwa suatu hari kamu bangun dengan tidak utuh lagi, namun dengan keadaan yang lebih baik. Breaking up a rotten relationship itu seperti menghancurkan bangunan lapuk yang berbahaya untuk ditinggali, untuk membangun mansion baru diatas reruntuhannya. Bukan hanya untuk mendapatkan sesuatu yang baru yang lebih baik, namun juga menyelamatkan kita dari tertimbun bata bangunan yang sudah tidak layak huni.

“This is so wrong!” – Lily Aldrin

Beberapa orang yang terjebak dalam “relationship chicken” terlalu takut untuk memutuskan sebuah hubungan yang tidak sehat berpikir bahwa lebih mudah mengubah daripada menghilangkannya sama sekali. Misalnya, mengubah status pacaran menjadi bertunangan atau bertunangan menjadi menikah, berharap dengan status baru bisa membuat hubungan mereka menjadi seperti baru. Atau berpikir bahwa hubungan sudah menemui jalan buntu dan sudah saat mereka membuat keputusan untuk settle down dan menjadi lebih serius.

Kesalahan besar.

Dalam film “He’s just not that into you”, orang yang menikah karena, “baiklah tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain menikah” berakhir dengan pernikahan tidak bahagia. Dan apa? Cerai! Buat apa? Kalau kamu mengamputasi kakimu saat masih hanya jempolmu saja yang terinfeksi, kamu masih punya kesempatan memakai sepatu Jimmy Choo di lain waktu, tapi kalau kamu menunggu sampai infeksi memakan seluruh tungkai kakimu, bahkan memakai hot pants pun rasanya sulit

Now…

Are you playing “relationship chicken”?

Menjadi Berbeda Adalah…

Standard

Sebuah kesalahan besar!!

Saya bukan orang yang anti dengan perubahan, atau dengan keunikan manusia, tapi pengalaman atau lebih tepatnya ajaran dan didikan yang saya terima mengajarkan bahwa kita tidak boleh menjadi berbeda. Atau, setidaknya kalaupun kita berbeda dari orang lain, tidak perlu kita tunjukkan di depan umum.

Lepas dari ajakan idealis, “Be Yourself” atau “Proud to be Different”, coba pikir lagi, berapa banyak orang tua yang betul-betul menginginkan anaknya menjadi berbeda? Apabila orang tua begitu bangga anaknya menjadi tidak biasa-biasa saja, mungkin Sekolah Luar Biasa sudah menjadi begitu populernya. Mungkin, kegiatan-kegiatan yang tidak komersil tidak akan dipandang sebelah mata hanya karena tidak terlalu banyak orang menyukainya. Ternyata tidak begitu, bukan?

Sering kali kita mengambil contoh sukses orang-orang yang menjadi berbeda dan berhasil dalam hidupnya. Mereka tentu saja adalah pengecualian. Statistiknya bagaimana?

Tentu saja, sinisme saya tercipta dari apa yang saya alami sendiri. Di keluarga saya, menjadi berbeda adalah momok menakutkan. Satu hal yang selalu saya ingat tentang mengapa kami tidak boleh menjadi berbeda adalah: “malu” dan “nanti jadi pembicaraan orang”.

Coba katakan pada saya, darimana menjadi berbeda itu bisa disebut membanggakan, kalau dalam lingkungan saya menjadi berbeda dikaitkan dengan “malu”. Dan, saya berani mengatakan bahwa orang tua saya adalah golongan statistik. Kebanyakan orang tua akan malu memiliki anak yang tidak biasa. Berdandan tidak biasa, pacaran dengan tidak biasa, memiliki gaya hidup yang tidak biasa, dan hal-hal tidak biasa lainnya.

Kalau toh pada akhirnya hal-hal tidak biasa tersebut berkembang menjadi luar biasa hebat dan mengubah pendapat mereka, itu lain urusan. Tapi sebelumnya, saat menjadi berbeda dan tidak biasa adalah ciri khas mereka, berapa banyak dari orang tua yang berani mengambil resiko dan menunggu hal-hal tidak biasa itu berubah menjadi luar biasa dengan kepercayaan penuh?

Ya.

Saya memang sinis.

Saya belajar dari statistik bahwa banyak dari orang-orang yang punya potensi menjadi luar biasa berhenti menjadi berbeda dan kemudian menjadi biasa saja karena tidak ada support dari orang tua. Misalnya: salah seorang teman saya yang begitu berbakat di bidang musik. Maksud saya berbakat adalah bukan cuma bisa memainkan alat musik. Teman saya ini bisa memainkan hampir segala jenis alat musik, dari gitar, bass, drum, piano, organ, keyboard… Entah sekarang apa lagi yang sudah dia kuasai. Tidak hanya itu, dia juga bisa menciptakan lagu, bahkan memberikan saya beberapa lagu ciptaannya saat ulang tahun saya.

Delapan tahun yang lalu, saat dia lulus SMA, saya mendorongnya untuk memilih musik sebagai jalan hidupnya. Saya ingin dia menjadi berbeda dan mengambil jalan yang tidak sama dengan kami yang memilih jalur teknik atau ekonomi untuk kuliah. Lalu apa? Dia kuliah IT.

What now?

Saya selalu mendengar orang-orang meneriakkan kata-kata penyemangat “Be Yourself”, seolah-olah mereka sudah menjadi diri sendiri. Padahal, yang mereka lakukan hanyalah menjadi sama dengan orang lain, mungkin terjebak dengan arus budaya pop, atau kegiatan-kegiatan populer lainnya, dan berharap ada orang lain yang membuat trend lain yang lebih sesuai dengan jati diri mereka.

Betapa sulitnya menjadi berbeda.

Mungkin memang kita tidak boleh jadi berbeda, karena mungkin menjadi berbeda itu adalah sebuah kesalahan paling besar…

Dicakar Monyet

Standard

Sebenarnya saya ingin memulai entry ini dengan judul “Ditampar Monyed”, tetapi melalui beberapa kelas jurnalistik waktu kuliah kemarin saya tahu betapa efektifnya judul bombastis untuk menarik minat pembaca. Jadi setelah menimbang-nimbang dan memutuskan bahwa “dicakar monyet” lebih mengundang daripada “ditampar monyet”, saya memutuskan untuk menipu pembaca saya dengan judul tersebut. Maaf, hanya teknik marketing.

Sebenarnya tidak ada monyet ataupun primata lain yang bersuara “nguknguk”, berekor maupun tidak berekor dan suka bergelantungan dari pohon ke pohon. Hanya si Onyed yang menampar saya. Bukan betulan menampar juga tentunya, karena kalau dia berani menampar maka saya akan membalasnya puluhan kali lipat bonus tendang, atau melaporkan langsung ke pos siskamling untuk pengaduan KDRT.

Jadi, ada apa sebenarnya?

Baiklah, saya terpaksa bercerita… *dihajar massa*

Ingat entry kemarin saat adik saya sedang gundah gulana karena problematika kehidupan? Ingat saya berjanji kemarin untuk memberitahukan kelanjutan cerita dan bagaimana akhirnya keputusan orang tua saya setelah Mon berusaha melobi mereka di Solo? Nah, jadi keputusan mereka tidak berubah dan tetap melarang (atau kalau mau diperhalus ya, katakan saya “tidak mendukung”) keinginan La.

Mendapat kabar semacam itu, saya pun jadi bingung juga bagaimana cara menyampaikannya ke La. Perasaan saya pun campur aduk, antara ikutan kesal, tidak berdaya, merasa bersalah dan sedikit rasa tanggung jawab untuk membuat La merasa lebih baik juga. Tidak tahu harus bicara ke siapa? Si Onyedlah jadi korban saya mengoceh mengenai hal ini.

Kadang saya merasa saya agak needy ke si Onyed. Kadang saya cuma pengen ngoceh aja, tapi kalo si Onyed ngasih ide sebagai solusi saya ga terlalu mikirin idenya dia. Tapi tadi berbeda, karena si Onyed bukana ngasih ide, tapi ngasih sebuah tamparan maha dahsyat (bayangkan sebuah adegan slapstick ala 90’s di mana dengan sebuah tamparan seseorang bisa terjengkang dan berguling-guling jauh sekali).

Saya selalu menganggap orang tua saya tidak adil karena tidak memberikan kesempatan kepada kami, dan kali ini terutama kepada La. Saya melihat tindakannya itu tidak adil kepada La karena dia tidak memberikan La kesempatan yang layak didapatnya sebagai orang dewasa yang berhak mengambil keputusan sendiri. Saya merasa orang tua saya tidak memperlakukan La seperti apa yang selayaknya dia dapatkan; yaitu sebagai orang dewasa.

Dan saya berusaha membelanya.

Saya berusaha berada di pihaknya dengan sesekali buta dengan hal-hal yang seharusnya saya lihat sebagai orang yang lebih tua darinya. Saya berusaha membuatnya merasa diperlakukan dengan seperti yang dia inginkan. Saya berusaha membuat jalannya menjadi mulus karena saya dulu mengalami jalan yang sulit dan berliku, tapi saya lupa…

Memang seperti itulah seharusnya hidup.

Si Onyed mengingatkan saya, bahwa sebagaimana pun saya ingin agar semua keinginan adik saya bisa dipenuhi, saya tidak bisa dan tidak boleh terus menerus melakukannya. Si Onyed mengingatkan bahwa bukan hanya orang tua saya sajalah yang harus belajar untuk melepaskan anaknya yang menjelang dewasa, tapi ternyata juga saya yang harus siap melihat adik-adik saya tumbuh menjadi individu yang berbeda dari saya. Salah satu cara untuk menyiapkannya tumbuh, bukan hanya dengan membekalinya dengan apa yang dia inginkan, tapi menyiapkannya untuk mendapatkan hal-hal yang ada di luar keinginannya.

Kalau saya tidak bisa melihat itu, kalau saya tidak bisa mengerti iti, kalau saya ikut-ikutan dibutakan dengan obsesi saya mewujudkan semua keinginan adik saya, maka apa bedanya saya dengan orang tua saya? Mungkin saya belum jadi orang tua, dan semua orang mengatakan bahwa kita tidak akan tahu rasanya menjadi orang tua sampai kita sendiri punya anak, tapi saya tahu rasanya menjadi seorang kakak, dan saya senang saya ditampar untuk menyadari apa yang harus dilakukan seorang kakak saat adiknya tumbuh dewasa. Setidaknya, kalau nanti saya punya anak, saya tahu apa yang harus saya lakukan…

Sore hari saat menjemput La yang baru selesai sidang, saya membeberkan kabar buruk itu pada La. Tidak pernah mudah, tapi toh ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan tentang bagaimana saya harus menyampaikannya. Dan, hanya itulah yang akhirnya saya lakukan…

Selanjutnya?

Adik saya pasti bisa mengatasinya sendiri.

Love Or Something Else…

Standard

Saya menghabiskan waktu dua tahun hidup saya mempelajari sesuatu yang tidak saya suka. Kuliah di jurusan yang orang tua saya pikir akan membawa hal-hal baik untuk saya. Kuliah di tempat yang orang tua saya pikir saya akan sukai. Tetapi sebesar keinginan saya membuat mereka senang dengan melakukan hal yang mereka inginkan, sebesar itu pulalah penderitaan saya melakukan hal yang tidak saya inginkan.

Saya dan adik-adik saya adalah jenis orang yang berbeda dengan orang tua kami. Bukan hanya karena generation gap, tapi kami benar-benar menganut paham dan prinsip yang bertolak belakang. Meskipun kami mengerti bahwa segala keputusan yang dibuat oleh orang tua kami adalah berdasarkan keinginan mereka membuat hidup kami menjadi lebih mudah nantinya, tapi kami merasa keputusan itu malah membuat hidup kami terasa lebih sulit dari yang seharusnya.

Misalnya, cara mereka memutuskan apa yang boleh atau tidak boleh kami pilih, bahkan setelah kami dewasa. Apa yang boleh kami pelajari, kampus mana yang boleh kami pilih, kesempatan apa yang boleh kami ambil. Kadang kala, hal-hal yang menarik minat kami, sesuatu yang ingin kami lakukan untuk hidup, hanya dilihat sebagai hobi yang tidak serius, atau kegiatan tidak berguna atau bahkan membahayakan.
Beberapa hari yang lalu adik saya ditawari pekerjaan oleh salah satu organisasi yang bergerak dalam bidang konservasi satwa liar, sebagai asisten peneliti. Bisa dibilang cukup hebat (karena sebagai kakak, kalau saya terlalu banyak memuji adik saya, nanti saya bisa dikira sedang menyombong), karena adik saya bahkan belum lulus kuliah. Pekerjaan ini bersifat kontrak selama enam bulan di Pulau Sumatera, dan mengambil lokasi di sebuah hutan cagar alam. Tentu saja, tidak semua orang mendapatkan kesempatan ini dan adik saya menginginkannya.

Tapi orang tua saya melarangnya.

Beberapa tahun sebelumnya saya dan Mon, adik saya yang satu lagi sudah melepaskan beberapa mimpi kami. Saya, melepaskan keinginan untuk belajar desain, dan adik saya melepaskan keinginan untuk kuliah di jurusan elektro. Beberapa tahun ini saya (entah kalau si Mon) bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan seperti: “bagaimana kalau saya tidak melepaskan keinginan itu? Bagaimana kalau saya tetap mengejar mimpi saya itu? Apa yang akan terjadi pada saya sekarang?”

Saya tidak bisa menolong Mon pada waktu itu karena saya sedang bergelut dengan masalah saya sendiri pada waktu itu. Mon, tidak bisa menolong saya karena dia belum mengerti pada saat itu. Tapi kami sekarang mengerti posisi adik saya yang satu lagi, dan dengan berbagai alasan, kami tidak ingin dia mengalami apa yang kami alami. So, mari berharap besok saya bisa memberikan kabar yang baik…

I know my parents love my sister, but I love her too, maybe in a different way.

HOAX dan Sebagainya

Standard

Saya selalu kesal kalau ada orang yang sok baik mengirimi informasi kepada saya, sebelum dia sendiri mengecek kebenarannya. Dari yang mengirimi artikel tentang cacing dalam sashimi, minuman bersoda yang bisa merusak gigi, sampai yang terakhir hujan zat radioaktif. Semuanya sudah dibantah kebenarannya oleh orang-orang yang ahli dibidangnya, tapi sayangnya orang yang menyebarkan HOAX semacam itu tidak pernah merasa perlu repot-repot untuk mengoreksi informasi palsu yang pernah mereka sebarkan sebelumnya.

Saya sangat senang ketika pemerintah mengatakan bahwa penyebar HOAX mengenai hujan zat radioaktif itu diancam dengan hukuman denda satu miliar karena menyebarkan informasi palsu. Bukan karena isi dari informasi iseng itu, tapi efek dari keisengannya itu membuat kepanikan orang-orang yang tidak mengerti dan tidak tahu ke mana harus mempertanyakan kebenaran berita tersebut. Saya berharap pelakunya dapat segera tertangkap dan membuat orang-orang yang suka membuat berita-berita serupa bisa kapok dan tidak akan melakukan hal yang sama lagi.

Jujur saja, di negara ini, belom banyak orang yang pintar. Kebanyakan orang hanya akan menelan berita itu mentah-mentah, dan mempercayai begitu saja apa yang mereka dengar dari orang yang mereka kenal. Orang-orang ini tidak pernah menonton berita di TV, atau mencari informasi yang akurat di internet, tapi mengandalkan kata-kata orang yang mereka kenal yang mereka pikir lebih tahu tentang dunia luar. Itulah yang menyebabkan HOAX yang dikirim lewat SMS, e-mail, instant messenger, dll lebih mengena efeknya daripada berita di TV.

Bukan cuma sekali ini saja kejadian HOAX yang dikirim lewat ponsel (baik berupa email, messenger maupun SMS) membuat banyak orang menjadi panik. Beberapa tahun yang lalu ada hoax mengenai nomer setan atau red number yang bisa membuat orang yang menerimanya mati atau kena sial. Orang-orang ketakutan setengah mati kalau dapat SMS atau telpon dari nomer dengan angka tersebut. (Si Onyed malah mengejar angka-angka ajaib semacam itu buat dijual lagi sebagai nomer cantik). Saking ketakutannya, beberapa orang beneran jadi gila karena takutnya (eh serius ini kisah nyata). Pada akhirnya terbukti kalau itu hanyalah kerjaan iseng anak-anak yang ga ada kerjaan.

Lalu ada hoax tentang isu bencana alam, entah itu tsunami atau gunung meletus yang melelerkan lahar, atau banjir yang sebenarnya tidak ada; yang membuat banyak orang eksodus mendadak padahal tidak ada apa-apa. Hasilnya, rumah-rumah kosong malah dijarah orang-orang yang mengambil kesempatan dalam huru-hara. Yang seharusnya bisa adem ayem menjalankan kehidupannya malah mati terinjak-injak orang yang kabur entah karena apa.

Beberapa orang mengira mungkin tidak apa-apa menyebarkan berita semacam itu. Kadang-kadang toh pengirimnya juga tidak terlalu percaya, atau terlalu perduli dengan isi berita tersebut. Tapi, orang-orang seperti ini tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi dengan penerimanya. Orang-orang semacam ini tidak peduli apakah penerimanya akan menerima mentah-mentah atau akan mencari informasi yang sebenarnya mengenai berita tersebut.

Saya pernah menegur seseorang karena mengirimkan HOAX “Anak hilang”, “butuh dana operasi kanker” dan “butuh sumbangan darah”. Saya bertanya apakah itu benar, dan apakah orang yang mengirimi saya berita tersebut benar-benar mengenal orang yang katanya “butuh dana”/”kehilangan anak”/”butuh dana untuk operasi kanker” itu. Tentu saja kemudian dia mengatakan bahwa dia tidak kenal, bahkan tidak tahu apakah berita tersebut akurat atau tidak. Saat saya tegur mengenai hal tersebut dia hanya berkelit dan berkata,

“Tapi bagaimana kalau benar?”

Kenapa dia tidak bertanya, “Bagaimana kalau salah?”

Bagaimana kalau dia berita itu salah? Bagaimana kalau ternyata dia menyebarkan kebohongan yang meresahkan publik? Bagaimana kalau ternyata dia menyebarkan nomer telepon penipu yang hanya ingin mengambil keuntungan dari orang-orang yang sebenarnya berniat baik? Bagaimana kalau pemilik nomer telepon yang disebarkan dalam rantai HOAX itu tidak setuju nomernya disalah gunakan seperti itu? Bagaimana kalau ada orang lain yang tertipu dan malah menjadi celaka karenanya?

Please be wise.

jangan forward berita apapun sebelum kamu tahu berita tersebut benar.

Stop Spreading Hoax

The Joke Is No Longer Funny

Standard

Seberapa jauh kamu mengenal seseorang?

Salah satu teori komunikasi bernama Uncertainty Reduction Theory, mengatakan bahwa untuk berinteraksi seseorang akan berusaha menguraing uncertainty mengenai lawan/partner komunikasinya. Akan tetapi, dalam teori tersebut, selalu digunakan kata “mengurangi” bukan “menghilangkan” uncertainty/ketidakpastian, karena pada hakekatnya, bahkan sampai akhir jaman, ketidak pastian itu tidak akan pernah benar-benar bisa dihilangkan. Hanya bisa dikurangi saja, sampai lebih banyak certainty dibandingkan uncertainty-nya.

Kembali lagi ke pertanyaan sebelumnya.

Seberapa jauh kamu mengenal seseorang? Seberapa banyak certainty yang kamu bisa tebak dari seseorang. Seseorang yang kamu kenal lama, belum tentu membuatmu bisa mengurangi uncertainty terhadap orang ini dibandingkan orang yang kamu kenal relatif lebih sebentar.

Seberapa jauh saya mengenal orang-orang di sekitar saya? Seberapa jauh saya mengenal orang-orang yang dekat dengan saya? Apakah saya merasa dekat dengannya karena memang saya sudah mengenalnya? Atau saya hanya merasa saya mengenalnya sehingga saya merasa dekat dengannya? Apakah saya mengerti banyak tentang dia? Atau sebenarnya lebih banyak yang tidak saya mengerti daripada yang saya mengerti tentang orang tersebut?

Tunggu dulu… kenapa Bybyq meributkan hal semacam ini sih? Mau membuat drama baru kah?

Oh tentu tidak.

Beberapa waktu lalu, waktu saya sedang pulang kampung, saya mendapati sebuah buku mengenai filsafat Confucius. Bukan buku yang berat dibaca sebenarnya, karena kata-kata bijak itu dirangkum dalam sebuah buku komik, sehingga saya bisa betah membacanya tanpa merasa bosan. Salah satu kebijaksanaan Confucius mengatakan bahwa, “Jangan menjadi khawatir kalau orang lain tidak mengerti kita, tapi khawatirlah saat kita tidak bisa mengerti orang lain.”

“Do not worry if others do not understand you. Instead worry if you do not understand others.” – Confucius

Tentu saja saya tidak akan tiba-tiba mengingat pepatah itu tanpa alasan.

Si Onyed baru saja menceritakan pada saya bahwa seorang teman merasa tersinggung dengan apa yang saya katakan padanya. Alasannya sebenarnya sederhana, karena dia merasa tidak nyaman dengan kata-kata saya, yang sebenarnya hanya sebuah kalimat canda. Sebenernya saya saat itu sedang menyindir sih, tapi saya memang tidak menyangka kalau dia bakalan tersinggung.

Saya kira saya cukup mengenal orang ini, dan itulah sebabnya saya berani menggunakan kalimat bernada menyindir semacam itu padanya. Saya kira saya cukup mengerti bahwa orang ini tidak akan mengambil hati apa yang saya ucapkan seperti itu. Tapi, ternyata, sejauh apa pun kita mengira kita mengenal seseorang, ada sesuatu yang menjadi kejutan dari sebuah relasi dengan manusia lain. Kita tidak pernah benar-benar bisa menebak reaksi seseorang.

Beberapa orang akan bereaksi begitu dramatis akan hal-hal kecil. Beberapa orang lain hanya akan cuek bebek menghadapi sebuah masalah mahadahsyat. Tapi bahkan orang-orang yang dramatis bisa tidak peduli dan orang-orang cuek bisa ber-drama sesekali, dan kita tidak pernah tahu kapan ‘sesekali’ itu akan datang. Seriously, bagi saya, ini mungkin sebuah pertanda bahwa saya tidak perlu terlalu banyak bercanda dengan manusia lain.

Misalnya begini…

Kalau saya melontarkan candaan satir yang menyebalkan di blog, hanya yang berasa yang bisa marah. Dan mereka tidak bisa marah juga karena saya tidak menujukan ke orang tertentu. Saya tidak bisa dituntut mencemarkan nama baik siapa pun karena saya tidak sedang menunjuk ke individu tertentu. Apalagi, kalau sedang menulis di blog saya biasanya bercanda dengan diri sendiri seperti orang gila. Jadi, saya yakin saya cukup mengenal diri saya sendiri sehingga saya tidak akan marah dan tersinggung dengan apa yang saya katakan di blog saya tentang diri saya sendiri, kan?

Tentu saja saya tidak serius dengan apa yang saya katakan barusan.

Mungkin saya harus mengurangi menggunakan cara bercanda pedih menyayat yang biasa saya gunakan dengan saudara-saudara saya kepada orang lain di luar lingkungan keluarga. Mungkin cara bercanda mereka berbeda dengan saya, dan saya mungkin tidak selalu bisa menggunakan cara bercanda yang sama pada setiap orang.

*sigh*

Rupanya benar…

Bybyq ini tidak lucu…

Japan Will Be Alright

Standard

Beberapa waktu yang lalu, saya mendengar berita bahwa Jepang dilanda tsunami seperti yang pernah menimpa Indonesia. Bencana tersebut menyebabkan kerugian besar untuk negara tersebut, tidak hanya korban material, namun juga korban jiwa yang berjatuhan. Tetapi, meskipun tsunami dan gempa itu melanda seluruh negeri jumlah korban mencapai 10.000 jauh lebih sedikit dibanding korban tsunami aceh yang mencapai lebih dari 126.000 jiwa.

Melihat itu, saya merasa, Jepang akan baik-baik saja. Dalam waktu yang relatif singkat, dia akan segera segera kembali membaik.

Bukannya bermaksud mengecilkan bencana alam yang terjadi di negeri sakura itu, tapi saya melihat betapa hebatnya orang-orang Jepang menindaklanjuti bencana itulah yang membuat saya merasa yakin bahwa mereka akan baik-baik saja. Betapa orang-orang Jepang ini tertolong dengan gaya hidup mereka yang disiplin dan mengikuti aturan yang berlaku. Mereka tidak dengan gegabah melakukan sesuatu yang menyebabkan bertambahnya korban yang tidak perlu.

Beberapa hari setelah mereka terkena bencana, dikirimkanlah bantuan ke pusat-pusat penampungan di mana mereka berlindung dengan sedikit makanan. Begitu bantuan datang, alih-alih seperti yang kita lihat di negara kita setiap kali lagi ada bagi-bagi sembako; orang-orang bergerombol berebut saling dorong tumpang tindih ingin mendapatkan bagian – berakhir dengan orang-orang mati tergencet atau berakhir dengan bantuan berceceran dan rusak karena tumpah karena terdorong pengantri, orang-orang Jepang ini langsung dengan kesadaran, tanpa disuruh membuat antrian tertib. Percaya bahwa dengant tertib, segala sesuatu akan berjalan baik-baik saja, dan mereka benar.

Mereka sudah terlatih untuk menjadi disiplin, menjalankan sesuatu sesuai protokol. Misalnya: protokol bahwa saat menghadapi gempa tidak boleh panik. Segera mencari perlidungan untuk menghindari tertimbun atap dengan misalnya merunduk dibawah meja. Buktinya dengan menjalankan protokol sesederhana itu beberapa orang dapat selamat dari timbunan gedung selama beberapa hari. Itu gunanya protokol keselamatan, dan ternyata melakukannya dengan disiplin membawa keuntungan untuk diri sendiri, kan? Daripada berlari-lari panik dan terjatuh, tertimpa dan terinjak-injak… dan mati?

Meledaknya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Fukushima adalah salah satu kerugian terbesar. Bukan hanya menyebabkan turunnya pasokan listrik dan biaya maintenance yang besar, namun juga kebocoran bahan-bahan radioaktif yang mengancam keselamatan warga. Tapi, dengan disiplin, bukannya kabur berlarian tanpa arahan, mereka menunggu instruksi, dan berdiam di dalam rumah, menunggu penyelamatan dari tim evakuasi. Hasilnya dengan kebocoran bahan radioaktif sebesar itu, korban yang positif terkena radioaktif hanya 19 orang relatif kecil mengingat 100.000 orang berada di wilayah tersebut (dimana 2000 orang sudah diungsikan sebelumnya).

Saya turut berduka untuk Jepang yang sedang mengalami musibah, dan juga kepada para pembaca blog ini yang mempunyai sanak saudara di Jepang. Badai pasti berlalu, gempa pasti berhenti… Gelombang Tsunami pasti akan surut. Dan, Jepang pasti akan baik-baik saja.