Bybyq, Si Orang Biasa

Standard

Sejak beberapa tahun lalu mengenal tipe-tipe karakteristik manusia, dan berusaha mengenali karakter saya sendiri, saya mencoba menganalisa, menggunakan salah satu buku “personality test” yang bisa dibeli di toko buku terdekat. Dari hasil tes tersebut, saya di berkahi (atau dikutuk; meskipun saya lebih memilih untuk menjadi positif dan menganggap itu sebagai berkah) dengan personality: Phlegmatis-Sanguinis, dengan perbandingan 70:30.

Saya sudah tidak ingat lagi apa maksudnya itu, tapi pada waktu itu tes kepribadian semacam itu cukup menjelaskan karakteristik saya pada saat itu juga. Bagaimana dengan sekarang?

Hm…

Sulit untuk menjawab itu terutama kalau saya tidak menjalani tes yang sebenarnya. Tapi setidaknya saya dapat menjelaskan apa yang saya mau untuk diri saya sendiri. Misalnya: saya mau jadi orang yang biasa-biasa saja. Dibalik kenarsisan dan kepopuleran saya, saya senang menjadi orang biasa. Saya ingin orang-orang di sekitar saya juga jadi orang biasa, karena saya tidak suka berada di situasi yang berlebihan.

Saya selalu menerapkan pada diri saya untuk tidak hidup lebay. Selalu berada di garis average, berjalan di sekitar garis aman, sepertinya adalah jalan yang paling saya sukai. Saya tidak suke bereaksi berlebihan terhadap banyak hal di sekitar saya. Misalnya: terlalu excited terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi, atau terlalu gembira, terlalu sedih, terlalu khawatir akan hal-hal yang terjadi hari ini. Well, menurut saya, tidak peduli apapun yang terjadi hari ini, besok semua hanyalah sejarah, jadi ga usah lebay menghadapinya.

Orang-orang di sekitar saya, mungkin tidak berpikir seperti itu. Saya, jujur saja dikelilingi orang-orang yang lebay. Entah mereka aslinya memang selalu bersikap berlebihan akan segala sesuatu, atau mereka hanya melakukan itu di depan saya? Atau hanya saya yang bisa melihat tindakan berlebih-lebihan itu?

Misalnya: reaksi seseorang saat menghadapi perpisahan. Come on! Bukannya kita ga akan ketemu lagi, kan? Let’s just leave the best impression, supaya perpisahan ini menjadi “perjanjian” kita bisa bertemu lagi di lain waktu. Kalo ga ketemu lagi? Well, it’s a sign we will meet someone better in the future.

I love Gus Dur.

Beliau dengan slogan favoritnya: “gitu aja kok repot”, adalah pahlawan saya. Dengan slogan tersebut, menurut saya Gus Dur ingin mengatakan bahwa kita ga usah over-reacted terhadap segala sesuatu. Tidak perlu merasa repot akan hal-hal kecil, atau kalau judul buku self-help luar: “don’t sweat small stuff”.

Biasa aja.

Hal baik terjadi pada hidup kita itu biasa. So when bad things happened, ga usah lebay dengan air mata berlinang curhat ke teman-teman, biasa aja sedihnya karena hal-hal baik yang biasa akan kembali. See? Betapa menyenangkannya menjadi orang biasa. Saya tidak mengerti kenapa orang-orang tidak senang menikmati kehidupan “biasa”.

Saya ingat seseorang yang selalu berusaha untuk menjadi extraordinary. Bah! Apa enaknya menjadi extraordinary, kalau kita bisa menjadi ordinary dan blend-in di kehidupan nyata?

Orang-orang lebay membebani hidup saya dengan drama. Kalau saya mau drama, saya hanya perlu nonton di tipi tanpa harus menjalaninya sendiri. Bukankah hidup sudah cukup drama tanpa harus didramatisasi?

Oh how I miss my ordinary life.

Advertisements

Comments are closed.