KELEDAI!!

Standard

Hari ini, karena saking marahnya saya sama si Onyed, saya memutuskan untuk mengubah panggilannya dari si Onyed menjadi si Keledai. Bahkan saya sudah mengatakan padanya bahwa saya akan post di blog tentang ini, dan saya menepati janji saya dengan membuat satu entry ini. Saya sudah mengubah panggilan pacar saya dari si Onyed menjadi si Keledai. Harap para fans dari manusia yang satu ini mulai menyesuaikan diri.

Lagipula, saya rasa sebutan Keledai lebih tepat untuknya…

Dulu, saya menyebutnya Monyed karena dia hiperaktif seperti monyet. Tidak bisa diam, selalu ingin ada kerjaan, tidak bisa konsentrasi dan fokus terhadap satu hal saja, dan yang pasti selalu berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Katanya, monyet itu tidak akan melepaskan pegangannya dari satu pohon sebelum tangan satunya memegang erat dahan pohon yang lain. Intinya si Onyed itu benar-benar selalu kecentilan. Tapi sekarang setelah dia tidak lagi seperti itu (atau setidaknya sudah tidak sepenuhnya seperti itu), saya mulai melihatnya dengan cara yang lain (yaitu dengan cara marah-marah).

Sekarang, saya menyebutnya keledai karena dia bebal. Dia bebal bukan main dan saya selalu kesal dengan kebebalannya yang selalu lagi-lagi mengulang kesalahan yang sama. Meksipun katanya keledai tidak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali, tapi dia selalu jatuh ke lubang lain yang mirip-mirip, intinya dia sering melakukan kesalahan dan terperosok di banyak lubang. Sering saya merasa dia sengaja nyemplung ke dalam lubang hanya untuk membuktikan bahwa lubang itu dalam dan dia akan jatuh kalau melangkah ke arah itu. Dan yeah, keledai lah dia.

Saya juga menyebutnya keledai karena dia sulit untuk mengerti apa yang saya katakan, saya inginkan, dan saya maksudkan. Saya memang bukan orang yang paling mudah ditebak maunya, tapi saya rasa dibandingkan beberapa teman saya yang aneh-aneh kelakuannya, saya bukanlah orang yang terlalu sulit untuk dimengerti juga. Seandainya, seekor keledai mau menggunakan kupingnya yang besar untuk mendengarkan dengan lebih jelas tentang apa yang dikatakan padanya, mungkin berbicara dengan keledai tidak akan sesulit itu.

Tapi saya juga tahu keledai sebenarnya tidak seburuk itu. Meskipun lamban, tapi keledai punya kemampuan untuk belajar. Bahkan mungkin keledai adalah hewan dengan kemauan paling keras, seperti dia yang keras kepala; sekali dia memutuskan untuk melakukan sesuatu, maka tidak ada yang bisa menghalanginya untuk melakukan hal itu. Hanya saja, saya berharap kekeraskepalaannya itu ditujukan untuk perbuatan-perbuatan yang baik. Untuk belajar lebih mengerti saya, misalnya?

Okay. Okay.

Mungkin saya adalah pacar yang jahat dengan mengatai dia dengan sebutan keledai. Apa boleh buat. Maap yah, but deal with it 😀

Advertisements

Comments are closed.