Pemakan Kertas

Standard

Printer saya bisa makan kertas. Atau setidaknya saya berharap begitu, supaya saya bisa membuat cerita yang seru mengenai itu. Misalnya, sebuah printer ajaib yang meminta asupan kertas setiap hari supaya bisa mengabulkan permintaan. Tapi tidak. Itu hanya kebodohan yang saya dan adik saya, La, lakukan.

Tinggal hanya berdua di Jakarta, saya dan La memang lebih sering melakukan hal-hal bodoh dibandingkan saat ada Mon di sini, karena Mon biasanya memfilter sedikit kebodohan kami. Tapi mengakselerasi kebodohan itu beberapa kali lipat kalau dia sendiri sedang bodoh. Tapi hari ini, kami merasa agak sedikit keterlaluan, berhubungan dengan printer sialan itu.

Dimulai dari La yang tiba-tiba kepingin banget mulai mengerjakan pergamano-nya. Meskipun peralatan pergamano yang dipesannya melalui internet belum sampai ke rumah, tapi dia mau memulai dengan menjiplak beberapa pola pergamanonya. Untuk mendapatkan pola tersebut, mula-mula dia harus mulai browsing di internet untuk mendapatkan beberapa gambar pola. Setelah mendapatkan gambarnya, save di komputer, dan print.

Perkara print tidak semudah dulu waktu kami masih tinggal di kos. Begini ceritanya. Masing-masing dari kami adalah mahasiswa pada waktu itu, dengan kebutuhan untuk mencetak gambar dan tulisan yang cukup tinggi. Biasanya untuk tugas, dan untuk adik saya yang satu itu, untuk kebutuhan hobinya. Mencetak gambar pola untuk dibuat hasil karya yang baru. Hore banget kan?

Nah, setelah sekarang kami tinggal bersama, agak sulit menggunakan seluruh printer itu secara bersamaan. Kami tidak memerlukannya, jadi beberapa printer disimpan, dan tidak dipakai. La, di lain pihak, sebagai satu-satunya dari kami yang masih bergelar mahasiswa, dan mempunyai hobi antik menggunakan printer untuk mencetak banyak hal (salah satunya mencetak novel berbahasa jerman yang sama sekali tidak bisa dia mengerti artinya), memanfaatkan printernya sebaik-baiknya, sedangkan printer saya disimpan dengan baik di gudang.

Sampai hari ini.

Catridge La rusak dan printernya tidak bisa dipakai lagi, printer saya pun dikeluarkan untuk saatnya beraksi. Tapi karena sempitnya gudang, gerakan kami pun menjadi terbatas, sehingga tanpa sengaja menjatuhkan printer tersebut. Karena jatuhnya tidak terlalu parah, kami berpikir bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi. Yah, memang sebenarnya tidak ada apa pun sampai saat saya sedang sibuk dengan komputer saya, dan La mengeluh bahwa dia tidak bisa mencetak dengan benar.

Semua kertas yang dimasukkan ke dalam printer itu, keluar dalam bentuk teracak-acak dan berkerut-kerut seperti ada tangan yang meremas-remas kertas tersebut. Apakah printer tersebut marah karena kami menjatuhkannya dan tidak minta maaf setelahnya? Siapa tahu? Kemudian saya pun  bergerak menolongnya..

Saya masukkan beberapa lembar kertas ke dalam tray dan menyuruh adik saya itu mulai mencetak. Kertas ditarik dengan sempurna. Dan…

… di komputer tertulis “out of paper”

Kok bisa?

Kertas tadi ke mana?

Kami coba sekali lagi.

Lagi-lagi kertas menghilang begitu saja, dan di komputer ada tulisan “out of paper”. Astaga, printer kami benar-benar sedang ngambek rupanya. Tapi, ada sesuatu yang ga beres. Kalau kertas-kertas itu terambil dari tray, tapi tidak tercetak, ke mana kertas itu menghilang? Beberapa lembar kertas yang saya siapkan hanya tinggal dua, ke mana sisanya? Sebodoh-bodohnya saya dan adik saya, kami tahu, printer tidak bisa menelan kertas seperti saya menelan obat batuk.

Printerpun diteliti, seperti Sherlock Holmes saya beraksi.

AHA!

Ternyata kertas-kertas tersebut dibuang di belakang printer. Rupanya gara-gara jatuh tadi, ada satu bagian di belakang printer tersebut menjadi kendor dan lepas. Mungkin awalnya posisinya hanya miring karena jatuh; menyebabkan semua kertas yang dimasukkan oleh adik saya jadi rusak, dan setelah saya datangi, bagian yang kendor itu betul-betul lepas. Sehingga semua kertas yang kami masukkan malah los begitu saja.

Hahaha…

Udah sih, gitu aja ceritanya… ga ada misterius-misteriusnya.

Advertisements

2 responses