Rush

Standard

I hate being in a rush.

Mungkin bagi beberapa orang, saya adalah orang yang terlalu lambat mengambil keputusan. Mungkin bagi kebanyakan orang saya suka membuang-buang waktu untuk memikirkan sesuatu sebelum mengambil keputusan. Malah, mungkin bagi beberapa orang, saya ini adalah tipe orang peragu atau plin-plan karena sulit bagi saya mengambil keputusan akhir sebelum saya benar-benar yakin akan sesuatu.

Saya pernah melakukan kesalahan. Sering. Kebanyakan adalah karena saya terlalu terburu-buru mengambil keputusan meskipun saya tidak yakin. Sering saya merasa takut kehilangan kesempatan karena membiarkan kesempatan itu menunggu terlalu lama, tapi akhirnya itu hanya membuat saya melakukan keputusan-keputusan bodoh dalam hidup saya. Itulah sebabnya saya belajar untuk tidak terburu-buru melakukan sesuatu.

Itu pula yang membuat saya merasa benci kalau ada orang berusaha membuat saya terburu-buru mengambil keputusan. Saya benci kalau ada orang yang berusaha menekan saya mengambil keputusan padahal saya belum siap melakukannya. Biasanya saya akan kabur begitu saya meninggalkan orang-orang menyebalkan semacam ini. Saya tidak mau melakukan kesalahan atau hal-hal bodoh yang merugikan saya, hanya karena orang-orang menekan saya mengambil keputusan.

Misalnya saat saya memutuskan untuk kuliah. Saya benci orang-orang yang memburu-buru saya menentukan apa yang ingin saya ambil. Saya juga benci kelakukan orang-orang yang memburu-buru saya menentukan apa yang ingin saya lakukan dalam hidup, misalnya bekerja atau buka usaha. Saya tidak suka ditempatkan di situasi di mana saya tidak bisa santai dan memikirkan berulang-ulang apa resiko dari hal-hal yang akan saya jalani. Mereka tidak menjalani ini, mereka tidak perlu menanggung resiko kalau saya melakukan kesalahan, tapi saya akan menyesalinya seumur hidup kan?

Kalau diajak pergi jalan-jalan, saya cenderung tidak akan langsung mengiyakan kecuali saya yakin banget saya tidak ada kerjaan sama sekali hari itu, atau tidak ada rencana lain. Saya lebih suka berlama-lama merencanakan, dengan kemungkinan sukses 90 persen daripada membuat acara dadakan dengan kemungkinan 80 persen gagal. Saya paling malas kalau ada orang-orang yang mengajak saya pergi, tapi mereka sendiri tidak yakin dengan rencana mereka karena mereka tidak mempersiapkan apa pun sebelumnya. Saya paling malas diajak jalan sama orang yang suka batal di menit-menit terakhir.

They are really disappointing.

I know some people like that.

Saya pikir, tidak ada gunanya buru-buru melakukan sesuatu yang kemudian akan disesali, atau kemudian akan membuat orang lain kesal karena keputusan yang dibuat dengan terburu-buru akan menyeret-nyeret orang lain di sekitar kita ikutan susah. Saya pikir tidak ada salahnya mengambil waktu lebih banyak untuk berpikir dan berhati-hati, daripada menjadi risk taker yang ceroboh.

I hate being in a rush.

Saya tahu waktu berjalan terus dan kadang-kadang sangat cepat berlalu. Beberapa orang menganggap saya menyia-nyiakan waktu saya, tapi satu yang saya pelajari setelah kuliah di dua tempat yang berbeda. Jauh lebih cepat kalau saya menjalani sesuatu dengan perlahan tapi pasti, daripada terburu-buru dan harus mengulang kembali dari awal setelah melakukan sebuah kesalahan fatal. Mungkin cara pandang saya terhadap waktu tidak sama, but it works for me.

I hope it works for you too

Advertisements

Comments are closed.