Drama

Standard

Saya suka drama.

Selama saya tidak terlibat di dalamnya, drama itu menyenangkan untuk dilihat. Drama juga asik buat diomongin, dan kalau terlalu menye-menye; dicela.

Buat saya, akhir-akhir ini kehidupan saya terlalu banyak dramanya. Yah, saya tahu sih itu resiko dari beberapa keputusan yang pernah saya ambil dulu. Tapi intinya, saya sedang eneg dengan drama yang terjadi di sekitar saya.

Someone dear, asked me. Apa sih yang saya maksud dengan drama? Tentu saja semua orang punya definisi drama sendiri-sendiri. Mungkin kalau tetangga blog saya, Val, mendefinisikan drama dengan kejadian-kejadian antara dia dengan pasangannya yang membuatnya melalui hubungan putus sambung itu. Untuk beberapa teman yang lain, drama bisa saja memiliki definisi yang lain lagi.

Untuk saya?

Drama itu tidak harus menye-menye mendayu-dayu seperti di film-film roman kacangan atau berhubungan dengan hal yang sedih-sedih. Buat saya, drama lebih sederhana lagi. Misalnya seperti masalah yang tidak perlu ada, dan muncul karena diada-adakan. Atau masalah yang harusnya udah selesai, tapi harus dipanjang-panjangkan. Bayangkan saja sinetron kejar tayang yang berlarut-larut sampai season 12. Menggelikan.

Beberapa waktu lalu saya sempat bilang saya paling benci dengan orang yang lebay. Kenapa? Orang yang lebay suka menyeret-nyeret orang lain ke drama mereka. Sulit rasanya terus bersama dengan orang yang tidak bisa tidak, harus hidup dengan drama di sekitar mereka. Berulang-ulang mereka akan menciptakan masalah, yang seolah-olah perlu diselesaikan dengan tindakan heroik yang dibesar-besarkan.

Drama queen.

Sayangnya, kebanyakan mereka yang ber-drama-drama adalah perempuan. Sial untuk saya.

Dalam serial TV “Scrubs”, di episode “My Drama Queen”, atau dalam serial “Cougar Town”, episode “Letting You Go”, akan kelihatan betapa memuakkannya drama queen, dan bagimana merepotkannya hidup dalam drama. Lihat saja JD harus membuat drama ga jelas agar Danni yang drama queen bisa suka dengannya. Atau Smith, demi Laurie harus membuat ddirinya kena tonjok. That’s nonsense. People can live without drama.

Peaceful life.

Exactly the life that I want.

Tell me, how can I get rid of this drama without ever making bigger drama?

Advertisements

6 responses

  1. Okay, i will not tell you how you can get rid of this drama without ever making bigger drama, but i want to just ask something; aku sering banget baca kata “Lebay” pada blog, itu artinya apa ya? bahasa inggris kah? atau kata baru bahasa kita? Aku ndak bisa nangkap samasekali maksudnya. Soalnya dulu waktu masih di Indo kata itu belum ada.

    Like

    • Sebenarnya itu istilah yang tidak resmi sih, Djo. Ga ada kata yang terlalu tepat untuk menggambarkan kata “lebay” ini, tapi mungkin lebay itu bisa diartikan: mendramatisir suatu keadaan, atau bertindak secara berlebihan begitulah. Hehehe… emangnya udah berapa lama sih di Jerman sampe ga pernah denger kata lebay 😀

      Like

      • Ooo… Gitu to, tak kira lebay itu mendayu-dayu, aleman, cengeng, dll pokoknya yang sedih gitu.
        Aku sejak 2005 di Jerman. Waktu itu belum ada kata ini kan?

        Like

      • Hahaha.. kalo itu aku punya istilah yang lebih tepat: “menye-menye”

        Hm… belom deh kayanya. Lebay muncul setelah 2008 kalo ga salah.

        Like

      • Lha terus kalau ‘alay’ artinya apa Byq, ni baru baca dimanaaaa… gitu. Btw siapa sih yg bikin kata2 lucu gitu? bencong ya?
        Kalau ‘jablai’ aku tau artinya; jarang dibelai, eahaha…

        Like

      • Alay mah beda lagi dong, Djo. Alay tuh singkatan dr “anak layangan”. Buat merujuk sesuatu yg sifatnya “norak” gt deh menurutku

        Like