Drama Junkie (2)

Standard

Karena kepanjangan, maka entry kali ini saya bagi dua. Setelah membaca ulang cerita di atas, seya memutuskan untuk segera memberitahukan para pembaca blog saya, bahwa saya bukannya pengen menggurui, dan memberi tahu bahwa saya tahu rahasia untuk hidup tanpa stres. Tapi saya ingin menggunakan itu sebagai perbandingan dari apa yang terjadi di sekitar saya, terutama apa yang terjadi hari ini.

Beberapa waktu yang lalu, belum lama kejadiannya seseorang yang saya kenal mengalami kejadian yang hampir sama. Dia terjebak macet dan moodnya menjadi buruk karena kena macet. Karena moodnya memburuk, maka dia tidak mengijinkan seorang pengendara motor yang mungkin sedang terburu-buru untuk melintas dan melewati kemacetan itu. Akhirnya mobil menyenggol motor sedikit dan pengendara motor jadi marah-marah.

Setelah pengendara motor menjadi marah-marah, orang yang saya kenal itu makin tersulut emosinya dan mengejar pengendara motor itu dan dengan sengaja menyenggolkan mobilnya sampai pengendara motor itu berhenti di tengah jalan yang macet dan turun dari motornya. Pengendara motor itu mendatangi mobil yang berisi orang yang saya kenal itu dan pacarnya dan mulai menggebrak kap mobil itu. Dengan emosi orang yang saya kenal itu berteriak dan mengajak pengendara motor itu untuk menyelesaikan masalah ke kantor polisi.

Pengendara motor, mungkin merasa tidak perlu memperpanjang masalah, melenggang begitu saja. Tapi si pengendara mobil itu, selain membuat pacarnya jantungan dan ketakutan, membahayakan nyawa semua orang di mobil itu, akhirnya menghabiskan sisa perjalanan yang cuma 5 menit dengan berantem dengan pacarnya, juga dengan mood yang jelek, belum lagi kalo mobilnya penyok karena digebrak sama pengendara motor tersebut. Hal yang menurut saya nggak worth it untuk mengakhiri hari yang sebenarnya menyenangkan dialaminya sepanjang hari. What a lousy way to end a good day.

Orang-orang seperti ini yang saya katakan sebagai drama junkie.

Meskipun saya tahu bahwa mereka tidak mau mengakui bahwa dirinya drama junkie, tapi bagi saya apa yang mereka lakukan ini benar-benar menunjukkan gejala-gejala ketagihan dengan drama. Betapa mudahnya mereka, dengan reaksi spontan membuat masalah yang seharusnya tidak ada menjadi sesuatu yang besar dan mudah terblow-up. Misalnya dengan hal-hal yang tidak jelas seperti saling menyalip di jalan atau semacamnya.

Kadang-kadang saya juga suka melebih-lebihkan masalah. Saya suka mengomel terlalu banyak. Cek saja twitter saya kalau tidak percaya, atau mungkin beberapa entry di blog ini bisa menjelaskan betapa emosionalnya saya terhadap suatu masalah. Tapi setidaknya, saya berusaha supaya saya tidak melakukan sesuatu yang membuat drama itu keluar, dan lebih dari sekedar tulisan dan celoteh.

Memang saya menceritakan drama. Saya membuat blog dramatis (kadang-kadang), dan twitter penuh keluh kesah dan drama. Tapi saya tidak ingin hidup dalam drama. Saya tidak ingin sedikit-sedikit harus kepentok sama masalah yang ga penting. Masalah tidak usah dicari, karena dia akan datang dengan sendirinya. Waktu saya saja tidak cukup untuk mempersiapkan masalah yang akan datang di kemudian hari, kenapa saya harus menambahnya dengan hal-hal yang ga penting.

Buat apa saya mencari musuh kalau saya bisa mendapatkan teman, misalnya. Atau buat apa saya mencari penyakit kalau saya bisa sehat-sehat saja sepanjang tahun? Atau buat apa saya mencelakai diri saya, meskipun saya punya asuransi jiwa, kalau saya bisa melewati hari-hari saya dengan selamat dan baik-baik saja? Saya tidak butuh mendramatasisasi hidup saya karena bagi saya hidup saya sudah cukup meriah tanpa harus dihiasi drama.

Come on.

Now

Tell me something about a bad day, Drama Junkie!

Advertisements

Comments are closed.