The Joke Is No Longer Funny

Standard

Seberapa jauh kamu mengenal seseorang?

Salah satu teori komunikasi bernama Uncertainty Reduction Theory, mengatakan bahwa untuk berinteraksi seseorang akan berusaha menguraing uncertainty mengenai lawan/partner komunikasinya. Akan tetapi, dalam teori tersebut, selalu digunakan kata “mengurangi” bukan “menghilangkan” uncertainty/ketidakpastian, karena pada hakekatnya, bahkan sampai akhir jaman, ketidak pastian itu tidak akan pernah benar-benar bisa dihilangkan. Hanya bisa dikurangi saja, sampai lebih banyak certainty dibandingkan uncertainty-nya.

Kembali lagi ke pertanyaan sebelumnya.

Seberapa jauh kamu mengenal seseorang? Seberapa banyak certainty yang kamu bisa tebak dari seseorang. Seseorang yang kamu kenal lama, belum tentu membuatmu bisa mengurangi uncertainty terhadap orang ini dibandingkan orang yang kamu kenal relatif lebih sebentar.

Seberapa jauh saya mengenal orang-orang di sekitar saya? Seberapa jauh saya mengenal orang-orang yang dekat dengan saya? Apakah saya merasa dekat dengannya karena memang saya sudah mengenalnya? Atau saya hanya merasa saya mengenalnya sehingga saya merasa dekat dengannya? Apakah saya mengerti banyak tentang dia? Atau sebenarnya lebih banyak yang tidak saya mengerti daripada yang saya mengerti tentang orang tersebut?

Tunggu dulu… kenapa Bybyq meributkan hal semacam ini sih? Mau membuat drama baru kah?

Oh tentu tidak.

Beberapa waktu lalu, waktu saya sedang pulang kampung, saya mendapati sebuah buku mengenai filsafat Confucius. Bukan buku yang berat dibaca sebenarnya, karena kata-kata bijak itu dirangkum dalam sebuah buku komik, sehingga saya bisa betah membacanya tanpa merasa bosan. Salah satu kebijaksanaan Confucius mengatakan bahwa, “Jangan menjadi khawatir kalau orang lain tidak mengerti kita, tapi khawatirlah saat kita tidak bisa mengerti orang lain.”

“Do not worry if others do not understand you. Instead worry if you do not understand others.” – Confucius

Tentu saja saya tidak akan tiba-tiba mengingat pepatah itu tanpa alasan.

Si Onyed baru saja menceritakan pada saya bahwa seorang teman merasa tersinggung dengan apa yang saya katakan padanya. Alasannya sebenarnya sederhana, karena dia merasa tidak nyaman dengan kata-kata saya, yang sebenarnya hanya sebuah kalimat canda. Sebenernya saya saat itu sedang menyindir sih, tapi saya memang tidak menyangka kalau dia bakalan tersinggung.

Saya kira saya cukup mengenal orang ini, dan itulah sebabnya saya berani menggunakan kalimat bernada menyindir semacam itu padanya. Saya kira saya cukup mengerti bahwa orang ini tidak akan mengambil hati apa yang saya ucapkan seperti itu. Tapi, ternyata, sejauh apa pun kita mengira kita mengenal seseorang, ada sesuatu yang menjadi kejutan dari sebuah relasi dengan manusia lain. Kita tidak pernah benar-benar bisa menebak reaksi seseorang.

Beberapa orang akan bereaksi begitu dramatis akan hal-hal kecil. Beberapa orang lain hanya akan cuek bebek menghadapi sebuah masalah mahadahsyat. Tapi bahkan orang-orang yang dramatis bisa tidak peduli dan orang-orang cuek bisa ber-drama sesekali, dan kita tidak pernah tahu kapan ‘sesekali’ itu akan datang. Seriously, bagi saya, ini mungkin sebuah pertanda bahwa saya tidak perlu terlalu banyak bercanda dengan manusia lain.

Misalnya begini…

Kalau saya melontarkan candaan satir yang menyebalkan di blog, hanya yang berasa yang bisa marah. Dan mereka tidak bisa marah juga karena saya tidak menujukan ke orang tertentu. Saya tidak bisa dituntut mencemarkan nama baik siapa pun karena saya tidak sedang menunjuk ke individu tertentu. Apalagi, kalau sedang menulis di blog saya biasanya bercanda dengan diri sendiri seperti orang gila. Jadi, saya yakin saya cukup mengenal diri saya sendiri sehingga saya tidak akan marah dan tersinggung dengan apa yang saya katakan di blog saya tentang diri saya sendiri, kan?

Tentu saja saya tidak serius dengan apa yang saya katakan barusan.

Mungkin saya harus mengurangi menggunakan cara bercanda pedih menyayat yang biasa saya gunakan dengan saudara-saudara saya kepada orang lain di luar lingkungan keluarga. Mungkin cara bercanda mereka berbeda dengan saya, dan saya mungkin tidak selalu bisa menggunakan cara bercanda yang sama pada setiap orang.

*sigh*

Rupanya benar…

Bybyq ini tidak lucu…

Advertisements

2 responses