HOAX dan Sebagainya

Standard

Saya selalu kesal kalau ada orang yang sok baik mengirimi informasi kepada saya, sebelum dia sendiri mengecek kebenarannya. Dari yang mengirimi artikel tentang cacing dalam sashimi, minuman bersoda yang bisa merusak gigi, sampai yang terakhir hujan zat radioaktif. Semuanya sudah dibantah kebenarannya oleh orang-orang yang ahli dibidangnya, tapi sayangnya orang yang menyebarkan HOAX semacam itu tidak pernah merasa perlu repot-repot untuk mengoreksi informasi palsu yang pernah mereka sebarkan sebelumnya.

Saya sangat senang ketika pemerintah mengatakan bahwa penyebar HOAX mengenai hujan zat radioaktif itu diancam dengan hukuman denda satu miliar karena menyebarkan informasi palsu. Bukan karena isi dari informasi iseng itu, tapi efek dari keisengannya itu membuat kepanikan orang-orang yang tidak mengerti dan tidak tahu ke mana harus mempertanyakan kebenaran berita tersebut. Saya berharap pelakunya dapat segera tertangkap dan membuat orang-orang yang suka membuat berita-berita serupa bisa kapok dan tidak akan melakukan hal yang sama lagi.

Jujur saja, di negara ini, belom banyak orang yang pintar. Kebanyakan orang hanya akan menelan berita itu mentah-mentah, dan mempercayai begitu saja apa yang mereka dengar dari orang yang mereka kenal. Orang-orang ini tidak pernah menonton berita di TV, atau mencari informasi yang akurat di internet, tapi mengandalkan kata-kata orang yang mereka kenal yang mereka pikir lebih tahu tentang dunia luar. Itulah yang menyebabkan HOAX yang dikirim lewat SMS, e-mail, instant messenger, dll lebih mengena efeknya daripada berita di TV.

Bukan cuma sekali ini saja kejadian HOAX yang dikirim lewat ponsel (baik berupa email, messenger maupun SMS) membuat banyak orang menjadi panik. Beberapa tahun yang lalu ada hoax mengenai nomer setan atau red number yang bisa membuat orang yang menerimanya mati atau kena sial. Orang-orang ketakutan setengah mati kalau dapat SMS atau telpon dari nomer dengan angka tersebut. (Si Onyed malah mengejar angka-angka ajaib semacam itu buat dijual lagi sebagai nomer cantik). Saking ketakutannya, beberapa orang beneran jadi gila karena takutnya (eh serius ini kisah nyata). Pada akhirnya terbukti kalau itu hanyalah kerjaan iseng anak-anak yang ga ada kerjaan.

Lalu ada hoax tentang isu bencana alam, entah itu tsunami atau gunung meletus yang melelerkan lahar, atau banjir yang sebenarnya tidak ada; yang membuat banyak orang eksodus mendadak padahal tidak ada apa-apa. Hasilnya, rumah-rumah kosong malah dijarah orang-orang yang mengambil kesempatan dalam huru-hara. Yang seharusnya bisa adem ayem menjalankan kehidupannya malah mati terinjak-injak orang yang kabur entah karena apa.

Beberapa orang mengira mungkin tidak apa-apa menyebarkan berita semacam itu. Kadang-kadang toh pengirimnya juga tidak terlalu percaya, atau terlalu perduli dengan isi berita tersebut. Tapi, orang-orang seperti ini tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi dengan penerimanya. Orang-orang semacam ini tidak peduli apakah penerimanya akan menerima mentah-mentah atau akan mencari informasi yang sebenarnya mengenai berita tersebut.

Saya pernah menegur seseorang karena mengirimkan HOAX “Anak hilang”, “butuh dana operasi kanker” dan “butuh sumbangan darah”. Saya bertanya apakah itu benar, dan apakah orang yang mengirimi saya berita tersebut benar-benar mengenal orang yang katanya “butuh dana”/”kehilangan anak”/”butuh dana untuk operasi kanker” itu. Tentu saja kemudian dia mengatakan bahwa dia tidak kenal, bahkan tidak tahu apakah berita tersebut akurat atau tidak. Saat saya tegur mengenai hal tersebut dia hanya berkelit dan berkata,

“Tapi bagaimana kalau benar?”

Kenapa dia tidak bertanya, “Bagaimana kalau salah?”

Bagaimana kalau dia berita itu salah? Bagaimana kalau ternyata dia menyebarkan kebohongan yang meresahkan publik? Bagaimana kalau ternyata dia menyebarkan nomer telepon penipu yang hanya ingin mengambil keuntungan dari orang-orang yang sebenarnya berniat baik? Bagaimana kalau pemilik nomer telepon yang disebarkan dalam rantai HOAX itu tidak setuju nomernya disalah gunakan seperti itu? Bagaimana kalau ada orang lain yang tertipu dan malah menjadi celaka karenanya?

Please be wise.

jangan forward berita apapun sebelum kamu tahu berita tersebut benar.

Stop Spreading Hoax

Advertisements

Comments are closed.