Love Or Something Else…

Standard

Saya menghabiskan waktu dua tahun hidup saya mempelajari sesuatu yang tidak saya suka. Kuliah di jurusan yang orang tua saya pikir akan membawa hal-hal baik untuk saya. Kuliah di tempat yang orang tua saya pikir saya akan sukai. Tetapi sebesar keinginan saya membuat mereka senang dengan melakukan hal yang mereka inginkan, sebesar itu pulalah penderitaan saya melakukan hal yang tidak saya inginkan.

Saya dan adik-adik saya adalah jenis orang yang berbeda dengan orang tua kami. Bukan hanya karena generation gap, tapi kami benar-benar menganut paham dan prinsip yang bertolak belakang. Meskipun kami mengerti bahwa segala keputusan yang dibuat oleh orang tua kami adalah berdasarkan keinginan mereka membuat hidup kami menjadi lebih mudah nantinya, tapi kami merasa keputusan itu malah membuat hidup kami terasa lebih sulit dari yang seharusnya.

Misalnya, cara mereka memutuskan apa yang boleh atau tidak boleh kami pilih, bahkan setelah kami dewasa. Apa yang boleh kami pelajari, kampus mana yang boleh kami pilih, kesempatan apa yang boleh kami ambil. Kadang kala, hal-hal yang menarik minat kami, sesuatu yang ingin kami lakukan untuk hidup, hanya dilihat sebagai hobi yang tidak serius, atau kegiatan tidak berguna atau bahkan membahayakan.
Beberapa hari yang lalu adik saya ditawari pekerjaan oleh salah satu organisasi yang bergerak dalam bidang konservasi satwa liar, sebagai asisten peneliti. Bisa dibilang cukup hebat (karena sebagai kakak, kalau saya terlalu banyak memuji adik saya, nanti saya bisa dikira sedang menyombong), karena adik saya bahkan belum lulus kuliah. Pekerjaan ini bersifat kontrak selama enam bulan di Pulau Sumatera, dan mengambil lokasi di sebuah hutan cagar alam. Tentu saja, tidak semua orang mendapatkan kesempatan ini dan adik saya menginginkannya.

Tapi orang tua saya melarangnya.

Beberapa tahun sebelumnya saya dan Mon, adik saya yang satu lagi sudah melepaskan beberapa mimpi kami. Saya, melepaskan keinginan untuk belajar desain, dan adik saya melepaskan keinginan untuk kuliah di jurusan elektro. Beberapa tahun ini saya (entah kalau si Mon) bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan seperti: “bagaimana kalau saya tidak melepaskan keinginan itu? Bagaimana kalau saya tetap mengejar mimpi saya itu? Apa yang akan terjadi pada saya sekarang?”

Saya tidak bisa menolong Mon pada waktu itu karena saya sedang bergelut dengan masalah saya sendiri pada waktu itu. Mon, tidak bisa menolong saya karena dia belum mengerti pada saat itu. Tapi kami sekarang mengerti posisi adik saya yang satu lagi, dan dengan berbagai alasan, kami tidak ingin dia mengalami apa yang kami alami. So, mari berharap besok saya bisa memberikan kabar yang baik…

I know my parents love my sister, but I love her too, maybe in a different way.

Advertisements

2 responses

  1. Begitulah kekuasaan mutlak ortu terhadap anak-anaknya Byq… Sebagai anak yang manis tentunya kita harus pandai-pandai negosiasi dong biar ndak dicap kualat meskipun ndak nurut…

    Sama, aku juga baru kejadian gituan dengan emakku, dia bilang mbokya pulang saja, tinggal di desa kumpul lagi sama keluarga, memilih salah satu gadis desa untuk membangun mahligai rumahtangga…. Byuh… what can i do in this small, far away from anywhere village?
    Tapi aku bisa bikin negosiasi yang cantik dong, dan akhirnya tetap melenggang ke Jerman dengan Thomas, hihi…

    Like

    • Jadi kawatir deh, Djo. Kamu aja yang udah punya penghasilan sendiri masih suka diseret-seret pulang kaya gitu, gimana kami yang belom punya penghasilan, coba?

      Bukannya ga mau ketemu keluarga, tapi aku juga sama kaya kamu, ga bisa bayangin apa yang mau dilakuin di sana… Hihihi. Apa jadinya kalo kamu harus terus menerus ke warnet buat ngeblog? Bisa-bisa blog mu jadi tidak terawat…

      Like